Peran Mubalig, Pengurus Masjid, dan Remaja Masjid dalam Mengatasi Kenakalan Remaja

Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin

Ada kegelisahan yang perlahan tumbuh di tengah masyarakat hari ini. Malam tidak lagi selalu menghadirkan ketenangan, tetapi kadang melahirkan kecemasan. Jalan-jalan yang seharusnya menjadi ruang kehidupan berubah menjadi arena kekerasan, tawuran, gengsi kelompok, penyalahgunaan narkoba, balapan liar, hingga perilaku destruktif yang meresahkan masyarakat. Yang lebih menyedihkan, pelakunya banyak berasal dari generasi muda, mereka yang sejatinya adalah harapan masa depan umat dan bangsa.

Kenakalan remaja hari ini bukan sekadar persoalan pelanggaran sosial, tetapi cerminan krisis moral, krisis keteladanan, krisis perhatian, dan krisis spiritual. Banyak remaja tumbuh di tengah derasnya arus digital, tetapi miskin bimbingan. Dekat dengan teknologi, tetapi jauh dari nilai. Ramai dalam pergaulan, tetapi sepi dalam ketenangan jiwa. Padahal Allah SWT. telah mengingatkan:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ
“Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia, dan jangan mengikuti jalan-jalan lain.” (QS. Al-An‘ām: 153)

Ayat ini menegaskan bahwa ketika manusia menjauh dari jalan nilai dan petunjuk Ilahi, maka penyimpangan perilaku akan mudah tumbuh.Karena itu, mengatasi kenakalan remaja tidak cukup hanya dengan hukuman dan kecaman. Remaja tidak hanya membutuhkan pengawasan, tetapi juga pendampingan, perhatian,ruang pengakuan, dan sentuhan kasih sayang. Banyak anak muda menjadi keras bukan karena lahir sebagai pelaku kejahatan, tetapi karena kehilangan arah, kehilangan figur, dan kehilangan tempat pulang bagi jiwanya.

Di sinilah peran mubalig, pengurus masjid, dan remaja masjid menjadi sangat penting. Tentu Mubalig bukan hanya penyampai ceramah, tetapi penjaga moral masyarakat. Dakwah tidak cukup hanya di mimbar, tetapi harus hadir dalam sentuhan sosial, pendekatan kemanusiaan, dan keteladanan hidup. Sebab generasi muda hari ini lebih membutuhkan figur yang mendengar daripada sekadar orang yang berbicara. Rasulullah SAW. bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ “Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Ahmad).
Hadits ini menunjukkan bahwa inti dakwah adalah membangun karakter dan memperbaiki akhlak manusia. Masjid juga tidak boleh hanya hidup saat shalat berjamaah, tetapi harus menjadi pusat pembinaan generasi, pusat ilmu, pusat persaudaraan, dan pusat pemulihan sosial. Masjid harus mampu menjadi tempat yang ramah bagi anak muda, bukan ruang yang membuat mereka merasa asing dan dijauhi.

Karena itu, pengurus masjid dituntut menghadirkan program yang menyentuh kebutuhan remaja: kajian, olahraga, pelatihan keterampilan, ruang kreativitas, konseling keagamaan, hingga kegiatan sosial yang membangun rasa tanggung jawab dan kepedulian.

Begitu pula remaja masjid, BKPRMI, dan organisasi keislaman lainnya harus menjadi pelopor kedamaian sosial, penjaga ukhuwah, dan penggerak perubahan moral di tengah masyarakat. Jangan biarkan generasi muda direbut oleh lingkungan negatif, sementara masjid kehilangan daya tariknya. Ali bin Abi Thalib RA. pernah berkata:
عَلِّمُوا أَوْلَادَكُمْ غَيْرَ مَا عُلِّمْتُمْ فَإِنَّهُمْ خُلِقُوا لِزَمَانٍ غَيْرِ زَمَانِكُمْ
“Didiklah anak-anak kalian sesuai zamannya, karena mereka hidup bukan di zaman kalian.”

Perkataan ini sangat relevan hari ini. Pendekatan kepada remaja harus bijak, humanis, dialogis, dan menyentuh hati mereka. Sebab generasi muda tidak bisa hanya dihakimi, tetapi harus dirangkul dan diarahkan. Karena Kerusakan sosial yang terjadi hari ini sejatinya bukan hanya kegagalan remaja, tetapi juga kegagalan lingkungan dalam menghadirkan pendidikan moral dan keteladanan yang hidup. Ketika rumah kehilangan perhatian, sekolah kehilangan sentuhan nilai, dan masyarakat kehilangan kepedulian, maka jalanan akan mengambil alih pendidikan generasi.

Karena itu, seluruh elemen masyarakat harus bersinergi, mulai dari mubalig, pengurus masjid, tokoh agama, pemerintah, aparat keamanan, keluarga, sekolah, BKPRMI, maupun organisasi Islam lainnya untuk menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, religius, dan penuh kepedulian. Allah SWT. berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Tolong-menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan.” (QS. Al-Mā’idah: 2)

Inilah fondasi membangun kamtibmas yang kondusif. Ketika masyarakat hidup dalam kepedulian, masjid hidup dengan pembinaan, dan generasi muda diberi ruang untuk bertumbuh secara positif, maka kekerasan sosial perlahan dapat ditekan. Karena Sesungguhnya, banyak remaja tidak membutuhkan kemarahan kita, tetapi membutuhkan perhatian kita. Mereka tidak selalu membutuhkan hukuman, tetapi membutuhkan harapan. Dan mereka tidak semuanya buruk, hanya saja sebagian dari mereka sedang tersesat dan menunggu tangan yang mau merangkulnya kembali menuju cahaya.

Maka mari hidupkan masjid, kuatkan dakwah, rangkul generasi muda, dan bangun kembali nilai-nilai akhlak, amanah, serta kepedulian sosial. Sebab masa depan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh kualitas moral generasinya.

Dan sesungguhnya, ketika masjid hidup dengan ilmu, kasih sayang, dan pembinaan, maka masyarakat akan hidup dengan ketenangan, keamanan, dan keberkahan.

#Wallahu A’lam Bish-Shawab

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *