Pascakejatuhan IHSG: Ketika Indonesia, Eropa dan Amerika Sama-sama Kehilangan Kepercayaan

Keterangan foto: Penulis di Ruang Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York — saat menghadiri pembahasan isu politik-ekonomi global sebagai perwakilan Indonesia. (Foto: pribadi)

Dari Tom Lembong hingga Kerusuhan Paris dan Blue Wave di Washington, krisis kali ini bukan soal angka – tapi soal kredibilitas

Oleh: Achmad Hafisz Tohir, Kandidat Doktor, Program Doktor Kepemimpinan, Universitas Brawijaya

Bacaan Lainnya

Dalam dua pekan terakhir, tiga belahan dunia mengalami hal yang sama dengan bahasa yang berbeda: Indonesia kehilangan kepercayaan pasar, Eropa kehilangan kepercayaan jalanan, Amerika kehilangan kepercayaan politik.

Di Jakarta, IHSG anjlok. Di Paris dan Frankfurt, anak muda turun ke jalan. Di Washington, pemilih menghukum partai yang berkuasa.

Tiga peristiwa ini terlihat tidak berhubungan. Padahal, mereka adalah satu cerita yang sama: dunia sedang memasuki era di mana angka resmi tidak lagi dipercaya.

1. Jakarta: Ketika IHSG Menjadi Cermin yang Retak

Pada 15 Oktober 2026, MSCI membuka konsultasi untuk memindahkan Indonesia dari Emerging Market langsung ke Standalone Market lompat dua level, bukan satu.

Keesokan harinya, 16 Oktober, IHSG anjlok -11,57% ke 5.185, terburuk sejak krisis 1998. Kapitalisasi pasar hilang Rp1.141 triliun dalam sehari. Dari puncak 8.647 di akhir 2025, IHSG sudah turun hampir 40%.

Yang membuat kejatuhan ini berbeda dari kejatuhan biasa adalah penyebabnya. Bukan karena ekonomi kita resesi. PDB kita masih tumbuh 5,47% di Q3 2026. Tapi MSCI tidak mempersoalkan PDB. MSCI mempersoalkan tiga hal yang jauh lebih dalam:

Pertama, kepemilikan saham yang buram. Siapa pemilik manfaat akhir dari emiten besar, tidak jelas.

Kedua, dugaan transaksi terkoordinasi. Harga saham emiten besar naik ratusan bahkan ribuan persen, tanpa fundamental yang masuk akal.

Ketiga, free float yang palsu. Sebanyak 327 emiten belum memenuhi free float 15%, padahal tenggatnya 31 Maret 2027.

Inilah yang disampaikan Tom Lembong dalam video yang viral pekan ini. Menurutnya, masalah MSCI hanyalah puncak gunung es. Di bawahnya ada masalah yang lebih besar: kredibilitas angka-angka ekonomi kita.

Apakah klaim Tom Lembong bahwa pertumbuhan 5% itu sebenarnya hanya 3 koma sekian persen itu benar?

Sebagai akademisi, kita harus jujur: tidak ada bukti bahwa BPS memalsukan angka. BPS memakai metodologi yang sama dengan semua negara. IMF masih memproyeksikan pertumbuhan Indonesia di 5,1%.

Tapi Tom Lembong benar soal gejalanya. PDB 5,47% itu benar secara statistik, tapi tidak terasa sebagai kesejahteraan. Kenapa? Karena pertumbuhan itu ditopang belanja pemerintah yang naik 8,95%, sementara rakyat harus membayar beras Rp15.765 per kg dan cabai yang naik 65% dalam setahun.

Inilah yang saya sebut krisis kredibilitas: angka resmi benar, tapi tidak dipercaya — karena tidak menjelma menjadi nasi di piring rakyat dan kepercayaan di pasar modal.

Riset independen Sulco Study (30 Oktober 2026) menghitung peluang Indonesia benar-benar menjadi Standalone adalah 50% — peluang terbesar di antara empat skenario. Artinya, kita berada di persimpangan. Keputusan final MSCI paling lambat 30 Juni 2027. Kita punya waktu 8 bulan untuk membuktikan bahwa reformasi OJK dan BEI — denda Rp2,1 triliun, pengeluaran saham HSC dari IHSG, pengetatan free float — bukan sekadar pengumuman, tapi penegakan.

2. Paris dan Frankfurt: Ketika Inflasi Menjadi Kerusuhan

Sementara Jakarta bergulat dengan kepercayaan pasar, Paris dan Frankfurt bergulat dengan kepercayaan jalanan.

Pada 31 Oktober 2026, 320.000 orang turun ke jalan di seluruh Prancis, termasuk 70.000 di Paris. Ini adalah akhir pekan ketiga berturut-turut. Di Jerman, puluhan ribu anak muda turun di 34 kota, dari Berlin hingga Frankfurt.

Pemicunya terlihat sepele: protes soal sekolah yang kekurangan guru, kelas yang penuh sesak, dan anggaran pendidikan yang dipotong.

Tapi di balik itu, akar masalahnya sama dengan Indonesia: biaya hidup yang tidak lagi terjangkau.

Di Prancis, protes ini bermula dari sekolah, lalu meluas menjadi protes soal harga pangan, sewa rumah, dan daya beli. Di Jerman, gerakan _Gen Z regelt_ — “Gen Z yang mengatur” — menuntut investasi lebih besar untuk pendidikan, perumahan, dan iklim, serta menolak kembalinya wajib militer.

Di Frankfurt, protes yang awalnya damai berubah menjadi penjarahan toko dan pembakaran barikade. Di Paris, polisi menangkap lebih dari 560 orang, gas air mata ditembakkan di Lyon dan Paris.

Di Portugal, inflasi sudah mencapai 3,6% pada September, harga BBM naik 15% year-on-year, harga rumah sudah dua kali lipat sejak 2017.

Apa hubungannya dengan Indonesia?

Hubungannya adalah inflasi global tidak lagi sekadar angka di laporan bank sentral. Inflasi global sekarang sudah menjadi politik jalanan.

Ketika harga pangan naik, pemerintah Eropa tidak bisa lagi berkata “inflasi masih terkendali”. Karena bagi Gen Z di Paris dan Frankfurt, inflasi itu bukan 3%. Inflasi itu adalah: tidak bisa bayar sewa, tidak bisa beli makanan bergizi, tidak bisa melihat masa depan.

Ini pelajaran penting untuk Indonesia. Inflasi kita Oktober 2026 adalah 3,23% — masih dalam sasaran. Tapi inflasi pangan kita 4,82%, volatile food 5,81%. Kalau pemerintah hanya membanggakan angka 3,23% sementara rakyat merasakan harga cabai naik 65%, maka jarak antara angka resmi dan perasaan rakyat akan melebar — persis seperti yang terjadi di Paris.

3. Washington: Ketika Pemilih Menghukum dengan Suara

Dan pada saat yang sama, di Washington terjadi gempa politik yang tidak kalah besar.

Pada 3 November 2026, dalam pemilu sela (midterm), Partai Demokrat merebut Senat dan DPR dari Partai Republik.

Di Senat, Demokrat membalik 7 kursi — Texas, Ohio, Iowa, Kansas, Maine, North Carolina, dan South Carolina — dari yang sebelumnya 53-47 untuk Republik menjadi 54-44 untuk Demokrat. Di DPR, Demokrat meraih setidaknya 258 kursi, jauh di atas 218 yang dibutuhkan untuk mayoritas.

Ini adalah _blue wave_ yang tidak diduga banyak pengamat. Di Texas, Demokrat menang Senat untuk pertama kalinya sejak 1988. Di Kansas, Demokrat menang Senat untuk pertama kalinya sejak 1932.

Keesokan harinya, 4 November, Dow Jones melonjak 1.569 poin karena pasar lega — ketidakpastian politik berkurang.

Tapi sehari kemudian, 5 November, pasar berbalik. Dow anjlok 1.833 poin, Nasdaq anjlok 5,5%, S&P 500 anjlok 4,4%. Nasdaq-100 saja kehilangan 2,3 triliun dolar AS dalam sehari. Nvidia turun 9%, AMD turun 17%.

Kenapa? Karena investor tiba-tiba sadar: Kongres yang dikuasai Demokrat kemungkinan akan memperketat regulasi pembangunan pusat data AI, memperketat pengawasan belanja infrastruktur AI, dan memperlambat boom AI yang selama ini menjadi mesin utama kenaikan saham Amerika.

Artinya, di Amerika pun, pasar tidak lagi digerakkan oleh fundamental perusahaan, tapi oleh politik.

Persis seperti di Indonesia, di mana IHSG tidak digerakkan oleh laba perusahaan, tapi oleh kepercayaan terhadap tata kelola.

4. Tiga Krisis, Satu Akar: Krisis Kepercayaan

Jika kita tarik benang merahnya, tiga peristiwa ini, IHSG anjlok di Jakarta, kerusuhan di Paris dan Frankfurt, dan blue wave di Washington , memiliki satu akar yang sama:

Kesenjangan antara angka resmi dan pengalaman hidup rakyat.

– Di Indonesia, PDB 5% tidak sama dengan daya beli rakyat.
– Di Eropa, inflasi 3% tidak sama dengan kemampuan bayar sewa anak muda.
– Di Amerika, pertumbuhan saham AI tidak sama dengan kesejahteraan pemilih.

Dan ketika kesenjangan itu terlalu lebar, kepercayaan runtuh. Pasar menjual saham. Anak muda turun ke jalan. Pemilih menghukum partai berkuasa.

Inilah yang disebut ekonom Dani Rodrik sebagai trilema globalisasi: kita tidak bisa sekaligus memiliki globalisasi penuh, kedaulatan negara, dan demokrasi — salah satunya harus dikorbankan. Dan hari ini, yang dikorbankan adalah kepercayaan.

5. Lalu, Bagaimana Kelanjutan Ekonomi Indonesia?

Dari sini, ada tiga skenario untuk Indonesia pasca-anjloknya IHSG:

_Skenario 1: Reformasi Dipercaya (Peluang 15%)_
OJK dan BEI berhasil membuktikan penegakan, bukan sekadar pengumuman. MSCI mempertahankan status Emerging Market. Dana asing kembali. IHSG pulih bertahap. Ini skenario terbaik, tapi butuh bukti penegakan yang terlihat sampai April 2027.

Skenario 2: Status Quo Diperpanjang (Peluang 25%)

MSCI memperpanjang konsultasi karena reformasi berjalan tapi belum cukup. Pasar tetap volatile, tapi tidak collapse. Indonesia hidup dalam ketidakpastian yang berkepanjangan.

Skenario 3: Standalone (Peluang 50%)
MSCI memindahkan Indonesia ke Standalone. Dana pasif keluar 4,3 – 5,6 miliar dolar AS, dana aktif bisa sampai 10 – 14 miliar dolar AS. IHSG tertekan lebih dalam, Rupiah melemah, biaya utang naik. Tapi ini bukan akhir dunia, Argentina sudah Standalone sejak 2021 dan masih hidup. Yang hilang bukan ekonomi kita, tapi kemudahan akses modal murah.

Apapun skenarionya, ada satu hal yang pasti: Indonesia tidak bisa lagi mengandalkan cara lama.

Kita tidak bisa lagi mengandalkan PDB 5% sebagai tameng. Kita tidak bisa lagi mengandalkan lobi ke MSCI sebagai solusi. Kita tidak bisa lagi mengandalkan pertumbuhan yang ditopang belanja pemerintah.

Yang harus kita bangun sekarang adalah tiga fondasi yang hilang dalam dua pekan ini:

Pertama, fondasi kredibilitas._ Bukan sekadar angka yang benar, tapi angka yang bisa dipercaya, karena penegakan hukumnya terlihat.

Kedua, fondasi daya beli. Bukan sekadar inflasi yang rendah, tapi pangan yang terjangkau,  karena inflasi pangan adalah inflasi yang paling politik.

Ketiga, fondasi kapasitas digital yang bisa diekspor. Bukan sekadar ekonomi digital yang besar karena 229 juta orang belanja online, tapi ekonomi digital yang menghasilkan produk yang bisa dijual ke dunia, karena di situlah nilai tambah yang sebenarnya.

Jika tiga fondasi ini kita bangun saat normal, maka saat krisis datang — seperti dua pekan terakhir — kita tidak hanya bertahan. Kita bisa memilih.

Dan kemampuan untuk memilih itulah yang membedakan negara yang dipimpin dari negara yang hanya hanyut.

Tentang Penulis: Achmad Hafisz Tohir; Kandidat Doktor, Program Doktor Kepemimpinan, Universitas Brawijaya. Pernah hadir sbg perwakilan Indonesia dlm pembahasan isu politik-ekonomi global di Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *