‘Barang Siapa Beriman pada Allah dan Hari Akhirat maka Hendaknya Berbicara Baik atau Diam, Jangan Sakiti Tetangga serta Memuliakan Tamu’

PESAN HIKMAH:

Oleh: Munawir Kamaluddin, Dosen UIN Alauddin Makassar

Bacaan Lainnya

مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَومِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، ومَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ) رَوَاهُ اْلبُخَارِي وَمُسْلِمٌ.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik atau (kalau tidak bisa hendaknya) dia diam. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

PENJELASAN PESAN HIKMAH( PPH):

Pesan Hikmah ini, yang diungkapkan oleh Rasulullah SAW. memiliki dimensi yang mendalam dan menawarkan pandangan holistik terhadap prinsip-prinsip moral yang mendasari tindakan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Mari kita telaah setiap kalimatnya dengan cermat:

1. “مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ” (“Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir”):

Kalimat ini menegaskan bahwa moralitas yang dijelaskan berakar pada iman kepada Allah dan keyakinan akan hari kiamat. Ini menegaskan pentingnya moralitas yang berasal dari keyakinan yang kuat terhadap prinsip-prinsip agama.

2. “فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ” (“Maka hendaknya dia berbicara yang baik atau (kalau tidak bisa hendaknya) dia diam”):

Pesan ini menekankan pentingnya berbicara dengan kata-kata yang baik dan bermanfaat. Jika seseorang tidak mampu berbicara dengan baik, lebih baik bagi mereka untuk diam. Ini menunjukkan pentingnya pengendalian diri dalam komunikasi.

3. “وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاليَومِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ” (“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah ia menyakiti tetangganya”):

Ini menggarisbawahi pentingnya etika dalam hubungan sosial, khususnya dengan tetangga. Seseorang yang beriman harus menghindari menyakiti atau mengganggu tetangganya, baik secara fisik maupun emosional.

4. “وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ” (“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia memuliakan tamunya”):

Pesan ini menyoroti pentingnya keramahan dan penghormatan terhadap tamu. Menjadi tuan rumah yang baik adalah bagian dari nilai-nilai moral yang tercermin dalam keyakinan kepada Allah dan hari akhir.

Dengan demikian, pesan ini menawarkan pandangan holistik tentang moralitas dalam Islam, yang tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga dengan hubungan sosial mereka dengan sesama manusia. Hal ini menggambarkan pentingnya etika yang kokoh, baik dalam perkataan maupun perbuatan, serta menekankan nilai-nilai seperti pengendalian diri, empati, dan keramahan.

Hubungan antara ketiga perintah tersebut dengan redaksi kalimat sebelumnya yang menyatakan “barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian” adalah bahwa ketiga perintah tersebut adalah implikasi langsung dari iman yang kokoh kepada Allah dan kepercayaan pada hari pembalasan.

1. Berbicara yang baik atau diam:
Ketika seseorang memiliki iman yang kuat kepada Allah dan keyakinan akan hari pembalasan, ia menyadari bahwa setiap perkataan yang diucapkannya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Oleh karena itu, ia akan berbicara dengan penuh kehati-hatian dan berusaha untuk menghindari kata-kata yang menyakiti atau menimbulkan fitnah. Jika tidak mampu berbicara yang baik, ia akan memilih untuk diam, mengingat bahwa diam juga lebih baik daripada mengucapkan kata-kata yang buruk.

2. Tidak menyakiti tetangga:
Iman yang kokoh kepada Allah dan hari pembalasan juga mempengaruhi cara seseorang berinteraksi dengan tetangga. Mereka yang beriman menyadari bahwa perlakuan buruk terhadap tetangga akan dimintai pertanggungjawaban di hari pembalasan. Oleh karena itu, mereka akan berusaha untuk tidak menyakiti tetangga dan bahkan berusaha untuk memuliakan mereka.

3.Memuliakan tamu:
Penghormatan terhadap tamu juga merupakan bagian dari prinsip iman kepada Allah dan hari pembalasan. Orang yang beriman menyadari bahwa setiap tindakan baik, termasuk memuliakan tamu, akan dihitung sebagai amal kebaikan di hari pembalasan. Oleh karena itu, mereka akan berusaha untuk menyambut tamu dengan hangat dan memperlakukan mereka dengan hormat.

Walhasil, ketiga perintah tersebut merupakan konsekuensi logis dari iman yang kokoh kepada Allah dan keyakinan pada hari pembalasan. Mereka mencerminkan tanggung jawab moral dan etika yang melekat pada seorang yang beriman, yang mengarah pada perilaku yang baik dan saling menghormati dalam berinteraksi dengan sesama manusia.

Dari penjelasan diatas maka ada beberapa implikasi yang dapat ditimbulkan jika hal itu dapat diterapkan terutama pada implikasi spiritual dan sosial:

Implikasi Spiritual:

1. Penguatan Iman dan Taqwa:

Pesan hikmah ini mengingatkan umat Muslim untuk selalu mengaitkan tindakan mereka dengan keyakinan kepada Allah dan hari akhir. Hal ini memperkuat iman dan taqwa karena setiap tindakan di dunia dipandang memiliki konsekuensi di akhirat.
Menyadari bahwa setiap perkataan dan perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hari akhir, seseorang akan lebih berhati-hati dalam bertindak, memotivasi untuk lebih banyak berbuat baik dan menjauhi perbuatan yang dilarang.

2. Pengendalian Diri:

Ajakan untuk berbicara yang baik atau diam mengajarkan pentingnya pengendalian diri dalam komunikasi. Ini membentuk karakter yang lebih sabar, bijaksana, dan penuh kasih sayang, mencerminkan kualitas akhlak yang mulia dalam Islam.

3. Kesadaran Akan Kehadiran Allah:

Pesan hikmah ini menanamkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap tindakan hamba-Nya. Hal ini mengarahkan individu untuk selalu merasa diawasi dan didampingi oleh Allah, yang pada gilirannya meningkatkan kualitas ibadah dan ketaatan.

Implikasi Sosial:

1. Harmonisasi Kehidupan Sosial:

Melarang menyakiti tetangga dan memuliakan tamu menciptakan lingkungan sosial yang harmonis dan penuh rasa hormat. Ini mendorong toleransi, kepedulian, dan keharmonisan antar tetangga, yang sangat penting dalam masyarakat majemuk.

2. Peningkatan Kualitas Hubungan Antar Manusia:

Dengan berbicara yang baik atau diam, hubungan antar individu menjadi lebih baik dan minim konflik. Ini mengurangi potensi perselisihan dan memupuk komunikasi yang sehat dan konstruktif dalam masyarakat.

3. Budaya Ramah Tamu:

Memuliakan tamu menciptakan budaya keramahan yang mendalam dalam masyarakat. Ini memperkuat ikatan sosial dan menciptakan lingkungan yang hangat dan menyambut, yang memperkuat jaringan sosial dan komunitas.

4. Tanggung Jawab Moral:

Menyadari bahwa tindakan kita terhadap tetangga dan tamu adalah refleksi dari iman kita, mendorong individu untuk bertindak dengan integritas dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Ini membantu menciptakan masyarakat yang bertanggung jawab dan etis.

Dengan demikian, implikasi spiritual dan sosial dari pesan hikmah ini sangat luas dan mendalam, membentuk individu yang berakhlak mulia dan menciptakan masyarakat yang harmonis, penuh toleransi, dan saling menghormati. Pesan ini tidak hanya relevan untuk kehidupan sehari-hari tetapi juga mengarahkan pada kehidupan yang lebih bermakna dan bertujuan sesuai dengan nilai-nilai Islam.

SEMOGA BERMANFAAT

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.