Oleh: Munawir Kamaluddin, Guru Besar UIN Alauddin
Hustle culture adalah budaya yang mengagungkan kerja keras, kesibukan, dan pencapaian tanpa batas sebagai ukuran keberhasilan. Istirahat dianggap kemalasan, sementara terus bekerja dipandang sebagai kehebatan. Padahal, masalahnya bukan pada kerja keras, melainkan ketika ambisi menguasai kehidupan dan manusia kehilangan kemampuan menikmati hasil perjuangannya.
Kita hidup dalam zaman ketika kesibukan menjadi simbol kesuksesan. Kita terus berlari, bukan selalu karena tahu tujuan, melainkan karena takut tertinggal. Sibuk mengejar pengakuan, membandingkan diri dengan orang lain, hingga lupa bahwa kebahagiaan tidak selalu berada di garis finis.
Ironisnya, penghasilan meningkat, tetapi ketenangan berkurang; karier berkembang, tetapi kebersamaan keluarga terabaikan. Tekanan kerja tanpa batas bahkan dapat memicu stres berkepanjangan dan burnout. Kita begitu sibuk mengejar kehidupan yang lebih baik, sampai lupa menikmati kehidupan yang sedang kita miliki.
Secara filosofis dan spiritual, manusia bukan mesin produksi yang nilainya ditentukan oleh pencapaian. Bekerja adalah ikhtiar, tetapi hidup juga membutuhkan istirahat, kasih sayang, ibadah, dan ketenangan batin. Ambisi menjadi bermakna ketika membawa manfaat, bukan ketika membuat kita kehilangan kesehatan, keluarga, dan kedekatan kepada Sang Pencipta.
Solusinya bukan berhenti bekerja keras, melainkan menata kembali orientasi hidup, menetapkan batas, berhenti membandingkan diri secara berlebihan, mensyukuri yang dimiliki, dan menyediakan waktu bagi orang-orang tercinta. Sebab, keberhasilan bukan hanya tentang apa yang berhasil diraih, tetapi juga apa yang tetap mampu kita jaga.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar matahari hingga lupa menikmati cahaya hari ini. Jangan sampai kita memenangkan perlombaan dunia, tetapi kehilangan kedamaian dalam diri sendiri.
Sehingga dengan demikian, hidup bukan sekadar tentang seberapa jauh kita melangkah, melainkan seberapa bermakna perjalanan kita, seberapa besar manfaat yang diberikan, dan seberapa bahagia kita menjalaninya.






