Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI, PKS, Kalimantan Selatan I
Pernahkah kita merenungi sebuah metafora indah sekaligus mengerikan ini?
“Luka karena sabetan pedang masih bisa diobati, namun bila lisan yang melukai, ke mana obat hendak dicari?”
Pedang hanya memotong daging dan tulang. Waktu akan menyembuhkan lukanya, dan ingatan akan memudar. Namun, kata-kata yang terucap dari lisan—terutama yang diketikkan melalui jari-jari kita di layar kaca—ia menembus langsung ke dalam qalbu (hati). Ia meracuni jiwa, menghancurkan harga diri, dan membunuh harapan. Luka itu tak berdarah, namun nanahnya adalah trauma yang mungkin tak akan pernah sembuh seumur hidup.
Di era modern ini, kita tidak lagi membawa pedang ke medan perang. Kita membawa *lsmartphone. Jempol kita adalah pedang, dan layar kaca adalah medan perangnya. Kata-kata adalah mantra.
Ia bukan sekadar suara atau susunan huruf, melainkan energi yang mampu mengubah takdir, membangun peradaban, atau menghancurkan kehidupan seseorang dalam hitungan detik.
DALIL: CERMINAN HATI DAN CATATAN MALAIKAT
Rasulullah SAW bersabda: “Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisannya.” (HR. al-Bukhari).
Mengapa keselamatan manusia bertumpu pada satu organ kecil seukuran jari ini? Karena lisan adalah remote control dari seluruh anggota tubuh. Rasulullah SAW pernah bersabda kepada Mu’adz bin Jabal:
“Maukah aku beritahukan kepadamu tentang pokok segala perkara, tiangnya, dan puncaknya? … Maukah aku beritahukan kepadamu tentang penguasa dari semua itu? Yaitu lisan.” (HR. Tirmidzi).
Setiap ketikan, setiap bisikan, setiap cuitan, tidak pernah hilang dari alam semesta. Ia direkam oleh dua malaikat yang tak pernah tidur.
“…Tidak ada suatu ucapan yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS. Qaf: 18).
Allah Ta’ala berfirman, memberikan standar emas bagi seorang mukmin:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang BESAR.” (QS. Al-Ahzab: 70-71).
Dan bagi mereka yang menjadikan lisannya (atau akunnya) sebagai senjata untuk menyakiti orang lain tanpa bukti, Allah memberikan ancaman yang sangat keras:
“Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab: 58).
KISAH SEJARAH: TRAGEDI AL-IFK DAN BAHAYA “VIRAL”
Mari kita tarik mundur ke sejarah Islam, pada peristiwa Al-Ifk (Kisah Fitnah terhadap Aisyah r.a.).
Saat itu, Aisyah r.a. dituduh melakukan skandal oleh kaum munafik. Yang paling menyakitkan, rumor itu tidak hanya disebarkan oleh musuh Islam, tetapi turut disebarkan oleh sebagian orang-orang beriman hanya karena ikut-ikutan, asumsi, dan kebiasaan mendengar berita tanpa tabayyun (cek dan ricek). Mereka berkata, “Kami hanya mendengar dan melihat, kami hanya menyebarkan apa yang ada di masyarakat.”
Bayangkan, seorang Ummul Mukminin (Ibu dari orang-orang beriman), wanita suci, dihujani mantra-mantra kotor dari lisan dan tulisan manusia. Hatinya hancur, tubuhnya sakit, dan air matanya tak kunjung kering.
Allah Ta’ala turun langsung dari langit ketujuh untuk membela kehormatan Aisyah dan menegur keras umat Islam yang kala itu “turut serta dalam buzzer fitnah” tersebut. Allah turunkan QS. An-Nur ayat 11-19, dan salah satu puncaknya adalah peringatan keras di QS. Al-Ahzab: 58 (seperti yang disebutkan di atas).
Pelajaran Abadi: Di zaman kita sekarang, “kaum yang ikut menyebarkan rumor” itu adalah kita yang dengan mudah menekan tombol Share, Retweet, atau Forward di grup WhatsApp tanpa memverifikasi kebenarannya. Kita merasa tidak berdosa karena “hanya membagikan”, padahal kita sedang memikul dosa jariyah yang memikul beban dosa orang lain yang difitnah.
KONTEKS KEKINIAN: JEMPOL YANG LEBIH TAJAM DARI PEDANG
Saudaraku, hari ini kita hidup di zaman di mana “mantra” itu bernama: Cancel Culture, Cyberbullying, Hoaks, Ghibah Digital, dan Flexing.
1. Ghibah Digital: Menggunjing aib orang lain di kolom komentar atau membuat thread (utas) untuk mempermalukan seseorang.
2. Namimah (Adu Domba): Menjadi buzzer atau penyebar kebencian yang memecah belah persaudaraan umat, bahkan politik identitas.
3. Ucapan Sia-sia & Buruk: Konten-konten yang menormalisasi maksiat, pamer aurat, flexing harta yang membuat orang lain iri dan berprasangka buruk, hingga kata-kata kasar di kolom komentar yang dianggap sebagai “candaan” atau “kebebasan berekspresi”.
Ingatlah, jari-jarimu adalah lisanmu yang kedua.
Layar smartphone hanyalah cermin. Apa yang kau ketik dengan penuh kebencian, sesungguhnya sedang memantulkan kebusukan yang ada di dalam hatimu sendiri.
“Ucapkan hal yang baik, karena sesungguhnya lisanmu adalah cerminan hidup & karakter hatimu.”
Jika hatimu dipenuhi dengki, maka jempolmu akan mengetik fitnah.
Jika hatimu dipenuhi kesombongan, maka jempolmu akan mengetik flexing dan merendahkan orang lain.
Namun, jika hatimu dipenuhi iman dan kasih sayang, maka jempolmu akan mengetik doa, nasihat, dan penghiburan bagi mereka yang sedang patah hati.
MUHASABAH: WAKTUNYA QIAMUL LAIL
Saudaraku, bagaimana cara kita membersihkan “pedang” dan “mantra” kita yang mungkin selama ini telah terlanjur melukai banyak hati, baik secara langsung maupun melalui layar kaca?
Jawabannya ada di keheningan malam.
Waktunya menjalankan ibadah shalat QIAMUL LAIL!
Mengapa harus Tahajjud?
Karena di atas sajadah, dalam sujud yang panjang di sepertiga malam, di saat seluruh dunia tertidur dan notifikasi *smartphone* telah mati, di situlah *qalbu* dipaksa untuk jujur.
Ketika kita menangis memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa lisan kita, Allah akan mengikat lidah dan jari-jari kita di siang harinya.
Orang yang terbiasa berbisik lembut memohon ampunan di hadapan Raja Semesta Alam di malam hari, tidak akan mungkin tega menggunakan lisannya untuk membentak ibu-bapaknya, menyakiti istrinya, atau menghancurkan reputasi orang lain di siang hari.
Qiyamul Lail adalah “reset factory” bagi hati yang keracunan oleh racun-racun dunia maya dan kebisingan dunia. Ia adalah benteng pertahanan agar lisan kita tidak lagi menjadi mantra penghancur, melainkan menjadi mantra penyejuk (Qaulan Layyina), mantra kebenaran (Qaulan Sadida), dan mantra yang indah (Qaulan Baligha).
PENUTUP: MANTRA SEORANG MUKMIN
Sebelum kita memejamkan mata atau melangkah ke sajadah, mari kita tanamkan “Mantra” baru dalam hidup kita, sebagaimana firman dan sabda-Nya:
* Jika ingin bicara, ucapkan Qaulan Sadida (Perkataan yang benar/berbobot).
* Jika ingin menasihati, ucapkan Qaulan Baligha (Perkataan yang tepat sasaran/menyentuh).
* Jika ingin memberi, ucapkan Qaulan Ma’rufa (Perkataan yang baik/menghibur).
* Jika berbicara pada orang tua/pasangan, ucapkan Qaulan Karima (Perkataan yang mulia/hormat).
* Jika berhadapan dengan orang bodoh/pendengki, ucapkan Qaulan Layyina (Perkataan yang lemah lembut).
* Dan jika tidak mampu melakukan kelima hal di atas… maka DIAM EMAS.
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau lebih baik diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Semoga Allah SWT senantiasa membersihakan lisan kita, menjauhkan kita dari fitnah digital, dan menjadikan setiap ketikan serta ucapan kita sebagai amal jariyah yang memberatkan timbangan kebaikan di Yaumil Hisab.






