Hari ini, 7 Oktober 2026, Kanda Prof Dasco genap berusia 59 tahun. Di hari istimewa ini, saya ingin menulis sesuatu yang lebih personal. Bukan sekadar ucapan selamat ulang tahun, tetapi sebuah catatan tentang perjalanan mengenal sosok Kanda dari dekat dalam lintasan perjalanan saya sendiri.
Dari masa ketika saya masih aktif sebagai aktivis dan wartawan TV Parlemen, sampai hari ini ketika saya dipercaya menjadi Ketua Umum DPP Pemuda LIRA.
Bagi saya, mengenal seorang tokoh politik tidak cukup hanya dari jabatan yang tertulis di kartu nama. Tidak cukup pula hanya melihat seseorang ketika berdiri di podium, berbicara dalam rapat, atau memberikan pernyataan kepada media; wawancara.
Justru seorang tokoh lebih banyak terbaca dari cara dia menghadapi situasi, cara menjawab pertanyaan, cara mengambil keputusan, cara memperlakukan orang lain, dan bagaimana dia menempatkan dirinya ketika berada di tengah dinamika politik yang tidak pernah sederhana.
Di situlah saya mengenal Kanda Prof Dasco. Mengenalnya lebih dekat.
Saya pertama kali mengenal beliau dalam perjalanan sebagai aktivis. Kemudian di tahun 2015 sebagai wartawan TV Parlemen. Saat itu posisi saya tentu berbeda dengan hari ini. Saya datang membawa pertanyaan, mencari informasi, mengejar berita, melakukan wawancara, membaca situasi politik, dan mencoba memahami bagaimana keputusan-keputusan di parlemen bekerja.
Dalam posisi sebagai wartawan, saya belajar bahwa satu kalimat seorang politisi bisa menjadi berita besar. Karena itu, saya selalu memperhatikan bukan hanya apa yang dikatakan, tetapi juga bagaimana seorang tokoh menyampaikannya.
Dan dari berbagai kesempatan wawancara dengan Kanda Dasco, saya melihat satu pola yang sangat khas.
Tenang. Tidak terburu-buru. Terukur. Penuh kehati-hatuan.
Kanda Prof Dasco bukan tipe orang yang menurut saya mudah terbawa suasana. Dalam politik yang sering kali penuh riuh, perdebatan, tekanan, dan berbagai kepentingan, beliau cenderung menampilkan gaya komunikasi yang terkendali.
Kadang jawaban beliau pendek. Kadang sederhana.
Tetapi kalau kita membaca kembali konteks pernyataannya, melihat perkembangan politik setelahnya, lalu mencermati langkah yang diambil, sering kali ada pesan yang jauh lebih besar di balik pernyataan tersebut.
Itulah salah satu hal yang sejak dulu menarik perhatian saya sebagai wartawan. Ada perbedaan antara orang yang sekadar berbicara politik dengan orang yang menjadikan politik sebagai proses berpikir dan pengambilan keputusan.
Saya melihat Kanda Dasco berada dalam ruang yang kedua itu. Tentu, saya tidak selalu berdiskusi panjang dengan beliau tentang gagasan kebangsaan. Bahkan bisa dikatakan, interaksi kami lebih banyak berlangsung dalam konteks pekerjaan jurnalistik, wawancara, kegiatan parlemen, dan dinamika politik yang sedang berlangsung.
Namun justru dari wawancara-wawancara itulah saya mendapatkan banyak potongan puzzle.
Dari jawaban-jawaban yang disampaikan, dari cara beliau membaca persoalan, dari bagaimana beliau memberikan respons terhadap isu yang sedang berkembang, saya kemudian memahami bahwa perjalanan politik seseorang tidak selalu harus dijelaskan melalui pidato panjang.
Kadang karakter politik seseorang justru terlihat dari bagaimana ia memilih satu kalimat pada saat yang tepat.
Dan Kanda Dasco punya gaya seperti itu. Kalau saya boleh menggunakan analogi, politik Kanda Dasco seperti permainan catur.
Bukan karena saya ingin menyamakan politik dengan permainan untuk menang-kalah, tetapi karena ada satu karakter yang menurut saya terlihat: sebelum melangkah, banyak hal harus diperhitungkan.
Kalau bidak catur bergerak satu langkah, pemainnya harus memperhitungkan posisi lawan, posisi sendiri, kemungkinan langkah berikutnya, dan konsekuensi yang mungkin terjadi.
Begitu pula yang saya lihat dari Kanda. Berpikir puluhan kali, bahkan kalau perlu ratusan kali, untuk kemudian melangkah sekali.
Langkahnya mungkin terlihat sederhana dari luar. Tetapi proses menuju langkah itu tentu tidak sederhana.
Dan menurut saya, itulah salah satu pelajaran paling penting yang saya dapat dari perjalanan mengenal beliau.
Dalam politik, tidak semua persoalan harus dijawab dengan suara paling keras. Tidak semua kritik harus dibalas dengan emosi.
Tidak semua isu harus langsung ditanggapi. Dan tidak semua langkah harus diumumkan sejak awal.
Ada waktunya bicara. Ada waktunya mendengar. Ada waktunya menjelaskan. Dan ada waktunya menunggu momentum.
Kanda Dasco memperlihatkan gaya politik yang banyak bekerja di wilayah perhitungan, konsolidasi, komunikasi, dan ketenangan.
Secara perjalanan politik, Kanda bukan orang yang tiba-tiba muncul di panggung nasional. Ia tercatat terlibat dalam proses awal Partai Gerindra dan sejak 2008 menjadi bagian dari struktur pimpinan partai. Dalam perjalanan berikutnya, ia terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2014–2019, kemudian menjadi Wakil Ketua DPR RI periode 2019–2024, dan kembali dipercaya sebagai Wakil Ketua DPR RI periode 2024–2029. Di internal Gerindra, ia juga tercatat sebagai Wakil Ketua Umum dan Ketua Harian DPP Partai Gerindra.
Perjalanan tersebut tentu tidak berdiri sendiri. Ada proses panjang sebelum seseorang sampai pada posisi strategis di parlemen dan partai.
Kanda Dasco memiliki latar belakang pendidikan teknik elektro, kemudian melanjutkan pendidikan hukum hingga jenjang doktor. Pengalaman profesionalnya juga bersentuhan dengan dunia hukum dan advokasi, termasuk sebagai senior partner di firma hukum serta terlibat dalam bidang kajian sengketa pemilu.
Latar belakang tersebut ikut menjelaskan mengapa dalam banyak isu politik, hukum dan ketatanegaraan, pendekatan Kanda sering terlihat berhati-hati dan argumentatif.
Ketika pertama kali masuk DPR pada 2014, Kanda ditempatkan di Komisi III yang memiliki lingkup kerja hukum, HAM, dan keamanan. Ia juga pernah dipercaya menduduki posisi di Mahkamah Kehormatan Dewan.
Kemudian pada periode 2019–2024, Kanda dipercaya sebagai Wakil Ketua DPR RI. Pada periode 2024–2029, posisi tersebut kembali dipercayakan kepadanya.
Bagi saya, menarik mencermati perjalanan tersebut bukan hanya dari sisi jabatan. Tetapi dari konsistensi prosesnya.
Dari orang yang terlibat dalam pembangunan partai sejak fase awal, masuk parlemen, menjalani kerja-kerja legislasi, kemudian berada dalam struktur pimpinan DPR, hingga menjadi salah satu figur penting dalam struktur Partai Gerindra.
Dalam perjalanan politik itu, Kanda juga menjalankan berbagai peran yang berhubungan dengan organisasi dan konsolidasi politik. Pada 2026, misalnya, dalam sejumlah agenda internal Gerindra, ia menyampaikan pentingnya konsolidasi kader, kedekatan dengan rakyat, menjaga soliditas, dan menghadapi disinformasi di ruang digital.
Di parlemen, ruang kerja Kanda Prof Dasco juga tidak hanya berkaitan dengan politik praktis.
Pada 2026, misalnya, ia terlibat dalam pembahasan dan komunikasi mengenai agenda legislasi, termasuk revisi UU Pemilu. Dalam sebuah pernyataan pada Januari 2026, ia menegaskan bahwa fokus pembahasan saat itu adalah revisi UU Pemilu, sementara RUU Pilkada belum masuk Prolegnas Prioritas 2026.
Dalam bidang kebijakan ekonomi, pada Juni 2026 Kanda juga memimpin pertemuan yang mempertemukan DPR, pemerintah, otoritas fiskal, dan otoritas moneter untuk mengevaluasi perkembangan ekonomi nasional dan mendorong koordinasi kebijakan.
Dari sini saya melihat satu hal yang menarik. Politik pada level pimpinan nasional bukan hanya tentang panggung. Ada pekerjaan yang panjang dan kadang tidak terlihat kamera.
Ada rapat. Ada konsolidasi. Ada negosiasi. Ada komunikasi lintas lembaga. Ada membaca situasi. Ada menentukan kapan sebuah isu perlu disampaikan kepada publik dan kapan sebuah persoalan harus diselesaikan terlebih dahulu melalui komunikasi internal.
Sebagai orang yang pernah berada di balik kamera sebagai wartawan, saya memahami bahwa publik biasanya hanya melihat hasil akhirnya.
Publik melihat konferensi pers. Publik melihat pernyataan. Publik melihat keputusan. Tetapi publik tidak selalu melihat proses panjang yang terjadi sebelum sebuah pernyataan keluar.
Dan mungkin di situlah saya melihat karakter Kanda Dasco. Tenang di depan, tetapi perhitungan di belakang.
Bukan berarti selalu benar, karena dalam politik dan pemerintahan tidak ada manusia yang selalu benar.
Tetapi pola kerjanya memperlihatkan bahwa setiap langkah politik mempunyai konteks.
Dan sebagai seorang junior yang pernah berinteraksi dengannya dalam kapasitas jurnalistik, saya mendapatkan pelajaran bahwa jangan buru-buru mengambil kesimpulan hanya dari satu potongan peristiwa.
Lihat rangkaiannya. Lihat prosesnya. Lihat konteksnya. Lihat langkah sebelum dan sesudahnya. Itu penting.
Hari ini, ketika saya dipercaya memimpin DPP Pemuda LIRA, saya semakin memahami bahwa pengalaman tersebut mempunyai nilai tersendiri.
Dulu saya bertanya sebagai wartawan. Sekarang saya berada dalam posisi memimpin organisasi kepemudaan dan harus mengambil keputusan, membangun komunikasi, menjaga organisasi, mendengar berbagai pandangan, serta menerjemahkan kepentingan anak muda dan rakyat ke dalam kerja nyata.
Dulu saya mungkin hanya melihat seorang senior dari balik kamera. Sekarang saya memahami bahwa berada dalam kepemimpinan berarti harus belajar menahan diri, mendengar lebih banyak, berpikir lebih panjang, dan baru kemudian mengambil langkah.
Di situlah pengalaman mengenal Kanda Dasco menjadi relevan bagi saya. Saya tidak mengatakan bahwa semua gaya kepemimpinan harus sama. Tidak.
Setiap generasi punya zamannya. Setiap pemimpin punya gayanya. Tetapi dari seorang senior, seorang junior bisa mengambil pelajaran yang sesuai dengan kebutuhannya.
Dan salah satu pelajaran yang saya ambil dari Kanda Dasco adalah: Jangan pernah menganggap ketenangan sebagai kelemahan.
Kadang orang yang paling tenang justru sedang menghitung paling banyak kemungkinan. Kadang orang yang paling sedikit bicara justru sedang mendengar paling banyak. Kadang satu keputusan yang terlihat sederhana merupakan hasil dari proses berpikir yang panjang.
Itulah yang saya maksud ketika saya mengatakan bahwa langkah politik Kanda Dasco seperti permainan catur.
Berpikir berkali-kali, melangkah sekali.
Bagi saya, perjalanan Kanda juga menunjukkan bahwa politik bukan hanya soal bagaimana mendapatkan posisi, tetapi bagaimana mempertahankan kepercayaan melalui kerja yang terus-menerus.
Dari proses awal Gerindra, menjadi bagian dari struktur partai, masuk DPR, bekerja di Komisi III, menjalani tugas di Mahkamah Kehormatan Dewan, kemudian dipercaya menjadi Wakil Ketua DPR dan kembali dipercaya untuk periode berikutnya—semua itu merupakan rangkaian perjalanan politik yang panjang.
Dan di usia 59 tahun ini, perjalanan tersebut tentu belum selesai. Masih ada tanggung jawab. Masih ada tantangan. Masih ada dinamika bangsa yang harus dihadapi.
Bagi saya, generasi muda membutuhkan figur senior bukan untuk selalu mengikuti semua langkah seniornya, tetapi untuk belajar bagaimana mengambil langkah dengan matang.
Senior memberikan pengalaman. Junior membawa energi. Senior memberikan perspektif. Junior membawa keberanian mencoba hal baru. Senior mengajarkan kesabaran. Junior mengingatkan bahwa zaman terus berubah.
Kalau keduanya bertemu dalam ruang dialog yang sehat, maka regenerasi tidak menjadi sekadar slogan. Itu menjadi proses.
Dan saya bersyukur pernah mengenal Kanda Dasco dalam perjalanan saya sebagai aktivis dan wartawan, kemudian hari ini dapat menyampaikan penghormatan sebagai seorang junior yang dipercaya memimpin DPP Pemuda LIRA.
Kita mungkin tidak setiap saat berdiskusi panjang tentang kebangsaan. Tetapi dari pengalaman melihat, mewawancarai, mengikuti berita, dan memperhatikan perjalanan politik beliau, saya mendapatkan banyak pelajaran tentang satu hal yang sangat penting dalam kehidupan publik:
1. Jangan mudah terburu-buru.
2. Baca keadaan.Dengar banyak pihak.
3. Pahami persoalan.
4. Hitung konsekuensi.
5. Jaga komunikasi.
6. Kemudian ambil keputusan.
Dan setelah keputusan diambil, bertanggung jawab atas langkah tersebut. Kanda Prof. Dasco, hari ini saya tidak hanya mengucapkan selamat ulang tahun.
Saya ingin menyampaikan terima kasih sebagai seorang junior kepada seorang senior.
Terima kasih atas keteladanan yang saya lihat sepanjang perjalanan.
Terima kasih atas berbagai pelajaran yang mungkin tidak pernah secara langsung diajarkan dalam sebuah forum khusus, tetapi bisa dipelajari melalui cara seorang senior menjalani perjalanan politiknya.
Semoga usia 59 tahun menjadi momentum untuk terus memperkuat pengabdian.
Semoga selalu diberikan kesehatan, kekuatan, kejernihan dalam mengambil keputusan, dan kesempatan untuk terus memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara.
Dan bagi saya pribadi, ada satu kalimat yang mungkin paling tepat menggambarkan pelajaran yang saya dapat dari perjalanan mengenal Kanda:
Dalam politik, tidak semua langkah harus cepat. Yang jauh lebih penting adalah mengetahui kapan harus melangkah, ke mana harus melangkah, dan untuk kepentingan siapa langkah itu dilakukan.
Selamat Milad, Kanda Prof. Dasco.
Dari seorang junior yang dahulu mengenal Kanda melalui dunia aktivisme dan jurnalistik, dan hari ini mendapat amanah sebagai Ketua Umum DPP Pemuda LIRA.
Semoga perjalanan panjang Kanda terus menjadi bagian dari catatan perjalanan bangsa.
Selamat ulang tahun. Panjang umur, sehat, berkah, dan terus mengabdi untuk Indonesia. 🇮🇩 Aamiin.
Habibie Mahabbah, Ketua Umum DPP Pemuda LIRA (Pernah Jadi Bendahara Umum PB HMI, Wakil Sekjen DPP KNPI, Ketua Umum PII Kabupaten Maros dan Wartawan TV Parlemen)






