Hukum Besi: Kemunculan Pemimpin Besar

Oleh: Toto Izul Fatah, Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA

Sejarah mempunyai hukum besinya sendiri. Pemimpin besar hampir selalu muncul ketika zamannya sedang menghadapi masalah besar.

Bacaan Lainnya

Semakin gelap zaman, semakin cepat lahirnya pemmpin besar yang membawa perubahan. Ia tidak lahir untuk sekadar melanjutkan keadaan yang sudah nyaman.

Ia hadir karena ada ketidakadilan yang harus dilawan, kerusakan yang harus diperbaiki, rakyat yang harus dibebaskan, dan arah kehidupan yang harus diluruskan.

Semakin besar kerusakan sebuah zaman, semakin besar pula kebutuhan masyarakat terhadap pemimpin yang mampu menjawabnya.

Karena itu, pemimpin besar biasanya bukan produk dari keadaan yang tenang. Ia merupakan jawaban atas krisis.
Ia dibentuk oleh penderitaan rakyat, ketidakadilan sosial, kerusakan moral, kekacauan politik, penjajahan, dan peperangan.

Cahaya tidak terlalu dibutuhkan pada siang hari. Cahaya dicari ketika malam sedang gelap. Begitu pula pemimpin besar. Ia paling dirindukan ketika masyarakat sudah kehilangan pegangan dan tidak lagi percaya kepada tatanan yang sedang berjalan.

Sejarah kenabian menunjukkan pola tersebut secara sangat jelas. Para nabi tidak diutus ke tengah masyarakat yang sudah sempurna.

Mereka datang ketika manusia mengalami penyimpangan, kezaliman, kesombongan, kerusakan moral, atau ketidakadilan ekonomi.Setiap nabi seperti membawa obat yang sesuai dengan penyakit utama kaumnya.

Nabi Nuh AS menghadapi masyarakat yang menolak tauhid dan mempertahankan penyembahan terhadap berhala. Penolakan itu tidak terjadi sesaat, melainkan berlangsung sangat lama.

Nabi Hud AS diutus kepada kaum ‘Ad. Mereka dikenal memiliki kekuatan dan kemampuan membangun peradaban, tetapi kemajuan itu melahirkan kesombongan.

Nabi Saleh AS menghadapi kaum Tsamud yang juga memiliki kemampuan membangun kehidupan material. Namun, mereka menolak kebenaran, melampaui batas.

Nabi Luth AS datang ketika penyimpangan moral telah dinormalisasi oleh masyarakatnya. Kerusakan tidak lagi dilakukan dengan rasa malu, tetapi dipertahankan secara terbuka dan kolektif.

Nabi Syuaib AS menghadapi kerusakan yang sangat dekat dengan kehidupan ekonomi. Salah satunya, maraknya praktik kecurangan dalam berbagai bidang.

Nabi Musa AS datang ketika Firaun telah membangun kekuasaan yang sangat refresif. Nabi Isa AS datang di tengah masyarakat yang kehidupan keberagamaannya menghadapi kekakuan dan penyimpangan.

Kemudian Nabi Muhammad SAW diutus dalam masyarakat Arab yang berada pada zaman jahiliah, yang disitu ada fanatisme suku, ada perbudakan dan sikap-sikap jahiliyah lainnya.

Dari rangkaian sejarah tersebut terlihat bahwa para nabi membawa jawaban yang sesuai dengan kebutuhan dan permasalahn zamannya.

Para nabi tidak membawa risalah yang terpisah dari realitas. Mereka hadir tepat pada luka utama masyarakatnya.

Pola serupa terlihat dalam sejarah kepemimpinan dunia. Ada Soekarno yang tampil ketika Indonesia masih berada dalam penjajahan. Karena itu, tuntutan zamannya adalah kemerdekaan.

Di India, ada Mahatma Gandhi yang muncul ketika rakyat hidup di bawah kolonialisme Inggris. Ia memimpin perjuangan melalui perlawanan tanpa kekerasan dan pembangkangan sipil.

Abraham Lincoln tampil ketika Amerika Serikat berada di ambang perpecahan akibat konflik mengenai perbudakan dan pemisahan negara-negara bagian Selatan.

Begitu juga Nelson Mandela yang lahir dari keadaan yang sangat gelap, dimana Afrika Selatan berada di bawah sistem apartheid yang melembagakan diskriminasi rasial.

Bila Indonesia hari ini menghadapi berbagai krisis seperti korupsi yang semakin vulgar, hukum yang kehilangan kepercayaan, kesenjangan ekonomi, pengangguran, dan kerusakan lingkungan, keadaan itu tidak boleh sekadar diratapi.

Krisis harus dibaca sebagai panggilan sejarah.
Boleh jadi, bangsa ini memang sedang memasuki masa ketika pola kepemimpinan lama tidak lagi memadai.

Indonesia membutuhkan pemimpin yang bukan sekadar mampu memenangkan pemilu, tetapi memahami penyakit utama bangsa dan berani memberikan jawabannya.

Kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya kuat secara politik, tetapi juga matang secara moral. Tidak hanya mampu berbicara, tetapi mampu memberi teladan.

Kapan pemimpin seperti itu akan muncul?
Sejarah biasanya tidak langsung memberikan jawabannya. Tokoh besar sering kali belum terlihat ketika proses pembentukannya sedang berlangsung.
Ia bisa muncul dari kalangan mana saja.

Satu hal yang pasti, pemimpin besar tidak lahir hanya karena ambisi pribadi. Ia lahir karena mendengar panggilan zaman.

Hukum besi kemunculan pemimpin besar mengajarkan bahwa setiap zaman mempunyai persoalan dan setiap persoalan memanggil manusia tertentu untuk menjawabnya.

Para nabi datang membawa obat bagi penyakit masyarakatnya. Para pemimpin besar dunia muncul ketika rakyat menghadapi penjajahan, perang saudara, atau diskriminasi.

Karena itu, kita tidak perlu sepenuhnya takut ketika melihat keadaan bangsa sedang gelap. Sejarah para nabi dan bangsa-bangsa besar menunjukkan bahwa masa gelap dapat menjadi rahim bagi lahirnya perubahan.

Inilah hukum besi sejarah. Ketika kerusakan zaman telah mencapai batasnya, kebutuhan terhadap pemimpin besar tidak lagi menjadi pilihan, tetapi
keniscayaan.

Jakarta, Agustus 2026

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *