Menjaga Lisan: Cerminan Iman, Akhlak, dan Kemuliaan Seorang Muslim

Oleh; Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI /F-PKS / Kalimantan Selatan I

“Luka karena pedang mungkin dapat sembuh, tetapi luka karena lisan sering kali membekas seumur hidup.”

Di antara nikmat terbesar yang Allah SWT anugerahkan kepada manusia adalah lisan. Dengannya seseorang dapat mengucapkan kalimat tauhid, membaca Al-Qur’an, berzikir, berdoa, mengajarkan ilmu, menasihati sesama, serta menyebarkan kebaikan. Namun di sisi lain, lisan yang tidak dijaga juga dapat menjadi penyebab kerusakan, permusuhan, fitnah, bahkan mengantarkan seseorang kepada azab Allah SWT.

Oleh sebab itu, Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap adab berbicara. Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan bagaimana berbicara dengan benar, tetapi juga kapan seseorang harus memilih diam.

Lisan dalam Pandangan Al-Qur’an

Allah SWT berfirman:

“Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.” (QS. Qaf: 18)

Ayat ini mengingatkan bahwa setiap kata yang keluar dari mulut manusia tidak pernah luput dari pencatatan malaikat. Tidak ada ucapan yang dianggap sepele di hadapan Allah. Kalimat yang menenangkan hati seseorang akan dicatat sebagai amal kebaikan. Sebaliknya, ucapan yang melukai, menghina, memfitnah, atau menyebarkan kebencian juga akan dipertanggungjawabkan.

Allah SWT juga berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)

Allah kemudian menjanjikan bahwa orang yang menjaga lisannya dengan perkataan yang benar akan diperbaiki amalnya dan diampuni dosanya.

Pesan Rasulullah ﷺ tentang Menjaga Lisan

Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menjadi salah satu prinsip terbesar dalam etika berbicara. Tidak semua yang benar harus diucapkan, apalagi yang tidak benar. Seorang Muslim hendaknya mempertimbangkan manfaat setiap perkataan.

Dalam hadits lain Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang diridhai Allah tanpa menganggapnya penting, namun Allah mengangkat derajatnya karena kalimat itu. Sebaliknya, seorang hamba mengucapkan satu kalimat yang dimurkai Allah tanpa menganggapnya penting, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Bukhari)

Betapa banyak dosa besar berawal dari ucapan yang dianggap sekadar candaan.

Sejarah Teladan Para Sahabat

Para sahabat Nabi sangat berhati-hati menjaga lisan. Abu Bakar Ash-Shiddiq RA sering memegang lidahnya sendiri seraya berkata: “Inilah yang sering membawaku kepada kebinasaan.”

Umar bin Khattab RA pernah berkata: “Barang siapa banyak berbicara, maka banyak pula kesalahannya. Barang siapa banyak kesalahannya, maka banyak dosanya.”

Hasan Al-Bashri juga berpesan: “Lisan seorang mukmin berada di belakang hatinya. Ia berpikir terlebih dahulu sebelum berbicara. Sedangkan orang munafik, lisannya mendahului pikirannya.”

Perkataan para salaf menunjukkan bahwa kehormatan seseorang tidak hanya diukur dari ilmunya, tetapi juga dari kemampuannya mengendalikan lisannya.

Bahaya Lisan

Banyak dosa lahir dari lisan, di antaranya:

1. Ghibah (menggunjing)

2. Fitnah

3. Adu domba (namimah)

4. Dusta

5. Menghina dan mencela

5. Menyebarkan berita tanpa tabayyun

6. Mengolok-olok orang lain

7. Ujaran kebencian

8. Sumpah palsu

9. Kesaksian palsu

Rasulullah ﷺ bahkan menjelaskan bahwa kebanyakan manusia masuk neraka karena hasil ucapan dan perbuatannya yang tidak dijaga.

Menjaga Lisan di Era Digital

Saat ini, lisan bukan hanya apa yang keluar dari mulut, tetapi juga apa yang kita tulis melalui jari-jari di media sosial.

Status, komentar, unggahan, pesan WhatsApp, unggahan di Facebook, Instagram, TikTok, X, maupun platform digital lainnya pada hakikatnya adalah “lisan digital”. Semua itu juga akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Fenomena yang sering terjadi saat ini antara lain:

1. Menyebarkan berita tanpa memastikan kebenarannya.

2. Mudah menghina karena merasa aman di balik layar.

3. Membuat komentar kasar demi mendapatkan perhatian.

4. Menyebarkan aib orang lain.

5. Menghakimi seseorang hanya berdasarkan potongan video.

6. Membuat konten yang memancing permusuhan demi meraih popularitas.

Padahal Allah SWT memerintahkan agar setiap informasi diteliti terlebih dahulu sebelum disebarkan.

Mengapa Menjaga Lisan Semakin Penting Hari Ini?

Di era digital, satu kalimat dapat menjangkau jutaan orang dalam hitungan detik. Ucapan yang dahulu hanya didengar beberapa orang, kini dapat tersebar ke seluruh dunia. Karena itu, tanggung jawab moral seorang Muslim juga semakin besar.

Sebuah komentar yang emosional dapat memicu perpecahan. Sebuah fitnah dapat menghancurkan nama baik seseorang. Sebaliknya, satu kalimat yang menenangkan dapat menjadi sebab hidayah, mempererat persaudaraan, dan menginspirasi banyak orang.

Sebelum berbicara atau menulis, biasakan bertanya pada diri sendiri:

1. Apakah ini benar?

2. Apakah ini bermanfaat?

3. Apakah ini perlu disampaikan?

4. Apakah cara penyampaiannya santun?

5. Apakah Allah ridha dengan ucapan ini?

6. Jika salah satu jawabannya “tidak”, maka diam sering kali lebih mulia.

Cara Melatih Menjaga Lisan

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Perbanyak membaca Al-Qur’an dan berzikir.

2. Biasakan berpikir sebelum berbicara.

3. Hindari majelis yang dipenuhi ghibah dan fitnah.

4. Perbanyak istighfar ketika terlanjur salah berbicara.

5. Jadikan lisan sebagai sarana memberi semangat, mendoakan, dan menyebarkan ilmu.

6. Terapkan adab yang sama saat menulis di media sosial.

Penutup

Menjaga lisan bukan berarti membatasi kebebasan berbicara, melainkan mengarahkan setiap ucapan agar bernilai ibadah. Lisan dapat menjadi jalan menuju surga, tetapi juga dapat menjadi penyebab kehancuran apabila tidak dikendalikan.

Di tengah derasnya arus informasi, maraknya media sosial, dan mudahnya seseorang berkomentar, seorang Muslim dituntut menjadi pribadi yang bijaksana. Mari jadikan setiap ucapan sebagai sumber kebaikan, penyejuk hati, dan perekat persaudaraan.

Semoga Allah SWT senantiasa membimbing lisan kita agar hanya mengucapkan perkataan yang benar, lembut, bermanfaat, dan diridhai-Nya. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *