Oleh: Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI / F-PKS / Kalimantan Selatan I
Di tengah kehidupan yang penuh persaingan, banyak manusia mengejar kesuksesan dengan berbagai cara. Ada yang mengukur sukses dari harta, jabatan, popularitas, dan kemewahan. Namun Islam mengajarkan bahwa rahasia keberhasilan sejati bukan hanya kerja keras, melainkan juga hati yang pandai bersyukur.
Syukur bukan sekadar ucapan di bibir. Syukur adalah cahaya hati, kekuatan jiwa, dan tanda kedekatan seorang hamba kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Orang yang bersyukur akan melihat nikmat dalam setiap keadaan. Ia tidak mudah mengeluh, tidak mudah putus asa, dan tidak mudah iri terhadap kehidupan orang lain.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah Luqman ayat 12:
أَنِ اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ
“Dan barangsiapa yang bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri.”
Ayat ini mengandung pelajaran besar. Syukur sesungguhnya bukan untuk kepentingan Allah, sebab Allah Maha Kaya dan tidak membutuhkan pujian manusia. Syukur justru kembali manfaatnya kepada diri manusia sendiri. Orang yang bersyukur akan mendapatkan ketenangan, keberkahan, dan tambahan nikmat dari Allah.
Syukur yang Mengubah Kehidupan Para Nabi
Sejarah para nabi penuh dengan kisah syukur yang luar biasa. Mereka diuji dengan kesulitan, namun tetap memuji Allah.
Nabi Ayyub Alaihissalam: Bersyukur di Tengah Ujian Berat
Salah satu kisah paling menyentuh adalah kisah Nabi Ayyub. Beliau dikenal sebagai orang kaya, memiliki keluarga besar, ternak melimpah, dan tubuh yang sehat. Namun Allah mengujinya dengan kehilangan harta, wafatnya anak-anak, hingga penyakit berat yang bertahun-tahun lamanya.
Dalam keadaan seperti itu, kebanyakan manusia akan mengeluh dan marah. Tetapi Nabi Ayyub tetap bersabar dan bersyukur. Lidahnya tidak pernah berhenti berdzikir kepada Allah. Hatinya tetap yakin bahwa semua yang datang dari Allah pasti mengandung hikmah.
Karena syukurnya itulah, Allah akhirnya mengangkat seluruh penderitaannya. Allah mengembalikan kesehatan, keluarga, dan hartanya berlipat ganda. Kisah Nabi Ayyub mengajarkan bahwa syukur bukan hanya saat senang, tetapi juga saat diuji.
Nabi Sulaiman Alaihissalam: Raja yang Tetap Rendah Hati
Kisah lain datang dari Nabi Sulaiman, seorang nabi sekaligus raja besar yang diberi kekayaan luar biasa. Beliau memiliki kerajaan megah, pasukan manusia, jin, dan burung.
Namun ketika melihat nikmat Allah, Nabi Sulaiman tidak sombong. Beliau justru berdoa:
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku.”
Inilah pelajaran penting. Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar kewajibannya untuk bersyukur. Banyak manusia gagal menjaga nikmat karena merasa semua keberhasilannya murni hasil usaha sendiri.
Padahal kecerdasan, kesehatan, kesempatan, bahkan napas yang kita hirup adalah pemberian Allah.
Syukur Para Sahabat Nabi
Para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan teladan luar biasa tentang syukur.
Abu Bakar Ash-Shiddiq: Bersyukur dengan Berbagi
Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah seorang saudagar kaya. Namun hartanya tidak membuat beliau cinta dunia. Ketika Islam membutuhkan pertolongan, beliau menginfakkan hampir seluruh hartanya.
Saat ditanya Rasulullah apa yang ditinggalkan untuk keluarganya, Abu Bakar menjawab:
“Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya.”
Itulah bentuk syukur yang nyata. Syukur bukan hanya menikmati nikmat, tetapi menggunakan nikmat untuk jalan kebaikan.
Umar bin Khattab: Menangis Karena Takut Tidak Bersyukur
Umar bin Khattab dikenal sebagai khalifah besar yang disegani dunia. Namun pada malam hari beliau sering menangis karena takut tidak mampu mempertanggungjawabkan amanah dari Allah.
Beliau pernah berkata bahwa jika seekor keledai tergelincir di Irak, ia takut Allah akan menanyakan mengapa jalan itu tidak diperbaiki.
Inilah hati orang yang bersyukur. Ia tidak merasa besar. Ia justru merasa semua nikmat adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Tiga Cara Bersyukur Menurut Islam
Syukur dalam Islam tidak cukup hanya dengan ucapan “Alhamdulillah”. Syukur harus hadir dalam lisan, hati, dan perbuatan.
1. Bersyukur dengan Lisan
Ucapan syukur paling sederhana adalah memuji Allah dengan kalimat Alhamdulillah.
Namun syukur lisan juga berarti menjaga perkataan dari keburukan. Orang yang bersyukur tidak suka mencela, memfitnah, menghina, atau menyakiti hati orang lain.
Allah berfirman:
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu.”
Meminta maaf dan memohon ampun adalah bagian dari syukur. Sebab manusia yang sadar nikmat Allah akan malu berbuat dosa dan menyakiti sesama.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengajarkan:
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau diam.”
Betapa banyak hubungan hancur karena lisan yang tidak dijaga. Dan betapa banyak keberkahan hadir karena ucapan yang lembut dan penuh syukur.
2. Bersyukur dengan Hati
Syukur hati berarti menerima ketentuan Allah dengan ikhlas dan ridha. Hati yang bersyukur tidak selalu bertanya, “Mengapa hidupku begini?” tetapi berkata, “Apa hikmah yang Allah ingin tunjukkan kepadaku?”
Allah berfirman dalam Surah Ar-Rahman:
فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
“Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
Ayat ini diulang berkali-kali dalam Surah Ar-Rahman agar manusia sadar bahwa hidupnya dipenuhi nikmat.
Kadang manusia hanya fokus pada apa yang belum dimiliki, sampai lupa pada apa yang sudah Allah berikan. Mata yang bisa melihat, kaki yang bisa berjalan, udara yang bisa dihirup, keluarga, sahabat, ilmu, kesehatan, dan kesempatan beribadah — semuanya adalah nikmat yang tak ternilai.
Hati yang bersyukur akan melahirkan ketenangan. Sedangkan hati yang kufur nikmat akan selalu merasa kurang.
3. Bersyukur dengan Perbuatan
Inilah bentuk syukur paling nyata: menggunakan nikmat Allah untuk kebaikan.
Allah berfirman dalam Surah Adh-Dhuha ayat 11:
وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ
“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya.”
Maksudnya bukan pamer atau riya’, tetapi menunjukkan nikmat Allah melalui amal saleh dan manfaat bagi sesama.
Orang yang bersyukur akan senang berbagi:
1. Berbagi rezeki kepada fakir miskin.
2. Berbagi ilmu kepada yang membutuhkan.
3. Berbagi tenaga untuk membantu orang lain.
4. Menebarkan senyum dan kebahagiaan.
Dalam sejarah Islam, banyak sahabat yang sukses dunia akhirat karena gemar bersedekah. Mereka yakin bahwa harta yang dibagikan tidak akan membuat miskin.
Syukur Adalah Jalan Menuju Kesuksesan
Kesuksesan sejati bukan hanya banyaknya harta, tetapi keberkahan hidup. Banyak orang kaya tetapi gelisah. Banyak orang terkenal tetapi kesepian. Sebaliknya, ada orang sederhana namun hidupnya tenang dan penuh kebahagiaan.
Rahasia mereka adalah syukur. Syukur melahirkan energi positif. Orang yang bersyukur lebih mudah bangkit dari kegagalan, lebih kuat menghadapi ujian, dan lebih dicintai manusia.
Allah bahkan menjanjikan tambahan nikmat bagi orang yang bersyukur:
“Jika kalian bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepada kalian.”
Janji Allah itu pasti. Tambahan nikmat tidak selalu berupa uang. Bisa berupa kesehatan, keluarga harmonis, hati yang tenang, ilmu yang bermanfaat, dan hidup yang penuh keberkahan.
Bahaya Kufur Nikmat
Sebaliknya, manusia yang tidak bersyukur mudah terjerumus dalam kesombongan. Ia merasa semua keberhasilannya karena dirinya sendiri.
Dalam sejarah, Qarun adalah contoh manusia yang hancur karena kufur nikmat. Ia sangat kaya raya, tetapi sombong dan merasa hartanya diperoleh karena kepintarannya sendiri. Akhirnya Allah menenggelamkannya bersama seluruh hartanya.
Kisah ini menjadi pelajaran bahwa nikmat tanpa syukur bisa berubah menjadi bencana.
Penutup
Bersyukur bukan hanya ibadah ringan di bibir, tetapi jalan hidup orang-orang beriman. Syukur adalah kekuatan hati yang membuat manusia tetap tegak saat diuji dan tetap rendah hati saat diberi nikmat.
Syukur melalui lisan akan melahirkan kata-kata yang baik. Syukur melalui hati akan menghadirkan ketenangan. Syukur melalui perbuatan akan mendatangkan manfaat bagi banyak orang.
Maka siapa pun yang ingin sukses dunia dan akhirat, mulailah dengan memperbanyak syukur.
Jangan menunggu kaya untuk bersyukur. Jangan menunggu bahagia untuk bersyukur. Karena justru dengan bersyukur, Allah membuka pintu kebahagiaan dan keberhasilan.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur, istiqamah dalam kebaikan, dan wafat dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.






