Nasarudin Bela Prabowo dari Kritik Sudirman Said: Indonesia Kini Mulai Jadi Tuan di Negeri Sendiri

JAKARTA – Ketua Relawan Jaringan Nasional (Jarnas) for Prabowo-Gibran, H. Nasarudin, SH, MH, menanggapi kritik mantan Menteri ESDM Sudirman Said terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurut Nasarudin, sejumlah kritik yang disampaikan Sudirman Said perlu dilihat secara lebih objektif di tengah situasi global yang sedang tidak menentu.

Sebelumnya, Sudirman Said menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah, mulai dari intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo hingga pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. Sudirman juga menyebut persoalan rusaknya tata kelola pemerintahan sudah mulai terlihat sejak era Presiden Joko Widodo periode kedua dan berlanjut pada pemerintahan saat ini.

Bacaan Lainnya

Menanggapi hal itu, Nasarudin menegaskan bahwa pemerintahan Presiden Prabowo merupakan kelanjutan dari pembangunan nasional yang telah diletakkan Presiden Joko Widodo.

“Kita sangat bangga dengan Pak Jokowi dan hari ini dilanjutkan oleh Pak Prabowo. Keberlanjutan pembangunan itu penting agar arah pembangunan nasional tetap terjaga,” kata Nasarudin dalam keterangannya, Senin (11/5/2026).

Ia menilai kondisi geopolitik dan ekonomi dunia saat ini memang memberikan tekanan besar terhadap banyak negara, termasuk Indonesia. Namun, menurut dia, pemerintah berhasil menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

“Situasi politik dunia sedang tidak baik-baik saja. Dampaknya besar terhadap ekonomi global. Tetapi pemerintah melalui tim ekonomi yang solid berhasil menjaga stabilitas, termasuk harga BBM subsidi yang tidak naik dan kebutuhan pokok masyarakat yang masih relatif terjangkau,” ujarnya.

Terkait program Makan Bergizi Gratis, Nasarudin mengakui masih terdapat sejumlah hal yang perlu diperbaiki dalam implementasinya. Meski demikian, ia menilai program tersebut mulai memberikan dampak terhadap perputaran ekonomi masyarakat bawah.

“Program MBG tentu masih memerlukan evaluasi dan penyempurnaan. Tetapi program ini sudah mulai menggerakkan ekonomi rakyat, terutama sektor pangan dan pelaku usaha kecil dalam rantai distribusi,” katanya.

Hal serupa juga disampaikan terkait program Koperasi Desa Merah Putih. Menurut Nasarudin, program tersebut belum dapat dinilai secara utuh karena masih berada dalam tahap pengembangan.

“Koperasi Merah Putih masih berproses. Program sebesar ini memang membutuhkan waktu untuk mencapai hasil yang maksimal,” ucapnya.

Dalam keterangannya, Nasarudin juga menyoroti langkah pemerintah dalam penertiban lahan sawit dan tambang illegal dalam Kawasan hutan. Ia menyebut kebijakan tersebut menjadi salah satu indikator menguatnya posisi negara dalam pengelolaan sumber daya alam.

“Melalui penertiban kawasan sawit dan tambang didalam Kawasan hutan, negara berhasil menyelamatkan aset bernilai triliunan rupiah. Negara mulai hadir secara nyata dalam mengelola kekayaan nasional,” katanya.

Menurut dia, langkah-langkah tersebut membuat Indonesia perlahan menjadi negara yang lebih berdaulat terhadap sumber daya dan kepentingannya sendiri.

“Kita mulai merasakan bahwa Indonesia menjadi tuan di negeri sendiri,” ujar Nasarudin.

Ia juga membela langkah Presiden Prabowo yang aktif melakukan kunjungan luar negeri. Menurut Nasarudin, diplomasi internasional merupakan bagian penting dalam memperkuat posisi Indonesia di tengah persaingan global.

“Indonesia adalah negara besar dengan kekayaan sumber daya dan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Presiden perlu membangun hubungan internasional dan menjaga kepercayaan investor,” katanya.

Nasarudin menambahkan, tugas Presiden tidak selalu harus dilakukan secara langsung di lapangan karena pelaksanaan program pemerintahan dijalankan bersama para menteri yang memiliki tanggung jawab di bidang masing-masing.

“Yang penting arah kebijakan dan pengawasan tetap berjalan. Presiden juga terus melakukan rapat terbatas dengan para menteri dan fokus terhadap persoalan bangsa,” ujarnya.

Di akhir keterangannya, Nasarudin mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan dan memberikan kritik yang bersifat membangun.

“Kritik tentu diperlukan dalam demokrasi. Tetapi mari bersama-sama membangun bangsa ini dengan semangat saling mendukung demi kemajuan Indonesia,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *