Umat Islam Indonesia Tanpa Visi: Jenuh, Beku, Stuck, Loyo, Kelelahan, Hopeless dan Powerless

Sejak Orde Baru berhasil merekayasa umat Islam Indonesia menjadi massa mengambang, kemudian berlanjut ke pelucutan gen bawaan politik umat Islam atau depolitisasi, dengan melancarkan isu sekularisasi, lalu menanamkan persepsi momok syariat Islam dan menggeser mereka lebur dalam politik pragmatis – transaksional, setelah itu berlanjut lagi pada masa reformasi dengan menargetkan umat Islam sebagai bulan-bulanan hingga secara psikopolitik umat Islam kelelahan dan sebagian menyerah, jenuh, trauma dan nyaris powerless dengan mengeksploitasi isu terorisme dan radikalisme, akhirnya berhasil membuat umat Islam Indonesia tidak lagi sebagai penantang politik yang serius bagi lawan-lawannya, terkhusus kaum manipulator dan koruptor yang menguasai Indonesia separuh abad lebih.

Saat ini, umat Islam Indonesia benar-benar di titik nadir, mungkin juga di persimpangan karena terkaget-kaget dengan keadaan yang membingungkan bagi nasib mereka. Umat Islam masih menyadari potensi kekuatan mereka, tapi sudah kehilangan gairah untuk mengungkit dan meremajakan kekuatan tersebut, akibat trauma politik. Trauma itu berbunyi bahwa mengharapkan politik Islam hanya akan sia-sia belaka, prospeknya sama sekali tidak ada, tantangan permusuhannya sangat besar, potensi perpecahannya tinggi, dampak ekonominya kecil, dan jalannya berliku dan melelahkan.

Sudahlah, ikuti saja arus yang ada. Lebur ke dalamnya. Lebur ke Golkar, lebur ke PDIP atau PSI Kaesang. Syukur-syukur bila mujur, sesekali mengambil manfaat ekonomi jika peluang dan bagian kekuasaan ada. Demikianlah rata-rata isi otak dan kesadaran para politisi yang masih menjual suara umat Islam.

Tapi situasi status quo yang puluhan tahun berlangsung ini, kini seperti tergoncang, tetutama setelah umat Islam Indonesia melihat kenyataan dengan keberhasilan Republik Islam Iran saat ini dengan kemajuan teknologinya, ketahanan negara itu dalam menghadapi agresor Amerika dan Israel. Di titik ini, diam-diam umat Islam mengamati, mencari tahu fondasi dan sel pembentuk kekuatan Iran.

Ya…kesimpulannya ialah Islam itu sendiri yang tidak dikebiri dan dibiarkan hidup normal mengatur kemajuan dan menavigasi Iran dan masyarakat serta negaranya dalam menghadapi tantangan yang sedemikian pelik dan kejam. Tapi Iran berhasil. Dapat disimpulkan, energi Islamlah yang membuat Iran sekuat dan setahan itu.

Karena baru saja umat Islam menyaksikan sekaligus membandingkan Venezuela yang sekular, nasionalis dan condong ke Kiri, takluk dan patah dengan lunak begitu rupa diambilalih secara menghinakan oleh AS tanpa perlawanan yang dahsyat seperti Iran.

Kini umat Islam Indonesia sedang bertanya-tanya pada dirinya dan juga terjebak pada kebingungan atas masa depan mereka di negeri mereka sendiri: apakah harus meneruskan kejahilan sebagai subordinasi dari pihak lain yang terus menikmati dan merasa takdir baginya sebagai kelas penguasa atau berhenti dari kubangan kejahilan yang telah menghipnotis mereka lebih dari setengah abad?

Menurut hemat penulis, umat Islam Indonesia memang membutuhkan terapi untuk keluar dari kenyamanan masokis (istilah psikologi bagi orang yang justru menikmati dianiaya) dan sebagai korban eksploitasi. Ini memerlukan suatu dentuman keras agar umat Islam bisa menyadari bahwa posisi penikmat sebagai korban itu benar-benah hina dan bodoh.

Di titik ini perlu diulurkan kepada umat Islam Indonesia sebuah visi baru bagi mereka agar tidak merasa cukup sebagai pengekor, atau sekedar reaksioner karbitan yang kerap jatuh menjadi sasaran ekploitasi para manipulator berkedok orang dalam umat Islam untuk kepentingan pribadi mereka dengan mengumbar ayat dan simbol-simbol religius.

Yang dibutuhkan sekarang umat Islam Indonesia adalah bagaimana mereka mendapatkan hak kepemimpinan dan kesejahteraan serta stabilitas mereka tanpa bergantung pada pihak lain, dan kemajuan dan kemandirian mereka secara politik dan ekenomi, benar-benar tidak diremehkan seperti sekarang ini. Umat Islam Indonesia dengan jumlahnya 200 juta kepala lebih itu dapat memenuhi kebutuhan produksi, teknologi, inovasi, sistem distribusi dan kemudahan konsumsi yang sepenuhnya mereka kontrol.

Sekarang bayangkan, kebutuhan beras saja bagi umat Islam Indonesia untuk alat “transaksi” zakat, mulai dari produksinya, saluran distribusinya, penentuan harga pasarnya, di luar kontrol 200 juta jiwa tersebut. Padahal itu kebutuhan urusan agama mereka. Demikian juga cabe. Itu baru yang remeh-remeh. Belum kebutuhan perangkat teknologi, persenjataan negara, tanah, air minum, minyak goreng, kendaraan, hingga mineral.

Ini semua realitas yang menghinakan ini, tidak boleh dialamatkan dengan menyalahkan orang lain. Umat Islam memang bodoh dan tidak merasa dihinakan dengan kenyataan itu. Mereka merasa normal saja. Kehinaan itu sudah mereka normalisasi dan rasionalisasi sendiri sehingga mereka terima sebagai sebuah kenyataan yang niscaya. Di sinilah diperlukannya visi baru umat Islam di tengah pergeseran kekuatan internasional dan risingnya kekuatan-kekuatan Islam di Afghanistan, Iran hingga sekarang Pakistan.

Umat Islam Indonesia, jangan biarkan dirimu dijebak oleh skema penaklukan oleh pihak lawan. Jangan biarkan dirimu hina dengan ketergantungan akut pada pihak lawan.

Oleh: Bhre Wira, Penulis Buku Mengapa Gerakan Islam Gagal?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *