Menteri P2MI Mukhtarudin Ucapkan Hari Pers Dunia: Jurnalisme Independen Pilar Perdamaian Dunia

JAKARTA – Dalam rangka memperingati Hari Pers Dunia, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menyampaikan apresiasi tinggi terhadap insan pers yang terus menjaga independensi dan profesionalisme di tengah dinamika global yang penuh tantangan.

Mengusung tema internasional “Shaping a Future at Peace: The Transformative Power of Journalism” atau “Membentuk Masa Depan yang Damai: Kekuatan Transformatif Jurnalisme”, peringatan tahun ini menegaskan pentingnya peran media dalam menciptakan dunia yang lebih damai, aman, dan berkeadilan.

Mukhtarudin menilai, jurnalisme yang independen bukan hanya berfungsi sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai pilar utama dalam menjaga stabilitas sosial dan memperkuat demokrasi.

“Pers memiliki tanggung jawab besar dalam membangun kesadaran publik, meredam konflik, serta menghadirkan informasi yang akurat dan berimbang. Di tengah krisis global dan disrupsi informasi, peran ini menjadi semakin vital,” ujar Mukhtarudin dalam keterangannya dikutip di Instagram miliknya, Ahad (3/5/2026).

Ia menambahkan, di era digital saat ini, tantangan dunia pers tidak hanya datang dari tekanan politik atau ekonomi, tetapi juga dari derasnya arus disinformasi yang dapat memicu perpecahan.

“Jurnalisme yang berkualitas mampu menjadi penjernih di tengah kabut informasi. Ia bukan sekadar menyampaikan fakta, tetapi juga menghadirkan konteks, empati, dan solusi,” lanjutnya.

Secara khusus, Mukhtarudin juga menyoroti pentingnya perlindungan terhadap jurnalis, terutama mereka yang bekerja di wilayah konflik dan isu-isu sensitif, termasuk peliputan terkait pekerja migran Indonesia di luar negeri.

Menurut Mukhtarudin, pemberitaan yang berimbang dan berbasis fakta sangat dibutuhkan untuk memastikan perlindungan hak-hak pekerja migran serta mendorong kebijakan publik yang lebih responsif.

“Media memiliki peran strategis dalam mengangkat suara mereka yang kerap tak terdengar, termasuk pekerja migran kita. Dengan jurnalisme yang kuat, keadilan bisa lebih mudah diperjuangkan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Mukhtarudin mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk terus mendukung kebebasan pers yang bertanggung jawab sebagai fondasi penting dalam pembangunan nasional dan perdamaian global.

“Pers yang merdeka adalah syarat mutlak bagi masyarakat yang demokratis. Tanpa kebebasan pers, suara kebenaran akan teredam, dan ruang dialog akan menyempit,” katanya.

Dalam refleksi yang lebih mendalam, Mukhtarudin juga menyinggung hal yang kerap luput dari perhatian, yakni pentingnya keberpihakan jurnalisme pada nilai kemanusiaan.

“Di balik setiap berita, ada manusia dengan harapan dan luka. Jurnalisme yang transformatif adalah yang mampu menghadirkan wajah kemanusiaan dalam setiap narasi—bukan sekadar sensasi, tetapi solusi,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan ke depan bukan hanya menjaga kebebasan pers, tetapi juga meningkatkan kualitas dan integritas jurnalistik di tengah tekanan komersialisasi.

“Pers tidak boleh kehilangan arah karena tekanan pasar. Integritas harus tetap menjadi kompas utama. Sebab dari sanalah kepercayaan publik dibangun,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Mukhtarudin mengucapkan selamat Hari Pers Dunia kepada seluruh insan pers di Indonesia dan dunia, seraya berharap jurnalisme terus menjadi kekuatan yang mampu mentransformasi dunia menuju perdamaian yang berkelanjutan.

“Selamat Hari Pers Dunia. Teruslah menjadi cahaya di tengah kegelapan informasi, dan menjadi jembatan menuju masa depan yang damai,” terangnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *