Seruan I Nyoman Parta dan Jejak Penanaman Mangrove 2022–2025 di Bali

DENPASAR – Isu mangrove kembali mencuat setelah Anggota DPR RI Dapil Bali dari Fraksi PDI Perjuangan I Nyoman Parta mengunggah dokumentasi kegiatan penanaman mangrove di akun Facebook pribadinya, Selasa (24/2/2026). Dalam unggahan tersebut, ia menampilkan foto-foto aktivitas komunitas lingkungan sejak 2022 hingga 2025, sekaligus memaparkan secara rinci fungsi ekologis, biologis, hingga ekonomi hutan mangrove.

“Sekali lagi tentang mangrove. Foto-foto ini adalah beberapa kali kegiatan kami para komunitas lingkungan saat menanam mangrove dari tahun 2022 sampai tahun 2025,” tulisnya.

Namun, di balik dokumentasi tersebut, muncul pertanyaan lebih besar: sejauh mana gerakan penanaman mangrove berdampak nyata terhadap kondisi pesisir Bali yang dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan abrasi, pencemaran, dan alih fungsi lahan?

Antara Simbolik dan Keberlanjutan

Investigasi ini menelusuri sejumlah lokasi penanaman mangrove di kawasan pesisir Bali yang selama ini menjadi perhatian publik. Berdasarkan keterangan sejumlah pegiat lingkungan, kegiatan penanaman memang rutin dilakukan oleh berbagai komunitas, termasuk yang difasilitasi tokoh publik dan lembaga pemerintah.

Namun tantangan terbesar bukan pada seremoni tanam, melainkan tingkat keberhasilan tumbuh (survival rate). Mangrove bukan tanaman darat biasa.

“Mangrove bukan seperti pohon darat yang mudah tumbuh. Sampai bisa besar, mangrove menghadapi banyak kendala sekaligus banyak manfaatnya,” tulis I Nyoman Parta.

Pernyataan itu sejalan dengan temuan para pegiat konservasi. Faktor pasang surut ekstrem, sedimentasi, limbah, hingga perubahan arus menjadi penentu hidup-matinya bibit mangrove. Tanpa perawatan minimal 1–3 tahun pertama, tingkat kematian bisa tinggi.

Fungsi Strategis yang Dipertaruhkan

Dalam unggahannya, I Nyoman Parta merinci empat fungsi utama mangrove:

1. Fungsi Fisik: Benteng Alam

Ia menegaskan akar mangrove yang rapat mampu memecah energi gelombang laut dan mencegah abrasi. Mangrove juga disebutnya sebagai peredam tsunami alami serta penyaring polutan dari daratan sebelum masuk ke laut.

Secara ilmiah, fungsi ini telah banyak dibuktikan. Wilayah dengan sabuk mangrove lebat cenderung lebih tahan terhadap hempasan gelombang besar dibanding kawasan terbuka.

2. Fungsi Biologi: Penopang Rantai Kehidupan

Mangrove menjadi tempat pemijahan ikan, udang, dan kepiting sebelum bermigrasi ke laut lepas. Daun gugurnya menjadi detritus, sumber makanan plankton yang menopang rantai makanan laut.

Kerusakan mangrove berarti ancaman langsung pada stok ikan nelayan tradisional.

3. Fungsi Iklim: Penyerap Karbon Biru

I Nyoman Parta menekankan mangrove sebagai penyerap karbon biru (blue carbon) yang mampu menyerap CO2 hingga 4–5 kali lebih besar dibanding hutan tropis daratan.

Dalam konteks Bali sebagai destinasi wisata internasional yang rentan terhadap dampak perubahan iklim, keberadaan mangrove menjadi benteng ekologis jangka panjang.

4. Fungsi Ekonomi

Ia juga menyoroti potensi ekowisata mangrove serta hasil hutan non-kayu seperti olahan buah dan madu dari bunga mangrove. Ekosistem yang sehat menjamin keberlanjutan penghasilan nelayan.

Tantangan di Lapangan

Meski narasi pelestarian kuat, investigasi menemukan sejumlah tantangan:

Masih adanya tekanan pembangunan di kawasan pesisir.

Minimnya pengawasan terhadap limbah yang masuk ke area mangrove.

Kurangnya perawatan pasca-penanaman.

Belum adanya data terbuka tentang tingkat keberhasilan rehabilitasi mangrove 2022–2025.

Sejumlah pegiat lingkungan menyebut, keberhasilan rehabilitasi tak bisa hanya diukur dari jumlah bibit yang ditanam, tetapi dari luas tutupan mangrove yang benar-benar pulih dan bertahan.

Konsistensi atau Respons Isu?

Unggahan I Nyoman Parta dinilai sebagai bentuk konsistensi advokasi lingkungan, mengingat dokumentasi kegiatan ditampilkan berkelanjutan selama empat tahun terakhir.

Namun di sisi lain, publik juga menunggu langkah kebijakan konkret di level legislatif, mengingat posisinya sebagai anggota DPR RI memberi ruang penguatan regulasi, pengawasan anggaran rehabilitasi pesisir, hingga dorongan penegakan hukum terhadap perusakan mangrove.

“Menanam itu penting, tapi menjaga dan merawatnya jauh lebih penting,” tulisnya.

Pernyataan tersebut menjadi kunci. Investigasi ini menunjukkan bahwa masa depan mangrove Bali tidak hanya bergantung pada aksi tanam, tetapi juga pada komitmen jangka panjang—mulai dari regulasi, pengawasan, edukasi masyarakat, hingga transparansi data rehabilitasi.

Tulisan mengenai fungsi mangrove dalam unggahan tersebut diketahui dikutip dari Christian Mandala Putra.

Ke depan, publik menanti: apakah gerakan mangrove ini akan bertransformasi menjadi kebijakan perlindungan pesisir yang lebih kuat, atau berhenti pada kampanye kesadaran semata?

Mangrove telah ditanam. Kini yang diuji adalah konsistensi menjaga.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *