JEMBER – Suasana Ramadhan tak menyurutkan langkah kepedulian terhadap mahasiswa rantau yang terdampak bencana alam di kampung halaman. Di tengah ritme ibadah yang kian khusyuk, program makan gratis bagi mahasiswa asal Sumatera dan Aceh di Jember tetap berjalan dengan penyesuaian waktu berbuka dan sahur.
Komitmen tersebut ditegaskan manajemen Cak Kaji Cafe & Resto Jember yang sejak awal membuka ruang solidaritas bagi mahasiswa terdampak. Meski jam operasional berubah selama bulan puasa, distribusi makanan bagi para mahasiswa tetap dipastikan aman dan terjadwal.
Bagi mahasiswa perantauan, bantuan ini bukan sekadar soal sepiring nasi. Ia menjadi simbol kepedulian yang menguatkan mental di tengah kecemasan memikirkan keluarga di kampung halaman.
Beni, mahasiswa di Politeknik Negeri Jember (Polije) asal Sumatera, mengaku program tersebut sangat berarti baginya. Ia menyebut kondisi ekonomi keluarga yang terdampak bencana membuat kiriman biaya hidup tersendat.
“Alhamdulillah, sampai sekarang kami masih terus dibantu. Program ini sangat meringankan beban saya, jadi tetap bisa fokus kuliah walaupun kondisi keluarga sedang sulit,” tuturnya.
Pengakuan serupa disampaikan Iwan, mahasiswa asal Aceh. Ia mengatakan meski keluarganya selamat dari sisi fisik, dampak bencana telah memukul perekonomian keluarga yang selama ini menopang kebutuhan hidupnya di Jember.
“Secara fisik keluarga selamat, tapi usaha mereka terdampak cukup parah. Kami sangat bersyukur ada perhatian seperti ini. Selain membantu, makanannya juga cocok dengan selera kami orang Sumatera,” ujarnya.
Owner Cak Kaji Cafe & Resto, Baiq Lily Handayani, menegaskan bahwa aksi sosial tersebut lahir dari rasa persaudaraan dan empati. Menurutnya, mahasiswa adalah generasi penerus yang tidak boleh terhenti langkahnya hanya karena musibah.
“Ini tentang kepedulian sesama anak bangsa. Selama kami mampu dan mereka masih membutuhkan, program ini akan terus berjalan,” tegas Baiq Lily.
Ia juga menjelaskan bahwa selama Ramadhan, teknis pembagian disesuaikan dengan waktu berbuka dan sahur. Untuk mahasiswa non-muslim, pihaknya tetap memberikan layanan dengan pengaturan waktu yang selaras dengan suasana bulan suci.
Program makan gratis ini diharapkan bukan hanya membantu secara materi, tetapi juga menjadi penopang semangat bagi mahasiswa rantau. Di tengah jarak yang memisahkan mereka dari keluarga yang sedang diuji musibah, kehadiran kepedulian lokal di Jember menjadi pengingat bahwa solidaritas masih hidup dan tumbuh di bulan penuh berkah ini.






