JAKARTA – Insiden yang terjadi di Koridor 13 dinilai sebagai momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem, bukan alasan untuk mendiskreditkan layanan transportasi publik andalan Ibu Kota, Transjakarta.
Hal itu disampaikan Ketua Umum Barisan Jakarta (BAJA), R. Lintang Fisutama. Ia menegaskan bahwa penilaian terhadap sistem transportasi sebesar Transjakarta harus berpijak pada data, rekam jejak kinerja, dan kontribusinya terhadap mobilitas warga.
“Kita harus objektif melihat persoalan. Transjakarta melayani lebih dari 1,4 juta perjalanan setiap hari. Dalam skala sebesar itu, tentu evaluasi penting, tetapi capaian dan kontribusinya juga tidak boleh diabaikan,” ujarnya.
Lonjakan Pengguna Pascapandemi
Secara statistik, performa Transjakarta menunjukkan tren pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang 2025, jumlah pelanggan tercatat mencapai 413 juta orang. Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan 2022, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan (CAGR) sekitar 29 persen.
Jika ditarik ke belakang, data menunjukkan fluktuasi akibat pandemi:
2018 (189 juta), 2019 (265 juta), 2020 (132 juta), 2021 (123 juta), 2022 (191 juta), 2023 (285 juta), 2024 (372 juta), hingga 2025 (413 juta).
Menurut Lintang, tren ini mencerminkan kembalinya kepercayaan publik terhadap transportasi umum serta efektivitas ekspansi layanan.
Efisiensi dan Kepuasan Pelanggan
Dari sisi pembiayaan, subsidi per pelanggan turun 14 persen dibandingkan 2022. Penurunan ini terjadi di tengah kenaikan UMP rata-rata 5,17 persen per tahun dan inflasi sekitar 2,7 persen per tahun. BAJA menilai capaian tersebut menunjukkan efisiensi operasional yang semakin baik.
Tak hanya itu, tingkat kepuasan pelanggan juga tergolong tinggi. Indeks Kepuasan Pelanggan tercatat 4,4 dari skala 5,0. Sementara Net Promoter Score (NPS) berada di angka 73 persen, yang berarti mayoritas pengguna puas dan bersedia merekomendasikan layanan ini kepada orang lain.
Saat ini, cakupan layanan Transjakarta telah menjangkau 92,4 persen populasi Jakarta dengan 233 rute dan 4.869 unit bus beroperasi. Dari sisi keselamatan, accident rate turun dari 0,55 pada 2022 menjadi 0,33 pada 2025, atau menurun sekitar 40 persen. Severity index bahkan tercatat 0,00 sejak 2023 hingga 2025.
Evaluasi Tanpa Menggerus Kepercayaan
Meski demikian, BAJA tetap mendorong evaluasi menyeluruh atas insiden Koridor 13 guna memperkuat standar keselamatan dan pengawasan operasional.
“Evaluasi itu wajib. Tapi opini publik juga harus proporsional. Jangan sampai satu peristiwa menutup mata kita dari capaian besar yang sudah diraih,” kata Lintang.
Ia menegaskan bahwa Transjakarta adalah tulang punggung mobilitas warga Jakarta. Menurutnya, kritik yang konstruktif akan memperkuat sistem, namun narasi yang menyudutkan tanpa melihat data justru berpotensi melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap transportasi publik.
“Transportasi publik adalah masa depan kota. Kita perbaiki yang kurang, tapi tetap apresiasi yang sudah baik,” pungkasnya.






