Acara Tahlilan: Matinya Demokrasi dan Keadilan Indonesia

Oleh : Jacob Ereste

Pasangan sejoli yang bernama demokrasi dan keadilan itu, justru dibunuh oleh palu godam Hakim MK pada kisaran pukul 10.00 hingga 11.00 waktu Indonesia di Kawasan Monas Jakarta, pada hari Senin, 22 April 2024. Alasan yang suburpun ikut bergentayangan di ruang MK seperti arwah Demokrasi dan Keadilan yang mati secara keji oleh perlakuan hakim yang masih tetap dipercaya mewakili Tuhan.

Bacaan Lainnya

Sementara suara rakyat yang sudah menunjukkan keprihatinan serta kekhawatiran terhadap ke-tidak-mandiri-an Hakim MK itu telah diungkapkan dalam bentuk aksi, Istighosah Qubro, do’a bersama sebagai upaya menggedor langit, agar Tuhan berkenan memberi hidayah dan karomah bagi hakim MK untuk tetap istiqomah mematuhi sumpah dan janjinya, seperti saat dilantik sebagai wakil Tuhan di bumi.

Terbunuhnya Demokrasi dan Keadilan yang sangat keji itu telah ditandai oleh seluruh rakyat yang mendambakan kehidupan Demokrasi dan Keadilan di negeri ini bisa langgeng dan tumbuh menjadi dewasa. Sebab Demokrasi dan Keadilan dalam wujud generasi yang terbaru di negeri ini., ia lahir dari rahim reformasi tahun 1998 yang berdarah-darah yang menelan banyak korban.

Artinya memang, pasangan sejoli Demokrasi dan Keadilan di Indonesia baru hendak beranjak dewasa (1998-2024) saat terbunuh di palu godam hakim MK pada Senin, 22 April 2024. Tak jelas, apakah dalam tradisi kemudian pun untuk Demokrasi dan Keadilan akan dilakukan semacam peringatan 40 hari dan seterusnya, atau cukup dibiarkan begitu saja seperti arwahnya yang bergentayangan menghantui semua keluarga hakim yang culas itu.

Tentu saja, arwah Demokrasi dan Keadilan yang tiada batu nisan dan tidak jelas makamnya itu, masih menggelegak di ruang sidang Majelis Hakim yang memalu, menggodam kematian Demokrasi dan Keadilan itu sebelum berkembang biak, beranak pinak untuk meneruskan dinasti kekuasaannya atas sikap culas dan semena-mena dari kaum zalim yang haus kekuasaan.

Sampai hari ini, masih jelas terlihat bendera setengah tiang terpasang dan dikibarkan dalam hati para pejuang Demokrasi dan Keadilan, setidaknya pada mereka yang sudah banyak berkorban dalam aksi rutin di kawasan Patung Kuda Arjuna Wiwaha, pasti akan menjadi catatan tersendiri bagi malaikat yang juga akan mengingat keculasan hakim MK, mungkin sampai tiga turunan dari anak, cucu, dan cicit mereka. Do’a terbaik pun telah dikirimkan ke langit, agar dera dan derita semacam karma atau azab tidak sampai harus mendera anak, cucu, dan cicit mereka juga.

Begitulah keyakinan yang sangat dipatuhi, bahwa do’a dari 40 orang itu sudah lebih dari cukup untuk diterima seperti Amicus Curiae guna menjadi saksi di Mahkamah Langit. Dan keadilan yang sesungguhnya, yang melahirkan Demokrasi sekaligus cikal bakal pembiakannya, memang hanya milik Tuhan. Karena itu, hakim MK telah gagal mewujudkan esensi Tuhan, meski tidak pula sepatutnya untuk disebut iblis.

Suasana berduka masih sangat terasa, entah kapan akan usai dan terobati rada sedih yang tidak Alang kepalang perihnya ini. Septia dari Serang, Banten hanya bisa menahan tetesan air matanya yang menggenang di pelupuk matanya yang nyaris terbunuh juga keindahannya yang aduhai itu.

Seperti juga Sulaiman, tak mampu mengucapkan sepatah kata apapun saat diajak sejenak merenungkan kematian demokrasi dan keadilan yang sungguh tragis, justru digodam oleh palu hakim yang keji itu.

Seperti biasanya dalam upara tradisi kematian, kawan dari berbagai latar belakang yang plural, tak hanya profesi, tapi juga agamanya, diundang hadir untuk ikut mengadakan tahlilan dalam bentuk, dan versi yang lain. Tentu saja, setelah saya konfirmasi, undangan itu semacam acara diskusi untuk membicarakan langkah lebih jauh dari tragika kematian demokrasi dan keadilan, supaya kesedihan tidak perlu terus berkepanjangan.

Tapi yang menjadi masalah, saya seakan didapuk untuk menjadi semacam pemberi tausiah utama dalam acara yang nyeleneh ini. Dan pihak panitia penyelenggara pun membatasi, selai sudah menerima sejumlah karangan bunga, juga terpaksa membatasi jumlah pada hadirin hanya 40 orang saja. Maksud panitia peyelenggara agar diskusi bisa berjalan lebih nyaman dan tertib dan untuk acara khusus berdo’a, toh dengan jumlah 40 orang itu sudah cukup untuk melantunkan do’a yang akan langsung sampai ke langit dan diterima oleh Tuhan.

*Penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.