WANAM, PAPUA SELATAN – BELA RAKYAT – Masyarakat adat memiliki kekayaan alam yang dapat menjadi sumber penghidupan. Namun, potensi tersebut perlu dikelola bersama agar benar-benar memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Ketua Adat Kalai Woyu Maklew, Yohanis Agabi Mahuze, dalam kegiatan Pelatihan dan Bimbingan Teknis Kemandirian Pertanian Terintegrasi yang diselenggarakan Merah Pusaka Strategik Indonesia (MPSI) di Aula Kampung Wanam, Distrik Wogikel, Kabupaten Merauke, Senin (19/10/2026).
Di hadapan peserta yang didominasi perempuan, Yohanis menegaskan bahwa persoalan ekonomi masyarakat adat bukan hanya tanggung jawab satu orang, melainkan pekerjaan bersama yang membutuhkan kesabaran, kebersamaan, dan kemauan untuk bergerak.
“Persoalan ekonomi masyarakat adat di bidang pertanian adalah masalah kita bersama. Tugas ini tidak semudah membalik telapak tangan. Karena itu, mari kita bekerja bersama-sama,” pesannya.
Menurut Yohanis, masyarakat tidak boleh hanya melihat potensi alam sebagai sesuatu yang tersedia, tetapi juga harus berupaya mengelolanya menjadi sumber penghidupan. Pertanian dapat menjadi salah satu jalan untuk meningkatkan pendapatan keluarga dan memperkuat kemandirian masyarakat adat.
Ia mengajak masyarakat Kalai Woyu Maklew untuk mulai membangun kebiasaan bekerja sama, mulai dari penanaman, perawatan tanaman, hingga pemasaran hasil panen.
“Jangan biarkan potensi alam yang kita miliki berlalu begitu saja. Mari kita manfaatkan bersama untuk kehidupan masyarakat dan masa depan anak-anak kita,” ujarnya.
Kegiatan tersebut juga menghasilkan pembentukan enam Kelompok Tani Perempuan di Kampung Wanam. Keberadaan kelompok ini diharapkan dapat memperkuat kerja sama masyarakat dalam mengembangkan pertanian sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan keluarga.
Bagi Yohanis, pemberdayaan masyarakat adat akan lebih bermakna apabila kemajuan ekonomi berjalan beriringan dengan pelestarian adat dan budaya.
“Dengan memanfaatkan potensi alam, memperkuat kerja sama, dan menjaga bahasa daerah, masyarakat Kalai Woyu Maklew diharapkan mampu membangun masa depan yang lebih mandiri tanpa kehilangan jati dirinya” Ujar Yohanis. (Ras)






