Bulukumba, Destinasi Investasi Masa Depan Sulsel

Oleh: Syafruddin Mualla, Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan, Ketua Umum Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba (FKPB)

Bulukumba tidak kekurangan potensi. Tantangannya adalah bagaimana mengubah potensi menjadi investasi, investasi menjadi industri, dan industri menjadi lapangan kerja serta nilai tambah bagi masyarakat.

Bacaan Lainnya

Sebagai salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang memiliki basis pertanian, perkebunan, perikanan, kelautan, perdagangan, dan jasa, Bulukumba memiliki modal ekonomi yang cukup kuat. Letaknya di kawasan selatan Sulawesi Selatan, ditambah konektivitas Jalan Bypass Bulukumba–Sinjai dan jaringan transportasi menuju berbagai wilayah, memberikan peluang untuk memperkuat posisi Bulukumba sebagai salah satu simpul ekonomi baru di kawasan selatan Sulawesi Selatan.

Data BPS menunjukkan, PDRB Bulukumba atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai sekitar Rp21,63 triliun dengan pertumbuhan ekonomi 4,44 persen. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi Bulukumba terus bergerak. Namun, pertumbuhan ekonomi perlu terus didorong agar menghasilkan lebih banyak investasi produktif, lapangan kerja, serta nilai tambah dari sumber daya lokal.

Di sinilah tantangan sekaligus peluang Bulukumba.

Investor tidak hanya mencari daerah yang kaya sumber daya. Investor membutuhkan kepastian: di mana proyek berada, bagaimana status dan ketersediaan lahannya, apakah sesuai tata ruang, bagaimana akses infrastrukturnya, dari mana bahan bakunya, bagaimana tenaga kerjanya, siapa pasarnya, berapa kebutuhan investasinya, dan seperti apa model bisnisnya.

Artinya, promosi investasi Bulukumba tidak cukup hanya dengan menyampaikan daftar potensi. Potensi harus dikemas menjadi proyek investasi yang jelas, terukur, dan dapat ditawarkan.

Sulawesi Selatan sendiri memiliki aktivitas investasi yang terus berkembang. Berdasarkan data realisasi investasi 2025, nilai investasi Sulawesi Selatan mencapai sekitar Rp19,54 triliun. Kondisi ini menunjukkan bahwa persaingan antarwilayah dalam menarik investasi semakin nyata. Bulukumba perlu mengambil bagian lebih besar dari arus investasi tersebut dengan menawarkan proyek yang memiliki dasar ekonomi dan bisnis yang kuat.

Karena itu, Bulukumba membutuhkan Investment Portfolio, bukan sekadar daftar keinginan.

Menurut saya, setidaknya ada delapan proyek strategis yang layak dipersiapkan sebagai portofolio awal investasi Bulukumba.

Pertama, Pabrik Pengolahan Kelapa Terpadu

Kelapa tidak cukup hanya dijual sebagai komoditas mentah. Pengolahan dapat diarahkan pada berbagai produk bernilai tambah, mulai dari produk pangan, desiccated coconut, minyak kelapa, hingga produk turunan lainnya.

Kedua, Pabrik Pengolahan Rumput Laut Modern dan Terpadu

Bulukumba memiliki basis produksi rumput laut yang besar. Tantangannya adalah meningkatkan pengolahan di daerah agar nilai tambah tidak seluruhnya dinikmati di luar Bulukumba.

Ketiga, Pabrik Pengolahan Beras Modern dan Terpadu

Potensi produksi pertanian perlu didukung fasilitas pengolahan modern, pengemasan, penyimpanan, dan distribusi sehingga mampu memperkuat rantai pasok pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas.

Keempat, Pabrik Pakan Terintegrasi 

Pertumbuhan sektor peternakan dan perikanan membutuhkan pasokan pakan yang kompetitif. Pabrik pakan dapat dikembangkan dengan memanfaatkan bahan baku lokal dan memperkuat ekosistem usaha peternakan serta perikanan.

Kelima, Pusat Pengolahan Hasil Perikanan dan Rantai Dingin Terintegrasi

Potensi perikanan Bulukumba perlu didukung fasilitas cold storage, pabrik es, pengolahan ikan segar dan beku, fillet, produk makanan laut, pengemasan, hingga distribusi. Dengan demikian, nilai tambah sektor perikanan dapat diperbesar dan akses pasar dapat diperluas.

Keenam, Pengembangan Hotel Bintang 3–4 di Kota Bulukumba

Pertumbuhan ekonomi, aktivitas pemerintahan, bisnis, pariwisata, dan mobilitas masyarakat membutuhkan dukungan akomodasi yang representatif. Kehadiran hotel modern juga dapat memperkuat ekosistem ekonomi jasa dan pariwisata.

Ketujuh, Kawasan Kota Mandiri Modern

Pertumbuhan penduduk dan kebutuhan hunian membuka peluang pengembangan kawasan terpadu yang menggabungkan perumahan, komersial, fasilitas publik, ruang usaha, dan fasilitas pendukung lainnya.

Kedelapan, Maritime Estate – BELMAR PARK (Bulukumba Energy, Logistics & Maritime Park)

Kawasan ini diarahkan sebagai ekosistem energi, logistik, maritim, pergudangan, industri pendukung, dan kegiatan ekonomi terkait yang memanfaatkan posisi strategis Bulukumba. Konsep ini perlu dikaji lebih lanjut berdasarkan tata ruang, kesiapan lahan, infrastruktur, pasar, dan kelayakan bisnis.

Delapan proyek tersebut bukan berarti semuanya sudah siap dibangun. Sebaliknya, proyek-proyek tersebut merupakan portofolio peluang investasi yang harus melalui proses validasi, kajian pasar, penentuan lokasi, kepastian lahan, serta studi kelayakan sebelum ditawarkan kepada investor.

Jika dikelola dengan baik, proyek-proyek tersebut dapat membentuk keterkaitan antarsektor. Kelapa, rumput laut, beras, perikanan, dan peternakan menjadi basis bahan baku. Industri pengolahan menciptakan nilai tambah. Logistik dan kawasan maritim memperkuat distribusi. Hotel dan kawasan kota mandiri menopang pertumbuhan sektor jasa. Pada akhirnya, berbagai kegiatan tersebut dapat menciptakan efek berganda bagi ekonomi daerah.

Namun, proyek tidak akan berjalan hanya dengan konsep. Setiap proyek harus disiapkan secara profesional, mulai dari Executive Summary, Investment Project Profile, Preliminary Feasibility Study (Pre-FS), hingga Investment Project Ready to Offer (IPRO). Dengan demikian, investor tidak hanya menerima cerita tentang potensi Bulukumba, tetapi memperoleh informasi bisnis yang dapat dianalisis secara rasional.

Karena itu, langkah berikutnya harus konkret. Pemerintah daerah bersama dunia usaha perlu duduk satu meja untuk menetapkan delapan proyek tersebut sebagai portofolio investasi yang dipersiapkan secara bertahap. Masing-masing proyek perlu memiliki project owner, data dasar yang terverifikasi, lokasi indikatif, kebutuhan lahan dan infrastruktur, estimasi kebutuhan investasi, skema bisnis, analisis pasar, serta target calon investor.

Tidak perlu menunggu semuanya sempurna. Proyek dapat dimulai dari yang paling siap datanya, kemudian dilanjutkan dengan penyusunan Pre-FS dan IPRO. Setelah itu, portofolio tersebut harus dipresentasikan secara aktif melalui forum bisnis, jaringan KADIN, pertemuan investor, business matching, hingga jejaring promosi investasi di tingkat nasional dan internasional.

Intinya, Bulukumba harus mulai bekerja dengan target yang terukur: delapan proyek, delapan dokumen investasi, delapan jalur pencarian investor, dan satu agenda bersama untuk mendorong realisasi investasi.

Pemerintah daerah menyediakan kepastian dan fasilitasi sesuai kewenangannya. Dunia usaha menyiapkan model bisnis, jaringan, teknologi, modal, dan akses pasar. Sementara pengusaha lokal, petani, nelayan, koperasi, dan UMKM harus ditempatkan sebagai bagian dari rantai nilai investasi—sebagai mitra, pemasok, distributor, maupun bagian dari rantai produksi.

Dengan pola kerja seperti ini, promosi investasi tidak lagi berhenti pada slogan. Setiap pertemuan dengan calon investor harus membawa proyek, data, skema bisnis, dan langkah tindak lanjut yang jelas.

Keberhasilan investasi juga tidak semata-mata diukur dari besarnya modal yang masuk. Ukurannya harus lebih luas: berapa banyak lapangan kerja yang tercipta, berapa besar bahan baku lokal yang terserap, berapa banyak pengusaha lokal yang tumbuh, dan seberapa besar nilai tambah yang tinggal di Bulukumba.

Masa depan ekonomi Bulukumba tidak cukup dibangun dengan menjual potensi. Masa depan itu harus dibangun dengan proyek yang siap, kebijakan yang pasti, dunia usaha yang aktif, dan investasi yang produktif.

Dengan langkah tersebut, Bulukumba memiliki peluang untuk tumbuh menjadi destinasi investasi masa depan Sulawesi Selatan—daerah yang tidak hanya kaya potensi, tetapi mampu mengubah potensi menjadi proyek, proyek menjadi investasi, dan investasi menjadi pertumbuhan ekonomi serta kesejahteraan masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *