JAKARTA SELATAN – BELA RAKYAT – Suku Dinas Pemuda dan Olahraga (Sudin Pora) Kota Administrasi Jakarta Selatan melalui program Pembinaan Aktivitas Pemuda (PAP) bersama komunitas pemuda “NIPAH YOUTH” sukses menggelar kegiatan bertajuk “Tour Museum Satria Mandala – Jasmerah Pemuda”, Ahad (27/09/2026).
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 13.00 WIB di Museum Satria Mandala, Jakarta Selatan ini diikuti puluhan pemuda-pemudi Jakarta Selatan. Kegiatan ini fokus pada pembinaan, aktivitas, dan pemberdayaan pemuda melalui penguatan literasi sejarah perjuangan bangsa.
Dalam pemaparannya, materi ditekankan pada peran sentral pemuda sebagai fondasi lahirnya kesadaran nasional hingga proklamasi kemerdekaan.
“Tujuan utama kami adalah JASMERAH, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Pembinaan pemuda hari ini tidak boleh lepas dari akar sejarahnya. Dari Budi Utomo 1908 yang menjadi tonggak kebangkitan nasional, lahirnya organisasi-organisasi kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, hingga Jong Ambon, semua itu adalah sekolah kepemimpinan pertama bagi pribumi,” ujar salah satu pemateri dari NIPAH YOUTH atas nama Gio
Lebih lanjut Gio menjelaskan, momentum persatuan pemuda menjadi kunci penting dalam perjalanan bangsa.
“Kongres Pemuda I tahun 1926 dan Kongres Pemuda II tahun 1928 yang diprakarsai PPPI di Batavia itu adalah bukti bahwa pemuda sudah berpikir melampaui kesukuan. Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan Indonesia adalah keputusan paling monumental. Semangat itu yang ingin kita hidupkan kembali pada pemuda Jakarta Selatan hari ini,” tambah Gio.
Perwakilan Suku Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Administrasi Jakarta Selatan menyambut baik antusiasme peserta. Pihaknya menegaskan bahwa museum adalah ruang belajar yang paling kontekstual.
“Museum Satria Mandala ini bukan sekadar tempat menyimpan artefak, tapi ruang untuk memahami bahwa kemerdekaan tidak datang tiba-tiba. Ada peran radikal pemuda seperti Chaerul Saleh dan Wikana dalam peristiwa Rengasdengklok 16 Agustus 1945 yang mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan. Itu adalah bentuk pembinaan karakter pemuda yang berani, disiplin, dan bertanggung jawab,” ungkap Perwakilan Sudin Pora Jaksel.
Salah satu peserta tour mengaku mendapatkan perspektif baru tentang peran pemuda.
“Biasanya sejarah hanya dibaca di buku, tapi dengan tour langsung seperti ini, kita jadi lebih merasa dekat. Ternyata pemuda dulu wadah pembinaannya adalah organisasi, dan dari sanalah lahir Sumpah Pemuda. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk lebih aktif dan tidak apatis,” kata peserta NIPAH YOUTH Agus.
Melalui kegiatan ini, diharapkan pembinaan aktivitas pemuda tidak hanya berfokus pada kreativitas dan olahraga, tetapi juga penguatan wawasan kebangsaan dan nasionalisme.
Kegiatan ditutup dengan komitmen bersama NIPAH YOUTH untuk terus menjadi wadah pemberdayaan pemuda yang aktif, kritis, dan cinta tanah air, melanjutkan transformasi peran pemuda di era pasca-kemerdekaan Republik Indonesia.





