Di Arena Munas III, Adam Irham: Pemuda LIRA Harus Tetap Tegak di Garis Pemberantasan Korupsi, Jangan Pernah Kendor!

BOGOR – BELA RAKYAT – Ketua Umum DPP Pemuda LIRA, Adam Irham, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus menjadi bagian penting dalam menjaga demokrasi, menyuarakan kebenaran, memperjuangkan kepentingan rakyat, serta berada di garis terdepan dalam pemberantasan korupsi.

Hal tersebut disampaikan Adam Irham saat memberikan sambutan pada pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) III Pemuda LIRA (Lumbung Informasi Rakyat) yang digelar di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, Selasa (26/8/2026).

Adam mengatakan, pemilihan Puncak sebagai lokasi Munas bukan tanpa alasan. Menurutnya, suasana Puncak yang sejuk, dingin, serta keramahan masyarakat menjadi salah satu pertimbangan dalam penyelenggaraan agenda nasional organisasi kepemudaan tersebut.

“Memang menurut saya akrab sama Puncak, karena anginnya sejuk. Puncak ini sejuk, dingin, dan warganya ramah-ramah,” ujar Adam dalam sambutannya.

Ia kemudian mengenang perjalanan Pemuda LIRA dalam menyelenggarakan agenda organisasi sejak Munas pertama pada 2019. Saat itu, kondisi Indonesia masih normal sebelum pandemi COVID-19 melanda. Munas tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh yang kini telah menempati posisi strategis di pemerintahan maupun parlemen.

“Tahun 2019 kami Munas, waktu itu belum COVID-19. Hadir waktu itu Pak Bahlil masih Ketua Umum HIPMI, lalu Pak Kurnia Hafidz juga masih anggota dewan waktu itu,” kenangnya.

Menurut Adam, perjalanan organisasi tidak berhenti ketika pandemi COVID-19 melanda. Pada 2021, Pemuda LIRA tetap memaksakan pelaksanaan Munas di Malang, Jawa Timur, meskipun situasi saat itu penuh keterbatasan.

“Dalam kondisi COVID, kita paksakan agenda-agenda keorganisasian harus terus berjalan. Tidak boleh terputus dalam kondisi apa pun,” tegasnya.

Kini, Munas III kembali digelar dengan semangat yang sama. Adam menyebut penyelenggaraan Munas merupakan buah dari kemandirian, gotong royong, serta komitmen seluruh jajaran pengurus Pemuda LIRA.

“Dengan apa adanya, kemandirian, dan saling gotong royong, kita berpegangan tangan. Sebisa mungkin kita paksakan harus terselenggara Musyawarah Nasional Pemuda LIRA,” katanya.

Adam juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan Munas tersebut tidak menggunakan dana APBN maupun APBD. Ia menegaskan seluruh kebutuhan kegiatan diupayakan secara mandiri melalui kontribusi para pengurus.

“Insya Allah Pemuda LIRA tidak menggunakan dana APBD atau APBN. Jadi ini murni dari kantong pengurus,” ungkapnya yang langsung disambut tepuk tangan peserta Munas.

Ia bahkan menyampaikan permohonan maaf apabila pelaksanaan Munas masih memiliki berbagai kekurangan.

“Kalau kondisi jauh dari layak atau kurang memuaskan, saya mohon maaf. Tapi ini adalah bentuk kemandirian kita,” ujarnya.

Pemuda LIRA Harus Menjadi Tonggak Demokrasi

Dalam kesempatan tersebut, Adam menegaskan bahwa Pemuda LIRA memiliki posisi dan tanggung jawab moral yang besar dalam kehidupan demokrasi Indonesia.

“Bismillah, Pemuda LIRA adalah menjadi salah satu tonggak hidupnya demokrasi dan pemberantasan korupsi, penegakan hukum di Indonesia,” tegasnya.

Ia mengatakan, Pemuda LIRA tidak hanya menjalankan aktivitas organisasi secara internal, tetapi juga berusaha hadir di tengah masyarakat dengan menyuarakan berbagai persoalan yang menyangkut kepentingan rakyat.

Termasuk ketika terjadi dugaan kasus korupsi, Pemuda LIRA menurut Adam tidak ragu untuk turun ke jalan dan menyampaikan suara masyarakat.

“Kami ikut turun ke jalan menyuarakan beberapa kasus-kasus korupsi,” katanya.

Adam menyebut semangat tersebut tidak terlepas dari keteladanan Presiden LIRA, Yusuf Rizal, yang selama ini memberikan inspirasi kepada kader Pemuda LIRA untuk tidak takut menyuarakan kebenaran.

“Tentu inspirasi dari Pak Presiden LIRA, Pak Yusuf Rizal, dengan tidak takut ataupun gentar,” ujarnya.

Bagi Adam, perjuangan melawan korupsi membutuhkan keberanian dan konsistensi. Ia mengibaratkan dirinya bersama kader Pemuda LIRA sebagai murid yang terus belajar dari perjuangan senior dan pendahulunya.

“Yang namanya murid pasti tidak bisa menyamai, apalagi mengalahkan gurunya. Pak Yusuf Rizal, Presiden LIRA, menggembleng bagaimana semangat kita untuk tidak pernah kendor melawan para koruptor yang selalu meresahkan dan menyengsarakan masyarakat,” tuturnya.

Korupsi Disebut Kejahatan Luar Biasa

Adam menegaskan, pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti. Menurutnya, korupsi merupakan kejahatan luar biasa karena dampaknya tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi juga secara langsung menghancurkan kualitas kehidupan masyarakat.

“Pemberantasan korupsi tidak boleh berhenti. Kejahatan extraordinary yang harus kita musuhkan karena pelakunya bukan hanya menyengsarakan masyarakat tetapi juga menyengsarakan negara,” tegas Adam.

Ia memberikan gambaran konkret mengenai dampak korupsi terhadap masyarakat. Menurutnya, uang rakyat yang dikorupsi seharusnya dapat digunakan untuk membangun sekolah, memperbaiki fasilitas kesehatan, meningkatkan kualitas pendidikan, serta memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat.

“Mengambil uang rakyat membuat gedung-gedung sekolah tidak jadi dibangun, membuat masyarakat miskin susah berobat ke rumah sakit, membuat pendidikan kita drop, jatuh,” katanya.

Karena itu, Adam memastikan Pemuda LIRA akan tetap berdiri di garis perjuangan pemberantasan korupsi.

“Pemuda LIRA bersama, tentu atas arahan Bapak Presiden LIRA, untuk tetap tegar berada di dalam garis pemberantasan korupsi,” ujarnya.

21 Provinsi dan 117 Kabupaten/Kota

Dalam sambutannya, Adam juga memaparkan sejumlah capaian organisasi selama kepengurusannya. Salah satu yang menurutnya patut disyukuri adalah semakin luasnya struktur Pemuda LIRA di berbagai wilayah Indonesia.

Ia menyebut Pemuda LIRA telah berhasil membentuk 21 kepengurusan tingkat provinsi dan 117 kepengurusan tingkat kabupaten/kota.

“Kami telah berhasil membentuk 21 kepengurusan tingkat provinsi dan 117 tingkat kota/kabupaten,” ungkap Adam yang kembali disambut tepuk tangan peserta.

Namun, ia mengakui bahwa dinamika organisasi di daerah tidak selalu berjalan seragam. Ada kepengurusan yang sangat aktif, ada yang aktif, bahkan ada pula yang tidak lagi terdengar kabarnya.

“Apresiasi tentu ada yang aktif, ada yang sangat aktif, ada yang hilang tanpa kabar. Tapi itu bagian dari upaya kami untuk senantiasa menjadi bagian penting dalam menyuarakan kebenaran dan berperan dalam menyampaikan pesan-pesan moral,” katanya.

Adam menilai keberadaan struktur organisasi di daerah harus terus diperkuat agar Pemuda LIRA mampu menjadi wadah bagi anak-anak muda untuk berkontribusi secara positif dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

Soroti Persatuan KNPI

Dalam sambutannya, Adam juga menyinggung dinamika organisasi kepemudaan nasional, khususnya terkait Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI).

Adam yang juga menjabat sebagai salah satu Ketua Bidang di DPP KNPI mengatakan, Ketua Umum DPP KNPI Ryano Panjaitan sejatinya dijadwalkan hadir dalam pembukaan Munas Pemuda LIRA. Namun, agenda tersebut berhalangan karena harus menghadiri pelantikan DPD KNPI di Jombang.

Sementara Sekjen DPP KNPI juga berhalangan hadir karena harus menghadiri agenda pelantikan di Papua Tengah, Timika.

Adam kemudian menyatakan akan terus mendorong pemerintah untuk memberikan kepastian terhadap pembinaan organisasi kepemudaan nasional.

“Kita akan bersuara juga kepada pemerintah, Kemenpora, Mendagri, dan Kemenkumham untuk tegas tidak ada KNPI manapun selain KNPI Muhammad Ryano Panjaitan,” ujarnya.

Ia berharap tidak ada lagi dualisme maupun konflik berkepanjangan yang justru menghambat peran strategis pemuda dalam pembangunan bangsa.

“Jelas pembinaan ini. Tidak ada dualisme atau tigalisme. Biarkan pemuda mengatur dirinya sendiri, jangan berikan ruang pada para anasir-anasir pemecah belah,” tegas Adam.

Serahkan Estafet Kepemimpinan

Menjelang akhir sambutannya, Adam juga menyampaikan pesan terkait keberlanjutan kepemimpinan Pemuda LIRA. Ia mengibaratkan pergantian kepemimpinan sebagai estafet yang harus dilanjutkan dengan semangat yang lebih baik.

“Apresiasi tinggi Pemuda LIRA akan saya hantarkan kepada tongkat estafet. Kalau memegang tongkat estafet, insya Allah akan jauh lebih baik dari masa saya,” katanya.

Ia berharap siapa pun yang nantinya mendapatkan amanah kepemimpinan Pemuda LIRA mampu menjaga marwah organisasi, memperkuat konsolidasi, serta melanjutkan perjuangan dalam membela kepentingan rakyat.

Adam menutup sambutannya dengan pantun yang langsung disambut meriah oleh peserta Munas.

“Setangkai bunga mawar, menumbuhkan khasiat anak muda. Ketika bendera putih berkibar, di situlah Pemuda LIRA berkibar,” ucapnya.

Tepuk tangan dan sorakan peserta pun menggema di lokasi Munas. Adam kemudian kembali menyampaikan pesan melalui pantun berikutnya.

“Mengarungi samudera dengan bahtera, berlayar jauh sampai Papua. Di pembukaan Munas Pemuda LIRA, saya berpesan: Pemuda Harus Wijaya!”

Pesan tersebut menjadi penutup sambutan Adam Irham dalam pembukaan Munas III Pemuda LIRA.

Ia menegaskan bahwa perjalanan Pemuda LIRA ke depan harus tetap berpijak pada semangat kemandirian, gotong royong, keberanian menyuarakan kebenaran, penegakan hukum, serta pemberantasan korupsi.

“Billahi fii sabililhaq, fastabiqul khairat,” pungkas Adam.

Munas III Pemuda LIRA selanjutnya memasuki agenda pembukaan resmi dan rangkaian persidangan organisasi untuk menentukan arah kebijakan serta kepemimpinan Pemuda LIRA ke depan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *