Tahukah Anda hikayat Lebai yang Malang? Lebai malang itu mirip nasib Amerika sekarang ini.
Kisah lebai malang adalah hikayat lama populer di masyarakat Melayu. Alkisah, lebai atau kyai kampung ini diundang hadiri kenduri dalam waktu bersamaan. Karena serakah, kedua acara kenduri tersebut, malah luput dari jangkauannya. Betapa tidak.
Sudah tahu waktunya serentak, harusnya dia memilih salah satu saja. Tapi karena tamak, dia memaksakan diri mendatangi kedua kenduri tersebut.
Kenduri yang di kampung hulu sungai, itu pertama didatanginya. Dia naik perahu kesana. Tiba-tiba dia terpikir, untuk belok ke kampung hilir, karena ingin menikmati daging kerbau, maka dia pun mendayung sampannya ke hilir. Ternyata sesampainya di kampung hilir, kenduri sudah bubar. “Nak kemana tuan lebai, ni?” tanya orang. Akhirnya dia cepat-cepat kayuh sampanya ke hulu. “Sial betul aku, ni. Kenapa aku tak ke hilir sejak semula?” pikirnya.
Sesampai di kampung hulu, orang bertanya: “nak kemana tuan lebai?” Dia lihat orang-orang sudah naik sampan untuk pulang. Tahulah dia bahwa kenduri di hulu juga sudah bubar. Akhirnya, tak satu kenduri pun dapat dihadirinya. Niatnya mau cicipi makanan yang lezat, akhirnya luput akibat keteledoran yang didorong nafsu tamaknya.
Syahdan, Amerika juga demikian. Amerika berpikir bahwa dia akan dapat menaklukkan Afghanistan dan Iran sekaligus. Dia cukup yakin dengan kemampuan teknologi dan alat-alat perangnya yang canggih dan efektif.
Pura-puralah dia tinggalkan Afghanistan. Berharap jika Iran sudah ditaklukkan, maka dia akan kembali ambil Afghanistan lagi.
Pertama dia sudah siapkan operasi subversif di Iran dengan memobilisasi rakyat Iran buat meruntuhkan rezim Wikayatul Fakih. Rupanya operasi subversif yang selama ini selalu berhasil di berbagai negara itu, di Iran gagal. Operasi itu dihancurkan oleh IRGC atau Pasdaran dan Basij. Gagal operasi subversif, dia bunuh setiap pemimpin penting IRGC, dan puncaknya, Imam Khamenei, pemimpin puncak Republik Islam Iran, dia bunuh lewat bom. Amerika sudah berpikir, rezim akan segera retak dan konflik internal tak bisa dielakkan, dan akhirnya akan seperti nasib Libya, terbelah. Jika terbelah, tinggal laksanakan operasi belah bambu, pijak satu, angkat satu. Ternyata, tetap solid. Bahkan sebaliknya. Markas-markas tentara Amerika di Timur Tengah, lama-lama makin terkikis oleh rudal dan drone Iran. Mimpi Amerika yang akan menaklukkan Iran dan kemudian kembali mencaplok Afghanistan, buyar.
Afghanistan sudah dilepas dengan maksud diambil lagi setelah Iran didapat, justru nasib malanglah yang menimpa Amerika. Negara-negara satelitnya di teluk, satu persatu melemah dan berada di ambang keruntuhan akibat bombardir Iran. Selat Hormuz yang tadinya dalam kendali Amerika, justru kini berada di bawah tekanan dan kontrol Iran. Tentara-tentara Amerika makin banyak yang tewas dan stress. Biaya perang membengkak. Migas dari Teluk tersendat. Muka Amerika tercoreng. Pamor turun.
Persis seperti kisah Lebai yang malang. Bermaksud pura-pura mundur guna berkonsentrasi menelan Iran dan baru kemudian merampas balik Afghanistan, malah terseret dan digulung oleh Iran.
Inilah contoh sejati serakahnomic yang diingatkan Prabowo. Maka, pelajaran dari kisah ketamakan Amerika ini, penting untuk dicamkan agat lebih bijaksana dalam kehidupan di dunia ini.
Oleh: Syahrul E Dasopang, Penulis Novel
.






