Rupiah Tembus Rp17.520: Syafruddin Mualla Dorong Pertanian Sulsel Jadi Penyelamat Ekonomi Daerah

JAKARTA – Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan, Syafruddin Mualla, menilai sektor pertanian dapat menjadi penopang utama ekonomi daerah di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang menembus Rp17.520 per dolar AS.

Menurut Syafruddin, kondisi tersebut harus menjadi momentum bagi Sulawesi Selatan, khususnya Bulukumba, untuk memperkuat sektor pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan berbasis potensi lokal.

Bacaan Lainnya

Ia mengatakan, melemahnya rupiah memang berdampak pada kenaikan harga barang impor. Namun di sisi lain, kondisi tersebut membuka peluang besar bagi produk lokal untuk lebih kompetitif di pasar nasional maupun internasional.

“Bulukumba memiliki kekuatan pada sektor pangan, hortikultura, rumput laut dan kelautan. Ini harus menjadi fokus utama penguatan ekonomi daerah agar masyarakat tidak terlalu bergantung pada produk luar,” ujar Syafruddin.

Ia juga menyoroti tingginya ketergantungan petani terhadap pupuk dan bahan baku pakan impor. Saat dolar menguat, biaya produksi petani dan peternak ikut melonjak sehingga margin usaha masyarakat semakin tertekan.

Karena itu, Syafruddin mendorong pengembangan pupuk organik, biofertilizer, fermentasi pakan lokal, serta pertanian regeneratif berbasis sumber daya daerah. Menurutnya, langkah tersebut bukan hanya menekan biaya produksi, tetapi juga membuka peluang lahirnya industri baru berbasis bioekonomi dan hilirisasi pertanian.

Selain itu, ia menilai modernisasi pertanian harus segera dipercepat melalui penggunaan teknologi pertanian modern seperti mekanisasi alat pertanian, sistem irigasi cerdas, digitalisasi distribusi pangan, hingga penguatan riset dan inovasi pertanian daerah.

“Pertanian tidak boleh lagi dikelola secara tradisional sepenuhnya. Anak muda harus masuk ke sektor ini dengan pendekatan teknologi dan bisnis modern agar pertanian menjadi sektor yang produktif dan menguntungkan,” katanya.

Syafruddin juga menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, dunia usaha, perbankan, organisasi seperti KADIN Sulawesi Selatan, KTNA, kelompok tani, serta pelaku usaha pangan sangat penting untuk membangun ketahanan ekonomi daerah di tengah ketidakpastian global.

“Ketahanan ekonomi daerah tidak bisa hanya bertumpu pada konsumsi dan perdagangan. Daerah harus kembali memperkuat sektor produksi, terutama pertanian dan pangan,” tutup Syafruddin.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *