Masjid Annursyiah Utan Kayu Selatan Buka Program Utang Tanpa Bunga untuk Jemaah, Upaya Cegah Jeratan Rentenir dan Pinjaman Online

JAKARTA – Di tengah maraknya jeratan pinjaman online ilegal, bank keliling, hingga praktik rentenir yang semakin menekan masyarakat kecil, Masjid Annursyiah mengambil langkah yang dinilai tidak biasa. Melalui program sosial berbasis kepedulian umat, pengurus masjid menyiapkan dana bantuan hutang piutang tanpa bunga bagi jemaah yang mengalami kesulitan ekonomi.

Ketua Yayasan Annursyiah H. Ahmad Lufni, SE menyampaikan, program tersebut merupakan bentuk kepedulian masjid terhadap kondisi masyarakat yang saat ini banyak terjebak persoalan ekonomi, terutama akibat pinjaman berbunga tinggi.

Hal itu disampaikan Ahmad Lufni dalam sambutannya pada kajian rutin awal bulan yang digelar di kawasan Galur Sari, Utan Kayu Selatan, Matraman, Jakarta Timur, Ahad (10/5/2026).

Menurut Ahmad, masjid tidak boleh hanya menjadi tempat ibadah semata, tetapi juga harus hadir membantu persoalan umat, terutama ketika masyarakat sedang menghadapi tekanan hidup yang berat.

“Kami menyiapkan dana untuk jemaah Masjid Annursyiah yang membutuhkan bantuan hutang piutang. Program ini dibuat agar masyarakat tidak terjerat rentenir, bank keliling, maupun pinjaman online yang bunganya mencekik,” ujar Ahmad Lufni di hadapan 500 jemaah yang hadir pagi ini.

Ia menjelaskan, sistem pengembalian dana dilakukan secara ringan dan manusiawi. Para jemaah diperbolehkan mencicil sesuai kemampuan masing-masing tanpa tekanan dan tanpa bunga tambahan.

“Cicilannya terserah sesuai kemampuan. Yang penting ada niat baik untuk mengembalikan. Panitia siap melayani setelah salat Subuh setiap hari,” katanya.

Investigasi Sosial: Rentenir dan Pinjaman Online Makin Menghimpit Warga

Fenomena masyarakat kecil yang terjebak hutang berbunga tinggi kini menjadi persoalan serius di berbagai daerah. Banyak warga awalnya meminjam uang untuk kebutuhan mendesak seperti biaya sekolah, kebutuhan dapur, kontrakan rumah, hingga biaya kesehatan. Namun karena bunga yang terus berjalan, hutang justru berubah menjadi beban berkepanjangan.

Praktik bank keliling dan rentenir masih marak menyasar masyarakat ekonomi lemah. Mereka menawarkan pencairan cepat tanpa syarat rumit, tetapi di balik itu terdapat bunga harian yang sangat tinggi. Dalam banyak kasus, nilai cicilan bahkan jauh melampaui pokok utang.

Tidak sedikit keluarga yang akhirnya kehilangan ketenangan hidup akibat dikejar tagihan setiap hari. Sebagian harus menjual barang berharga, sementara lainnya mengalami konflik rumah tangga karena tekanan ekonomi yang terus menumpuk.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah maraknya pinjaman online ilegal yang kini menjangkau masyarakat hingga lapisan bawah. Dengan hanya bermodalkan telepon genggam dan data pribadi, seseorang dapat memperoleh pinjaman dalam hitungan menit. Namun di balik kemudahan itu, terdapat ancaman besar.

Banyak korban pinjaman online mengaku mengalami intimidasi, penyebaran data pribadi, ancaman kepada keluarga, hingga tekanan mental akibat tagihan yang terus membengkak. Sebagian masyarakat bahkan terjebak gali lubang tutup lubang karena meminjam di aplikasi lain untuk membayar hutang sebelumnya.

Praktik tersebut tegas Ahmad, dinilai dapat menghancurkan kondisi ekonomi keluarga secara perlahan.

Masjid Dinilai Harus Hadir Menjawab Persoalan Umat

Program yang digagas Yayasan Annursyiah dinilai menjadi contoh bagaimana lembaga keagamaan dapat mengambil peran nyata membantu masyarakat. Tidak hanya memberikan ceramah keagamaan, tetapi juga menghadirkan solusi konkret bagi persoalan ekonomi umat.

Ahmad Lufni menegaskan bahwa hutang dalam Islam merupakan persoalan serius yang tidak boleh dianggap ringan. Karena itu, masyarakat diminta berhati-hati sebelum memutuskan meminjam uang, terlebih dari lembaga yang menerapkan bunga tinggi.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak tergoda gaya hidup berlebihan yang akhirnya memaksa seseorang mencari pinjaman instan.

“Jangan sampai hidup lebih besar pasak daripada tiang. Banyak orang awalnya hanya pinjam sedikit, tetapi akhirnya terjerat bertahun-tahun karena bunga yang terus berjalan,” ujarnya.

Menurutnya, budaya tolong-menolong harus kembali dihidupkan di tengah masyarakat agar warga kecil tidak menjadi korban sistem ekonomi yang menekan.

Program hutang tanpa bunga yang dijalankan Masjid Annursyiah pun mendapat respons positif dari para jemaah. Sejumlah warga menilai langkah tersebut memberi harapan baru di tengah situasi ekonomi yang semakin sulit.

Di tengah maraknya praktik pinjaman berbunga tinggi yang sering memicu penderitaan sosial, langkah sederhana dari lingkungan masjid itu kini menjadi perhatian masyarakat sekitar. Banyak pihak berharap gerakan serupa dapat ditiru masjid-masjid lain agar rumah ibadah benar-benar hadir sebagai tempat perlindungan umat, bukan hanya untuk urusan spiritual, tetapi juga persoalan kehidupan sehari-hari.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *