Ketua Jarnas Prabowo-Gibran Tolak Narasi Amien Rais yang Sangat Keji Terhadap Seskab Teddy Indra Wijaya

JAKARTA – H. Nasarudin, SH, MH, Ketua Relawan For Prabowo-Gibran, menyampaikan keprihatinan mendalam atas pernyataan yang dilontarkan oleh Amien Rais terkait tuduhan terhadap Letkol Teddy Indra Wijaya. Ia menilai narasi tersebut tidak hanya prematur, tetapi juga berpotensi merusak reputasi individu serta menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat.

Menurut Nasarudin, sebagai tokoh bangsa yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan demokrasi Indonesia, Amien Rais seharusnya menjadi contoh dalam menjaga kualitas komunikasi publik. “Pernyataan yang tidak didasarkan pada fakta yang jelas, apalagi bersumber dari informasi yang belum terverifikasi, sangat berbahaya. Ini bukan hanya soal perbedaan pendapat, tapi soal tanggung jawab moral,” tegasnya.

Ia juga menyoroti bahwa tuduhan yang disampaikan secara terbuka tanpa kepastian kebenaran dapat mengarah pada pembentukan opini publik yang menyesatkan. Dalam era digital saat ini, lanjut Nasarudin, satu pernyataan tokoh publik bisa dengan cepat menyebar dan membentuk persepsi massal, meskipun belum tentu benar.

Lebih jauh, Nasarudin mengingatkan pentingnya nilai-nilai etika, khususnya dalam perspektif Islam. Rasulullah mengajarkan kita untuk selalu menjaga kehormatan sesama. Ia menegaskan bahwa dalam ajaran Islam terdapat prinsip tabayyun, yakni kewajiban untuk memverifikasi informasi sebelum menyampaikan atau mempercayainya. “Dalam banyak riwayat Rasulullah mengajarkan kita untuk menjaga lisan dari prasangka buruk (suuzon) yang merupakan bagian dari akhlak yang harus dijaga oleh setiap individu. Apalagi yang menyampaikan ini Adalah seorang tokoh yang menjadi panutan banyak orang” ujarnya.

Menurutnya, jika memang terdapat persoalan atau dugaan pelanggaran, maka seharusnya disampaikan melalui mekanisme yang tepat, bukan melalui opini terbuka yang berpotensi menjadi fitnah. “Ada jalur hukum, ada mekanisme institusional. Itu yang harus ditempuh, bukan justru membangun narasi liar di ruang publik,” tambahnya.

Nasarudin juga menegaskan bahwa pernyataan seperti ini tidak hanya berdampak pada individu yang dituduh, tetapi juga dapat merusak kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Dalam jangka panjang, hal tersebut dapat mengganggu stabilitas sosial dan politik.

Ia mengajak seluruh tokoh bangsa, terutama yang memiliki pengaruh besar di masyarakat, untuk lebih bijak dalam menyampaikan pendapat. “Kita semua punya tanggung jawab menjaga persatuan. Jangan sampai pernyataan yang tidak terukur justru memperkeruh suasana dan memecah belah masyarakat,” katanya.

Dalam konteks demokrasi, Nasarudin mengakui bahwa kritik adalah hal yang wajar dan bahkan diperlukan. Namun, kritik yang baik adalah kritik yang berbasis data, fakta, dan disampaikan dengan etika. “Kalau kritik dibangun di atas asumsi dan prasangka, maka itu bukan lagi kritik, tapi bisa menjadi fitnah,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Nasarudin mengajak masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Ia menekankan pentingnya literasi informasi dan sikap kritis dalam menerima setiap narasi yang beredar di ruang publik.

“Bangsa ini butuh keteladanan. Tokoh publik harus menjadi penjernih, bukan justru memperkeruh. Kita harus kembali pada prinsip dasar yakni berbicara dengan fakta, bertindak dengan etika, dan menjaga persatuan di atas segalanya,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *