Gelar Halal Bihalal di Bekasi, Sumbagsel Bersatu Gaungkan Energi Persaudaraan Nusantara

BEKASI — Di bawah langit yang masih menyisakan gema Idulfitri, denyut kebersamaan menggeliat dari jantung Kabupaten Bekasi. Persaudaraan Sumbagsel Bersatu menggelar Halal Bihalal dan Tasyakuran bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah deklarasi sosial yang menggugah, sebuah panggilan nurani untuk menata ulang arah persaudaraan di tengah arus zaman yang kian pragmatis dan terfragmentasi.

Bertempat di Rumah Singgah Sumbagsel, Jl. Raya CBL, Desa Sukaraya, Kecamatan Cibitung, pada Minggu (3/5/2026), kegiatan ini menjelma menjadi ruang temu lintas gagasan dan rasa. Di sana, bukan hanya tangan yang saling berjabat, tetapi juga visi yang saling menguatkan. Tema besar, “Mari Kita Gaungkan Persaudaraan Sumbagsel Bersatu yang Berlandaskan Asas Manfaat dan Silaturahmi”, bergema sebagai manifesto moral yang mengikat batin kolektif menuju arah kebermanfaatan yang nyata.

Kehadiran para tokoh pembina dan elemen masyarakat menegaskan bahwa gerakan ini bukanlah riak kecil, melainkan gelombang kesadaran. Sosok-sosok seperti Ir. Asep Permana, Dr. Toupik Arif, Ning Elatos, hingga H. Enov Can, M.Si., menjadi penanda bahwa kekuatan moral masyarakat sipil tetap hidup, bergerak, dan berdaya dalam menyulam harmoni sosial yang berkelanjutan.

Dalam perspektif hukum nasional, semangat kegiatan ini menemukan legitimasi kuat. Nilai persatuan dan kesatuan yang digaungkan sejalan dengan roh Undang-Undang Dasar 1945, khususnya dalam pembukaan yang menegaskan tujuan negara untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Lebih jauh, prinsip kemanfaatan sosial yang diusung mencerminkan amanat Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan yang menempatkan ormas sebagai pilar strategis dalam pembangunan nasional berbasis partisipasi masyarakat.

Ketua Persaudaraan Sumbagsel, Ir. Desi Sumantri, dalam pidatonya menyampaikan dengan nada tegas namun sarat makna, “Momentum ini bukan sekadar ajang temu kangen, melainkan ruang konsolidasi sosial yang produktif. Dari sinilah kita menenun kembali benang-benang persaudaraan yang sempat tercecer, lalu mengikatnya menjadi simpul kolaborasi demi kemaslahatan bersama, khususnya dalam mendorong pembangunan daerah di Bekasi yang kita cintai,” ungkap Desi Sumantri.

Sementara itu, Tokoh Muda Bekasi sekaligus Founder BAMBU Foundation, Eko Djatmiko, menyuarakan pandangan yang visioner dan menggugah, “Persaudaraan hari ini tidak cukup berhenti pada simbol dan seremoni. Ia harus ditransformasikan menjadi gerakan nyata yang adaptif terhadap tantangan zaman (ekonomi, pendidikan, hingga lingkungan-red). Sumbagsel Bersatu harus menjadi katalisator perubahan, bukan sekadar penjaga nostalgia,” ujarnya kepada awak media, Minggu (3/5/2026).

Tokoh Muda Bekasi, Eko Djatmiko (kanan) bersama Ex Ketum KASBI, Ning Elatos (tengah) di sela-sela acara Halal Bihalal Persaudaraan Sumbagsel, Minggu (3/5/2026).

Di tengah realitas sosial yang kerap diwarnai polarisasi dan kepentingan sempit, kegiatan ini tampil sebagai oase yang menawarkan narasi alternatif tentang Indonesia yang guyub, inklusif, dan berdaya. Ia mengingatkan bahwa kekuatan bangsa tidak semata terletak pada kebijakan negara, tetapi juga pada kohesi sosial yang dibangun dari bawah, dari komunitas-komunitas yang hidup dan berdenyut bersama rakyat. Pungkas pentolan Band United Smokers yang akrab disapa Obe.

Akhirnya, Halal Bihalal dan Tasyakuran ini bukanlah titik akhir, melainkan titik mula. Sebuah langkah kecil yang mengandung daya ledak besar bagi perubahan. Dari Bekasi, suara persaudaraan itu digaungkan, mengalir melintasi batas wilayah, menembus sekat identitas, dan menyatu dalam satu tekad: membangun Indonesia yang lebih adil, bermartabat, dan berkeadaban.
(CP/red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *