PDIP Ungkit Kembali Peran JK Jadikan Jokowi Presiden: Joko Widodo Itu Memang Selalu Berkhianat ke Orang Berjasa Besar…

JAKARTA – Pernyataan Jusuf Kalla (JK) yang mengungkap jasa dalam perjalanan politik Joko Widodo kembali memantik polemik. Tak sekadar menjadi perdebatan politik biasa, ungkapan tersebut membuka kembali jejak panjang relasi kekuasaan, peran elite, hingga dinamika internal partai yang mengiringi naiknya Jokowi dari wali kota hingga Presiden Republik Indonesia.

Polemik ini semakin memanas setelah politikus PDIP M Guntur Romli menilai pernyataan JK menguatkan kesan bahwa Jokowi telah “berkhianat” terhadap pihak-pihak yang berjasa dalam karier politiknya.

Bacaan Lainnya

“Kesan dari pernyataan Pak JK, Jokowi itu memang berkhianat dan melukai orang-orang yang berjasa besar padanya,” ujar Guntur kepada wartawan, Jakarta, Senin (20/4/2026).

Peran Strategis JK: Dari Solo ke Panggung Nasional

Dalam sejumlah pernyataannya, JK secara terbuka menyampaikan bahwa dirinya memiliki peran penting dalam mendorong Jokowi masuk ke panggung politik nasional. Ia mengklaim sebagai sosok yang membawa Jokowi dari Solo ke Jakarta untuk maju sebagai Gubernur DKI Jakarta.

“Siapa yang bawa Jokowi ke Jakarta? Saya yang bawa ke Jakarta dari Solo untuk jadi gubernur. Saya yang bawa,” ujar JK.

Tak hanya itu, JK juga mengungkap keterlibatannya dalam meyakinkan Megawati Soekarnoputri agar menyetujui pencalonan Jokowi dalam Pilgub DKI Jakarta 2012.

“Saya bertemu Ibu Mega. Ibu, ini calon baik orang PDIP. Ah, jangan, akhirnya beliau setuju,” kata JK.

Momentum tersebut menjadi titik balik penting. Setelah memenangkan Pilgub DKI Jakarta bersama Basuki Tjahaja Purnama, Jokowi mulai dipandang sebagai figur nasional dengan elektabilitas tinggi.

Dari Gubernur ke Presiden: Peran JK Kembali Menguat

Peran JK tidak berhenti di level gubernur. Ia juga mengklaim turut berperan dalam proses pencalonan Jokowi sebagai Presiden pada Pilpres 2014. Bahkan, JK menyebut dirinya diminta langsung oleh Megawati untuk mendampingi Jokowi sebagai calon wakil presiden.

“Saya yang bawa ke Jakarta. Kasih tahu semua itu, Jokowi jadi presiden karena saya. Kan tanpa gubernur, mana bisa jadi presiden,” ujar JK.

Narasi ini memperlihatkan bahwa JK tidak hanya berperan sebagai pendukung, tetapi juga sebagai penghubung strategis antara Jokowi dan elite politik nasional, khususnya di internal PDIP.

Respons PDIP: Narasi ‘Pengkhianatan’ Menguat

Pernyataan JK justru dimaknai berbeda oleh sebagian kader PDIP. Guntur Romli menilai bahwa pernyataan tersebut mempertegas adanya relasi yang retak antara Jokowi dan para tokoh yang sebelumnya berperan besar dalam perjalanan politiknya.

Ia menyebut sejumlah nama yang dianggap berjasa, seperti Megawati, Hasto Kristiyanto, hingga tokoh-tokoh lain seperti Ganjar Pranowo, Pramono Anung, Andika Perkasa, Tri Rismaharini, FX Hadi Rudyatmo, hingga Basuki Tjahaja Purnama.

Menariknya, Guntur juga memasukkan nama di luar PDIP seperti Anies Baswedan dan Tom Lembong sebagai pihak yang pernah membantu Jokowi.

“Dan tidak hanya ke orang-orang PDIP juga pada Pak Anies Baswedan dan Pak Tom Lembong yang semuanya pernah membantu Jokowi,” ucapnya.

Fakta Politik di Balik Klaim

Secara historis, perjalanan politik Jokowi memang tidak berdiri sendiri. Kemenangan di Pilgub DKI Jakarta 2012 merupakan hasil kombinasi dukungan partai, strategi kampanye, serta momentum politik saat itu.

Peran JK sebagai tokoh senior dengan jejaring luas di tingkat nasional memberi kontribusi signifikan, terutama dalam menjembatani komunikasi antar-elite. Namun demikian, keberhasilan Jokowi juga tak lepas dari faktor lain, termasuk citra sebagai pemimpin sederhana dan kedekatan dengan rakyat.

Di sisi lain, klaim JK juga mencerminkan realitas politik Indonesia, di mana patronase dan dukungan elite menjadi faktor penting dalam membangun karier politik seseorang.

Kontroversi dan Persepsi Publik

Pernyataan JK yang terkesan menegaskan “jasa politik” memunculkan dua persepsi di publik. Di satu sisi, ada yang melihatnya sebagai pengakuan jujur atas dinamika politik. Di sisi lain, ada pula yang menilai pernyataan tersebut membuka konflik lama yang sebelumnya tersembunyi.

Apalagi, istilah “Termul” yang disinggung JK, merujuk pada kelompok loyalis Jokowi, menjadi simbol adanya polarisasi di antara pendukung dan elite politik.

Relasi Kekuasaan yang Tak Pernah Sederhana

Polemik antara JK, Jokowi, dan PDIP menunjukkan bahwa perjalanan menuju kekuasaan selalu melibatkan banyak aktor dan kepentingan. Klaim tentang “siapa berjasa” menjadi bagian dari narasi politik yang kerap muncul ketika relasi mulai merenggang.

Yang jelas, peran JK dalam mengangkat Jokowi ke panggung nasional merupakan bagian penting dari sejarah politik Indonesia modern. Namun, bagaimana peran itu dimaknai hari ini, sangat bergantung pada sudut pandang politik masing-masing pihak.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *