Tausiyah Habib Aboe Bakar Alhabsyi: Jangan Mengejar Hidup Senang tapi…

Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan kompetitif, banyak orang terjebak dalam satu tujuan yang tampak sederhana namun seringkali menyesatkan: mengejar kesenangan.

Kesenangan dipersepsikan sebagai puncak keberhasilan hidup—ditandai dengan harta melimpah, jabatan tinggi, gaya hidup mewah, dan pengakuan sosial. Namun, benarkah kesenangan identik dengan kebahagiaan sejati? Ataukah ada sesuatu yang lebih dalam, lebih tenang, dan lebih bermakna yang justru sering terabaikan?

Bacaan Lainnya

Islam mengajarkan bahwa hidup bukanlah sekadar tentang kesenangan, melainkan tentang ketenangan. Kesenangan bersifat sementara, sedangkan ketenangan adalah keadaan jiwa yang lebih stabil dan mendalam. Oleh karena itu, penting bagi setiap muslim untuk meluruskan orientasi hidupnya—bukan mengejar senang, tetapi mengejar tenang.

Banyak Belum Tentu Cukup, Sedikit Belum Tentu Kurang

Seringkali manusia mengukur kecukupan dari jumlah yang dimiliki. Padahal, kenyataannya tidak demikian. Banyak orang yang memiliki harta berlimpah justru merasa gelisah, tidak puas, bahkan terus merasa kekurangan. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup sederhana namun merasa cukup dan bahagia.

Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)

Ayat ini menunjukkan bahwa nikmat Allah tidak selalu berbentuk materi yang besar. Bahkan hal-hal kecil seperti kesehatan, keluarga, dan ketenangan hati adalah nikmat yang tak ternilai. Ketika seseorang mampu menyadari hal ini, maka ia akan merasa cukup meskipun secara materi mungkin terbatas.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mempertegas bahwa ukuran kekayaan bukan pada apa yang dimiliki, tetapi pada bagaimana seseorang memandang apa yang ia miliki. Jika hati merasa cukup, maka sedikit pun akan terasa banyak.

Jangan Mengejar Senang, Tapi Mengejar Tenang

Kesenangan seringkali bersifat sesaat dan bergantung pada faktor eksternal. Ketika faktor tersebut hilang, maka kesenangan pun ikut hilang. Berbeda dengan ketenangan yang bersumber dari dalam hati, yang terhubung dengan keimanan dan kedekatan kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati hanya dapat diperoleh melalui hubungan yang kuat dengan Allah. Dzikir, shalat, dan ibadah lainnya bukan sekadar kewajiban, tetapi juga sarana untuk menenangkan hati.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan diberi sifat qana’ah terhadap apa yang Allah berikan kepadanya.” (HR. Tirmidzi)

Qana’ah adalah sikap menerima dengan lapang dada apa yang telah Allah tetapkan. Ini bukan berarti pasrah tanpa usaha, tetapi menerima hasil dengan penuh keikhlasan. Orang yang memiliki qana’ah akan merasakan ketenangan yang tidak tergantung pada banyak atau sedikitnya harta.

Hidup Sementara, Tapi Menentukan Akhirat

Kehidupan dunia hanyalah sementara. Namun, justru dalam kesementaraan inilah manusia menentukan nasibnya di akhirat. Oleh karena itu, mengejar kesenangan dunia semata tanpa memikirkan akhirat adalah kerugian besar.

Allah SWT berfirman:

“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Ayat ini mengingatkan bahwa kesenangan dunia bersifat fana dan bisa menipu jika dijadikan tujuan utama. Banyak orang yang terlena dengan gemerlap dunia hingga melupakan tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu beribadah kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang pengembara.” (HR. Bukhari)

Hadis ini mengajarkan agar kita tidak terlalu terikat dengan dunia. Seorang pengembara tidak akan membawa terlalu banyak beban, karena ia tahu bahwa perjalanannya hanya sementara.

Kebahagiaan Tidak Diukur dari Materi

Dalam masyarakat modern, kebahagiaan sering diukur dengan standar material: rumah mewah, kendaraan mahal, dan gaya hidup glamor. Namun Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada materi, melainkan pada hati yang bersyukur.

Allah SWT berfirman:

“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)

Syukur adalah kunci kebahagiaan. Orang yang bersyukur akan selalu melihat sisi positif dalam hidupnya, sehingga ia merasa cukup dan bahagia.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Lihatlah orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat orang yang berada di atas kalian, karena itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah.” (HR. Muslim)

Hadis ini mengajarkan perspektif yang sehat dalam melihat kehidupan. Dengan melihat orang yang kurang beruntung, kita akan lebih mudah bersyukur dan merasa cukup.

Larangan Berlebih-lebihan

Salah satu penyebab hilangnya ketenangan adalah sikap berlebih-lebihan dalam segala hal, baik dalam konsumsi, gaya hidup, maupun ambisi.

Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Ayat ini menegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan. Berlebih-lebihan tidak hanya merugikan secara materi, tetapi juga dapat merusak hati dan menjauhkan dari ketenangan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Sederhana dalam hidup adalah bagian dari iman.” (HR. Tirmidzi)

Kesederhanaan bukan berarti kekurangan, tetapi pilihan untuk hidup secukupnya. Dengan hidup sederhana, seseorang akan lebih mudah merasa cukup dan tenang.

Harta, Kekuasaan, dan Kenikmatan Bukan Ukuran

Banyak orang mengira bahwa harta, kekuasaan, dan kenikmatan dunia adalah indikator keberhasilan. Namun, dalam pandangan Islam, semua itu hanyalah ujian.

Allah SWT berfirman:

“Ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan.” (QS. Al-Anfal: 28)

Ayat ini mengingatkan bahwa apa yang kita miliki bukanlah tujuan, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang hartanya: dari mana ia peroleh dan ke mana ia belanjakan.” (HR. Tirmidzi)

Ini menunjukkan bahwa harta bukan sekadar untuk dinikmati, tetapi juga untuk dipertanggungjawabkan. Oleh karena itu, mengejar harta tanpa memperhatikan halal dan haram hanya akan membawa kegelisahan.

Melatih Hati untuk Sabar dan Bersyukur

Ketenangan hidup tidak datang begitu saja, tetapi harus dilatih. Dua kunci utama adalah sabar dan syukur.

Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153)

Sabar membantu seseorang menghadapi ujian dengan tenang, tanpa putus asa. Sementara syukur membantu seseorang menikmati nikmat dengan penuh kesadaran.

Allah juga berfirman:

“Sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13)

Ayat ini menunjukkan bahwa syukur adalah sesuatu yang langka, namun sangat berharga. Orang yang mampu bersyukur akan merasakan kebahagiaan yang tidak tergantung pada kondisi eksternal.

Hidup Sederhana adalah Bagian dari Iman

Kesederhanaan adalah ciri kehidupan Rasulullah SAW. Meskipun beliau memiliki kesempatan untuk hidup mewah, beliau memilih hidup sederhana.

Aisyah RA berkata:

“Keluarga Muhammad tidak pernah kenyang roti gandum selama tiga hari berturut-turut hingga beliau wafat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ini menunjukkan bahwa kesederhanaan bukanlah kekurangan, tetapi pilihan hidup yang penuh makna.

Rasulullah SAW bersabda:

“Beruntunglah orang yang diberi petunjuk kepada Islam, diberi rezeki yang cukup, dan merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim)

Kesederhanaan membuat seseorang lebih fokus pada hal-hal yang penting, seperti ibadah, keluarga, dan kontribusi kepada sesama.

Penutup: Kejar Ketenangan, Bukan Kesenangan

Pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa tenang hati kita dalam menjalaninya. Kesenangan bisa datang dan pergi, tetapi ketenangan adalah sesuatu yang bisa menetap jika kita menjaganya dengan iman, syukur, dan kesederhanaan.

Jangan mengejar hidup senang semata, karena itu bisa menipu. Kejarlah hidup yang tenang, karena di situlah letak kebahagiaan sejati.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang mampu menjalani hidup dengan penuh ketenangan, kesabaran, dan rasa syukur.

Jangan mengejar senang, tapi kejarlah hidup tenang. Ajari hati untuk selalu bersabar dan bersyukur dalam segala hal, karena nikmat Allah itu besar.

Barakallahu fiikum.

 

Oleh; Habib Aboe Bakar Alhabsyi, Anggota DPR RI dari Fraksi PKS Dapil Kalimantan Selatan I

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *