BALI – Di tengah semarak persiapan Hari Raya Nyepi 2026, sebuah karya ogoh-ogoh dari Banjar Tarukan, Desa Mas, Ubud, mencuri perhatian publik. Bukan hanya karena bentuknya yang disebut nyaris menyerupai batu alam, tetapi juga karena narasi filosofis yang menyertainya. Karya itu adalah “Tugu Mayang”, yang mendapat sorotan langsung dari Anggota DPR RI Dapil Bali Fraksi PDIP, I Nyoman Parta.
Namun di balik pujian tersebut, penelusuran lebih dalam mengungkap bahwa “Tugu Mayang” bukan sekadar karya seni festival. Ia menjadi cermin kegelisahan generasi muda Bali terhadap arah pembangunan, tekanan lingkungan, hingga perubahan nilai sosial di era digital.
Dari Kekaguman ke Pertanyaan
Dalam unggahan media sosialnya, Parta mengaku “diam, bengong, takjub” melihat detail ogoh-ogoh yang disebut sangat realistis. Ia juga menyoroti bagaimana imajinasi para kreator mampu menghadirkan visual menyerupai batu alam melalui teknik artistik.
Namun tim kami menelusuri lebih jauh: bagaimana karya ini dibuat? Apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh para pembuatnya? Dan mengapa narasinya terasa lebih “berat” dibanding ogoh-ogoh pada umumnya?
Jejak Kreator: Karya Kolektif dengan Disiplin Tinggi
“Tugu Mayang” lahir dari tangan anak-anak muda ST Pandawa, Banjar Tarukan Mas, Ubud. Tim kreator yang dikoordinatori oleh I Gede Fajar Juni Saputra bersama rekan-rekannya membangun karya ini bukan dalam hitungan hari, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan riset budaya, diskusi filosofis, hingga eksperimen material.
Hasil investigasi menunjukkan:
1. Material utama berasal dari besi bekas dan bahan ramah lingkungan
2. Finishing menggunakan teknik khusus berbasis tekstur menyerupai kerak alami
3. Teknik cat pointilis diterapkan untuk menciptakan efek visual hidup sekaligus menguji kesabaran pembuat
Seorang anggota tim kreator (yang enggan disebutkan namanya) mengungkapkan bahwa mereka sengaja menghindari bahan instan.
“Kami ingin menunjukkan bahwa karya besar tidak harus merusak alam. Justru dari barang bekas, kami bisa menciptakan sesuatu yang lebih bermakna.”
Simbol Tugu: Kritik Halus atas Arah Bali
Secara bentuk, ogoh-ogoh ini tidak menampilkan sosok raksasa atau butha kala yang umum dijumpai. Sebaliknya, ia mengambil bentuk tugu—simbol klasik dalam tata ruang Bali, khususnya konsep Catus Patha (persimpangan empat arah).
Namun di sinilah letak pesan tersembunyi.
1. Struktur tugu dengan empat figur Mayang yang saling menopang menggambarkan manusia modern yang tidak utuh:
2. Ada yang bisa melihat tapi tidak bergerak
3. Ada yang bergerak tapi tidak memahami arah
4. Ada yang mampu melakukan segalanya, tetapi kehilangan kepekaan
Interpretasi ini mengarah pada kritik sosial yang cukup tajam: Bali dinilai sedang mengalami “krisis arah”.
Narasi Lingkungan: Alarm dari Anak Muda
Kalimat pembuka dalam sinopsis karya ini cukup mencolok:
“Bali hari ini sedang diuji. Alam menanggung beban yang semakin berat…”
Tim investigasi menemukan bahwa narasi ini tidak muncul begitu saja. Beberapa anggota ST Pandawa mengaku terinspirasi dari kondisi nyata:
Alih fungsi lahan yang semakin masif
1. Kepadatan pariwisata di wilayah Ubud dan sekitarnya
2. Berkurangnya ruang sosial tradisional
3. Karya ini kemudian menjadi bentuk “perlawanan sunyi”—tidak dengan demonstrasi, tetapi melalui seni.
5. Tradisi vs Modernitas: Ogoh-Ogoh Naik Kelas?
Fenomena “Tugu Mayang” juga menandai pergeseran tren ogoh-ogoh di Bali. Jika sebelumnya lebih menonjolkan aspek visual dan kompetisi, kini mulai muncul karya yang:
1. Mengedepankan narasi filosofis
2. Menggunakan pendekatan konseptual
3. Mengangkat isu lingkungan dan sosial
I Nyoman Parta dalam unggahannya bahkan menilai karya ini sebagai bentuk pengingat arah kehidupan, bukan sekadar atraksi budaya.
Namun, sejumlah pengamat budaya yang diwawancarai menyebut fenomena ini juga memiliki tantangan:
1. Risiko makna tidak tersampaikan ke publik luas
2. Potensi komersialisasi ide filosofis
3. Ketimpangan antara banjar yang memiliki sumber daya dan yang tidak
Antara Spiritualitas dan Viralitas
Salah satu isu yang ikut disorot dalam narasi “Tugu Mayang” adalah fenomena “serba viral”. Ini mengarah pada realitas baru: ogoh-ogoh kini tidak hanya dipamerkan di jalan, tetapi juga di media sosial.
Tim menemukan:
1. Dokumentasi visual kini menjadi bagian penting proses kreatif
2. Desain ogoh-ogoh sering mempertimbangkan “daya tarik kamera”
3. Ada tekanan tidak langsung untuk tampil spektakuler
Namun ST Pandawa justru mengambil jalur berbeda: mereka menekankan makna dibanding sekadar sensasi visual.
Penutup: Sebuah Tugu, Sebuah Pertanyaan Besar
“Tugu Mayang” pada akhirnya berdiri bukan hanya sebagai karya seni, tetapi sebagai simbol pertanyaan:
Ke mana arah Bali saat ini?
1. Apakah pembangunan masih selaras dengan nilai budaya?
2. Dan apakah generasi muda hanya menjadi penonton, atau justru penjaga arah?
Dalam konteks ini, apresiasi dari I Nyoman Parta menjadi penting—bukan sekadar pujian, tetapi pengakuan bahwa suara anak muda melalui seni layak didengar.
Ogoh-ogoh ini mungkin akan diarak dan kemudian “dilebur” seperti tradisi Nyepi pada umumnya. Namun pesan yang dibawanya justru berpotensi bertahan lebih lama: bahwa Bali tidak hanya butuh keindahan, tetapi juga arah.






