JAKARTA – BELA RAKYAT – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Mendukbangga/Kepala BKKBN), Dr. H. Wihaji, S.Ag., M.Pd., menegaskan pentingnya ketahanan keluarga sebagai fondasi utama dalam membangun generasi yang berilmu, berakhlak, serta mampu menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Keluarga memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, menanamkan nilai-nilai kehidupan, dan mengembangkan potensi anak sejak usia dini.
Pesan tersebut disampaikan Wihaji dalam orasi ilmiah pada Wisuda Sarjana dan Magister Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) ke-34, Kamis (22/10/2026). Dalam kesempatan tersebut, ia mengangkat tema “Membangun Generasi Berilmu dan Berakhlak melalui Ketahanan Keluarga: Ikhtiar Bersama Mewujudkan Indonesia yang Unggul dan Berkemajuan”.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Wihaji menyoroti hubungan erat antara ketahanan keluarga, pendidikan, pembentukan karakter, dan kesiapan generasi muda menghadapi perubahan zaman. Ia menempatkan keluarga sebagai salah satu unsur penting dalam upaya menyiapkan sumber daya manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing.
“Ketahanan keluarga memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Keluarga menjadi ruang pertama bagi anak untuk belajar nilai kehidupan, membangun karakter, dan mengembangkan potensi diri,” demikian pesan yang disampaikan Wihaji dalam unggahan tersebut.
Keluarga sebagai Lingkungan Pertama Pembentukan Karakter
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama yang dikenal seorang anak sebelum memasuki lingkungan sekolah dan masyarakat. Di dalam keluarga, anak mulai mempelajari nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, penghormatan terhadap sesama, serta berbagai prinsip yang menjadi bekal dalam menjalani kehidupan.
Peran tersebut menjadikan keluarga tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai ruang pembentukan kepribadian dan penanaman nilai moral. Pola pengasuhan, komunikasi antara orang tua dan anak, serta keteladanan yang diberikan orang tua turut memengaruhi cara anak memahami kehidupan dan mengambil keputusan ketika tumbuh dewasa.
Dalam konteks pembangunan nasional, ketahanan keluarga menjadi semakin penting karena kualitas generasi mendatang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik. Kecerdasan intelektual perlu berjalan beriringan dengan kematangan emosional, integritas, kepedulian sosial, dan akhlak yang baik.
Generasi yang memiliki pengetahuan luas tetapi tidak dibekali karakter yang kuat akan menghadapi tantangan tersendiri dalam memanfaatkan ilmu dan keterampilannya. Karena itu, penguatan keluarga perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya membangun sumber daya manusia yang unggul.
Pendidikan dan Akhlak Harus Berjalan Beriringan
Tema orasi ilmiah yang disampaikan Wihaji menempatkan ilmu pengetahuan dan akhlak sebagai dua unsur penting dalam pembentukan generasi masa depan. Pendidikan tidak semata-mata bertujuan menghasilkan lulusan dengan gelar akademik, tetapi juga menyiapkan individu yang mampu menerapkan pengetahuan secara bertanggung jawab bagi masyarakat.
Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak sumber daya manusia yang kompeten, kritis, kreatif, dan adaptif. Namun, proses pendidikan tersebut perlu didukung lingkungan keluarga yang memberikan perhatian terhadap perkembangan karakter, perilaku, dan tanggung jawab sosial para generasi muda.
“Sinergi antara keluarga dan lembaga pendidikan menjadi salah satu kunci untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih menyeluruh. Nilai-nilai yang dipelajari di sekolah maupun perguruan tinggi dapat diperkuat melalui kebiasaan baik di rumah, komunikasi yang sehat, serta dukungan orang tua terhadap perkembangan anak,” tegas Wihaji.
Dengan demikian, lanjutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur melalui capaian akademik atau gelar yang diperoleh, tetapi juga melalui kemampuan seseorang untuk menggunakan ilmunya demi kepentingan yang lebih luas. Lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan, menjunjung etika, dan menjadi bagian dari solusi atas persoalan yang dihadapi masyarakat.
Generasi Muda Dituntut Adaptif Menghadapi Era Informasi
Selain menekankan pentingnya ketahanan keluarga, Wihaji juga menyoroti kesiapan generasi muda menghadapi perubahan zaman. Era informasi menuntut setiap individu untuk bergerak cepat, beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, serta mampu memanfaatkan informasi secara tepat dan bertanggung jawab.
Bagi para lulusan perguruan tinggi, tantangan tersebut menjadi bekal penting ketika memasuki dunia kerja dan menjalankan peran di tengah masyarakat. Persaingan yang semakin dinamis membutuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemauan untuk terus belajar, dan keterampilan dalam menghadapi perubahan.
“Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan memilah informasi juga menjadi hal penting. Generasi muda perlu memiliki kecakapan literasi digital agar mampu membedakan informasi yang dapat dipercaya dari informasi yang menyesatkan, sekaligus menggunakan teknologi untuk kegiatan produktif dan pengembangan diri,” tegasnya.
Ia memegaskan, dalam proses tersebut, keluarga dapat berperan sebagai tempat berdiskusi dan membangun kebiasaan menggunakan teknologi secara bijak. Pendampingan orang tua, komunikasi terbuka, dan penanaman nilai tanggung jawab menjadi bagian penting dalam membantu anak menghadapi berbagai pengaruh lingkungan digital.
“Kesiapan generasi muda tidak cukup hanya dibangun melalui penguasaan teknologi dan keterampilan profesional. Kemampuan beradaptasi juga perlu didukung karakter yang kuat agar perkembangan zaman dapat dihadapi tanpa kehilangan nilai moral, kepedulian terhadap sesama, dan identitas kebangsaan,” ucapnya.
Pembangunan Keluarga sebagai Investasi Jangka Panjang
Sejalan dengan mandat Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN, pembangunan keluarga menjadi salah satu upaya strategis untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Keluarga yang tangguh diharapkan mampu memberikan lingkungan yang mendukung pertumbuhan anak, memperkuat hubungan antaranggota keluarga, dan membangun kesiapan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Investasi dalam pembangunan keluarga memiliki dampak yang melampaui satu generasi. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang memberikan dukungan pendidikan, perhatian, pengasuhan yang baik, dan keteladanan berpeluang mengembangkan kemampuan dirinya secara lebih optimal,” ungkap Wihaji.
Meski demikian, terangnya, membangun ketahanan keluarga bukanlah tanggung jawab orang tua semata. Pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat, dunia usaha, dan berbagai organisasi sosial memiliki peran untuk menciptakan lingkungan yang mendukung keluarga dalam menjalankan fungsinya.
Dukungan terhadap keluarga dapat diwujudkan melalui peningkatan akses pendidikan, penguatan pengetahuan mengenai pengasuhan, penciptaan lingkungan yang aman bagi anak, serta perluasan kesempatan bagi generasi muda untuk mengembangkan potensi dan keterampilannya.
Upaya tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan dan melibatkan berbagai pihak. Dengan kolaborasi yang kuat, keluarga diharapkan mampu menjalankan perannya sebagai lingkungan pertama pembentukan karakter sekaligus salah satu pilar pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
Wisuda Menjadi Momentum Menyiapkan Kontribusi bagi Bangsa
Wisuda Sarjana dan Magister Universitas Al-Azhar Indonesia ke-34 menjadi momentum bagi para lulusan untuk melangkah ke tahap kehidupan berikutnya. Gelar akademik yang diperoleh merupakan hasil dari proses pembelajaran dan perjuangan, sekaligus membawa tanggung jawab untuk menerapkan ilmu pengetahuan secara bermanfaat.
Para lulusan diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi terus mengembangkan kompetensi, memperluas wawasan, dan berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan di masyarakat. Dunia kerja dan kehidupan sosial membutuhkan individu yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis, tetapi juga integritas, kepedulian, dan semangat pengabdian.
Dalam perjalanan tersebut, dukungan keluarga tetap memiliki arti penting. Keluarga dapat menjadi sumber motivasi, tempat bertukar pikiran, dan lingkungan yang menguatkan seseorang ketika menghadapi tantangan baru. Hubungan antara pendidikan tinggi dan pembangunan keluarga pun menjadi relevan dalam menyiapkan generasi yang mampu membangun kehidupan pribadi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“Bagi generasi muda yang kelak membangun keluarga, pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pendidikan dapat menjadi bekal untuk menciptakan lingkungan pengasuhan yang lebih baik. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga berpotensi menghadirkan dampak positif bagi generasi berikutnya,” sebut Wihaji.
Sinergi Mewujudkan Indonesia yang Unggul dan Berkemajuan
Pesan yang disampaikan Wihaji dalam orasi ilmiah tersebut menegaskan bahwa pembangunan manusia memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Pendidikan, pembentukan akhlak, kesiapan menghadapi perubahan zaman, dan ketahanan keluarga merupakan unsur yang saling berkaitan dalam mempersiapkan masa depan bangsa.
“Indonesia membutuhkan generasi yang memiliki kapasitas intelektual, karakter kuat, kemampuan beradaptasi, serta kesadaran untuk menggunakan pengetahuan bagi kepentingan masyarakat. Untuk mewujudkannya, pembangunan keluarga perlu berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pendidikan dan penciptaan kesempatan bagi generasi muda untuk berkembang,” jelasnya.
Pemerintah melalui Kemendukbangga/BKKBN memiliki peran dalam mendorong pembangunan keluarga sebagai bagian dari agenda pembangunan nasional. Pada saat yang sama, keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat perlu memperkuat kolaborasi agar nilai-nilai positif dapat tumbuh dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Ketahanan keluarga pada akhirnya bukan sekadar persoalan menjaga keutuhan rumah tangga, melainkan juga tentang kemampuan keluarga menjalankan fungsi pengasuhan, pendidikan, perlindungan, dan pembentukan karakter. Keluarga yang mampu menjalankan fungsi tersebut menjadi salah satu fondasi penting bagi lahirnya generasi yang berkualitas,” papar Wihaji.
Melalui penguatan ketahanan keluarga dan pendidikan yang berorientasi pada ilmu pengetahuan serta akhlak, cita-cita mewujudkan Indonesia yang unggul dan berkemajuan diharapkan semakin mendekati kenyataan. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya dibangun melalui kebijakan dan lembaga, tetapi juga melalui nilai-nilai yang ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga.






