Type to search

Opini

Sudah 75 Tahun Kemerdekaan: Kenapa Pribumi Miskin?

Share

 

Selalu saja penulis bertanya, mengapa rata-rata orang China, Arab dan para pendatang ke negeri ini kaya, sedangkan sebagian besar penduduk pribuminya kalah kaya atau kebanyakan miskin?

Saya meniatkan catatan ini dalam rangka menghargai dan meresapi kemerdekaan RI ke 75 tahun. Sudah tua RI ini, ya?

Ok. Harusnya pertanyaan “endemik” dan laten di atas itu dapat dijawab sejak di sekolah menengah hingga pasca sarjana. Pertanyaan wajar ini jangan ditindas dengan alasan SARA. Malahan SARA harus dibuka, diuraikan dan dibahas dengan Ilmiah, tanpa prasangka, dan tanpa prejudice.

Jawaban atas pertanyaan di atas ternyata berkaitan dengan cara pikir dan sikap hidup.

Memang, orang China, Arab atau pendatang lainnya wajar kaya karena tidak mengalami kendala dan halangan psikologis untuk bergeser (shifting) dari miskin atau hidup berkekurangan ke kaya atau berlimpah.

Lho, sebagian besar pribumi mengalami kendala dan halangan, ya? Iya! Kecuali para keturunan bangsawan, orang kaya dan orang yang sudah tergeser jiwanya melalui serangkaian pendidikan dan sekolah. Oleh karena itulah, pendidikan dan sekolah adalah alat yang efektif untuk bergeser dari miskin menjadi kaya.

Orang China atau Orang Arab tidak mengalami psikologis sebagai manusia terkekang, terkebiri, tidak berdaulat, tidak merdeka dan tertindas senyap oleh sistem masyarakat feodal. Karena mereka datang ke mari dengan jiwa merdeka guna memperbaiki nasib.

Memang feodalisme masih eksis? Masih! Hakikat feodal adalah membayangkan dirinya rendah derajatnya dan ada pihak lebih tinggi derajatnya dan karena itu kewajiban moral baginya untuk melayani pihak tersebut dan menghormatinya tetapi pada saat yang sama merendahkan derajatnya. Tapi dia memaknai tindakan dan pandangannya itu sebagai hal yang wajar, malahan terpuji. Misalnya, dia menghormati dan melayani bosnya secara berlebihan, kyainya, habibnya, komandannya, sehingga bagi atasannya itu secara tak bersalah berbuat terhadap orang yang merendahkan derajat itu laiknya jongosnya, budaknya, centengnya, kulinya, kroconya.

Faktor sosial psikologis inilah yang menemboki seseorang untuk emansipasi dan naik derajat untuk menjadi kaya dan merdeka. Berlainan dengan para pendatang seperti orang China dan Arab, untuk sekedar contoh. Mereka tidak mengalami itu. Mereka merasa sederajat saja dengan berbagai jenis manusia pribumi, mau bangsawan, tentara, polisi, pejabat atau orang kaya. Mereka memperlakukan ndoro-ndoro dan bos-bos pribumi itu sebagai kongsi atau partner untuk mencapai kejayaan saja.

Walhasil, persoalan kemiskinan kronis di Indonesia, tidak bisa dilihat sekedar perkara teknis, dimana keterampilan orang China dan Arab dalam mencapai kekayaan dianggap lebih baik dan maju dibandingkan orang pribumi. Persoalan kemiskinan yang mendera kaum pribumi hingga masa setelah 75 tahun kemerdekaan, berkaitan langsung dengan persoalan sosial psikologis yang menguratakar dalam kesadaran dan adat pergaulan di masyarakat.

Pribumi yang shifting menjadi kaya, hanya sebagian kecil saja, yaitu berasal dari kaum bangsawan, elit, orang kaya, orang terdidik dan orang yang dikatrol oleh patron politik dan bisnisnya. Selain itu, selamanya terkurung dalam jebakan penjara kemiskinan yang turun temurun.

Nah oleh karena itu, apapun training yang diberikan untuk mengubah hidup dari miskin menjadi kaya, pada sebagian besar kaum pribumi, tidak menjawab persoalan fundamental. Training motivasi semacam itu cocok untuk orang sekolahan dan untuk jualan forum saja.

Harusnya sejak sekolah dasar, kaum pribumi itu sedari kanak-kanak, dikenalkan, dilatih dan dididikkan arti hidup sebagai manusia berdaulat, berkepribadian merdeka, sehingga dari dasar sikap itu, dapat ditanamkan semangat untuk bersaing, mengejar harapan, kemauan yang kuat untuk hidup sesuai kodrat dirinya sebagai manusia.

Tidak ada manusia yang tak sudi dan bahagia diperlakukan sebagai pribadi yang dihargai dan dihormati. Kecuali manusia budak dan terpenjara secara sosial dari sistem feodalisme.

Saat ini, untuk dan agar dihargai orang, kenyataannya seseorang harus bebas dari kemiskinan atau punya dan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Istilahnya, seseorang hanya akan dihargai kalau dia kaya atau kalau dia punya jabatan. Itulah realita sosial yang tak bisa diabaikan dan disangkal. Mau apa lagi. Sudah begitu. Kecuali Anda mau lain sendiri, ingin hidup zuhud, wara’ dan ‘iffah. Tapi ya …hanya berkenaan dengan pilihan individu saja. Adapun nasib kaum pribumi yang banyak itu, haruskah diabaikan?

Masalahnya, untuk jadi kaya atau setidaknya tidak kekurangan materi, tidak semudah petunjuk dan klaimnya para motivator dan trainer. Seperti yang kita katakan tadi, kaum pribumi ini terpenjara oleh sistem masyarakat feodal dan mereka harus menjadi skrup atau sparepart dari sistem mesin feodal itu.

Jadi sekarang, tantangan kemerdekaan itu adalah menggusur dari kesadaran kaum pribumi itu sendiri feodalisme dalam berbagai artikulasinya. Mereka harus meraih dan menggenggam dengan kuat pentingnya arti kedaulatan dan otonomi diri. Bahkan kepada ustadz, kyai, habib, komandan, dan bos mereka, jika melanggar kedaulatan pribadi sebagai manusia merdeka yang setara di depan Allah dan hukum, maka harus berani bersikap dan menolak. Dan ini sesungguhnya problem psikologis, bukan? Tapi harus berani kaum pribumi itu bersikap merdeka kalau mau kaya.

Tak ada budak yang jadi kaya. Camkan itu.

~ The Indonesian Reform Institute

Tags:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *