JAKARTA Anggota Komisi III DPR RI Dapil Riau Siti Aisyah melontarkan peringatan keras dengan maraknya peredaran narkoba di Provinsi Riau. Siti menilai kondisi saat ini tidak lagi sekadar darurat, melainkan sudah memasuki fase yang jauh lebih mengkhawatirkan alias sudah laiknya disebut bencana Tsunami Peredaran Narkoba.
“Peredaran narkoba di Riau ini bukan lagi darurat, tapi sudah seperti tsunami peredaran narkoba. Situasinya sangat memprihatinkan dan mengancam masa depan generasi kita,” tegas Siti dalam keterangan tertulis tertulisnya kepada wartawan, Jakarta, Ahad (12/4/2026).
Investigasi: Dari Laporan Warga Hingga Aksi Massa
Sorotan Siti Aisyah ini usai mendapatkan informasi dari masyarakat. Diikuti mencuatnya peristiwa di Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir, Riau.
Berdasarkan penelusuran lapangan dan keterangan warga, kemarahan masyarakat telah lama terakumulasi akibat dugaan aktivitas peredaran narkoba yang terus berlangsung tanpa penanganan tegas.
Warga mengaku telah berulang kali melaporkan aktivitas mencurigakan tersebut kepada aparat setempat. Namun, menurut mereka, respons yang diterima tidak sebanding dengan tingkat keresahan yang dirasakan.
Situasi memuncak ketika ratusan warga melakukan penyerbuan terhadap rumah milik terduga bandar narkoba berinisial Ali. Aksi yang awalnya berupa protes berubah menjadi anarkis hingga berujung pembakaran rumah.
Dalam video yang viral di media sosial, seorang orator terdengar memperingatkan aparat:
“Kalau Bapak biarkan kami masyarakat bertindak, Pak. Bahaya, Pak!”
:Pernyataan itu menjadi simbol kekecewaan publik terhadap aparat penegak hukum yang dinilai lamban,” tegas Siti.
Data Mengkhawatirkan: Riau Jalur Rawan Narkoba
Mengacu pada berbagai sumber penegakan hukum dan pemberantasan narkotika, Riau selama ini dikenal sebagai salah satu pintu masuk utama narkoba dari jaringan internasional, terutama melalui jalur laut di pesisir timur Sumatra.
Beberapa temuan penting yang memperkuat kondisi tersebut antara lain:
1. Riau kerap menjadi lokasi pengungkapan penyelundupan narkoba skala besar oleh aparat.
2. Jalur perairan yang luas dan minim pengawasan menjadi celah masuk sindikat internasional.
3. Kasus penyalahgunaan narkotika di tingkat lokal terus meningkat, termasuk di wilayah pesisir seperti Rokan Hilir.
Siti Aisyah menilai data tersebut menunjukkan bahwa persoalan narkoba di Riau sudah bersifat sistemik dan membutuhkan penanganan luar biasa.
“Ini bukan kasus per kasus lagi. Ini sudah jaringan besar yang masuk sampai ke akar masyarakat. Negara tidak boleh kalah,” ujarnya.
Kritik terhadap Aparat: Lamban dan Kurang Responsif
Dalam perspektif investigatif, peristiwa di Panipahan juga mengungkap adanya kesenjangan antara laporan masyarakat dan tindakan aparat. Warga mengaku telah berkali-kali memberikan informasi, namun tidak diikuti langkah konkret.
Akibatnya, kepercayaan publik menurun dan memicu tindakan main hakim sendiri.
“Peredaran narkoba di Riau sangat memprihatinkan. Ketika masyarakat sudah kehilangan kepercayaan, ini alarm serius bagi aparat penegak hukum,” kata Siti.
Ia menegaskan bahwa pembiaran, sekecil apa pun, akan memperparah situasi dan membuka ruang bagi sindikat untuk semakin leluasa beroperasi.
Evaluasi dan Tindakan Tegas
Pasca kejadian tersebut, Herry Heryawan selaku Kapolda Riau mengambil langkah tegas dengan mencopot Kapolsek Panipahan Iptu Robiansyah dan Kanit Reskrim Aipda Rahmat Ilyas sebagai bentuk evaluasi internal.
Langkah ini dinilai sebagai respons awal, namun belum cukup untuk menjawab akar persoalan.
Desakan DPR RI: Penanganan Luar Biasa
Siti Aisyah mendesak aparat penegak hukum untuk:
1. Memperkuat pengawasan di jalur-jalur rawan penyelundupan
2. Menindak tegas jaringan bandar hingga ke akar
3. Meningkatkan respons terhadap laporan masyarakat
4. Memulihkan kepercayaan publik melalui tindakan nyata
“Negara harus hadir. Jangan sampai masyarakat merasa harus bertindak sendiri. Ini berbahaya bagi hukum dan ketertiban,” tegasnya.
Politisi PDIP ini juga mengingatkan, jika kondisi ini terus dibiarkan, maka dampaknya tidak hanya pada keamanan, tetapi juga pada kerusakan sosial yang lebih luas.
“Riau sedang menghadapi gelombang besar. Kalau tidak segera ditangani dengan serius, tsunami narkoba ini akan menghancurkan lebih banyak generasi,” pungkas Siti.






