PAPUA – BELA RAKYAT – Merah Pusaka Strategik Indonesia (MPSI) terus mendorong kemandirian pertanian masyarakat Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui praktik lapangan pengenalan lanjutan pengolahan tanah pertanian bersama peserta pelatihan, Rabu (21/10/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pelatihan dan Bimbingan Teknis Kemandirian Pertanian Terintegrasi yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam mengelola lahan pertanian secara produktif.
Melalui praktik langsung di lapangan, peserta mendapatkan pengenalan lanjutan mengenai tahapan pengolahan tanah sebagai persiapan sebelum penanaman, mulai dari mengenali kondisi lahan, membersihkan area tanam, menggemburkan tanah, hingga mempersiapkan lahan sesuai kebutuhan budi daya tanaman.
Pendekatan praktik lapangan memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar secara langsung, sehingga materi pelatihan dapat dipahami dan diterapkan dalam kegiatan pertanian sehari-hari.
Kaspa Rina Moiwend, salah satu ketua kelompok peserta pelatihan, mengungkapkan bahwa selama ini dirinya mempelajari pertanian secara mandiri dengan mengikuti pengalaman dan pengetahuan yang diwariskan orang tuanya.
“Selama ini saya belajar pertanian secara mandiri dari orang tua. Apa yang saya ketahui selama ini saya pelajari dari pengalaman dan melihat langsung bagaimana orang tua bekerja. Melalui pelatihan yang dilaksanakan MPSI ini, saya mendapatkan pengetahuan baru, terutama tentang cara pengolahan tanah yang baik sebelum ditanami. Saya berharap ilmu yang kami dapatkan bisa dipraktikkan bersama anggota kelompok agar pertanian di Kampung Wanam semakin berkembang dan memberikan manfaat bagi keluarga kami,” ujar Kaspa Rina Moiwend.
Pengalaman Kaspa menggambarkan bagaimana pengetahuan pertanian selama ini diperoleh masyarakat melalui pembelajaran keluarga dan praktik sehari-hari. Pelatihan menjadi kesempatan untuk memperkaya pengalaman tersebut dengan pengetahuan dan keterampilan baru yang dapat diterapkan dalam pengelolaan lahan.
Bagi peserta, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga kesempatan untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam mengembangkan pertanian bersama kelompok masing-masing.
Ketua Tim Pelatihan MPSI, Annas Fitrah Akbar, menegaskan bahwa pelatihan pertanian perlu dilaksanakan dengan pendekatan praktik langsung agar peserta tidak hanya memahami materi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan pertanian.
“Prinsip kami, pelatihan harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Peserta tidak cukup hanya mendengarkan penjelasan, tetapi perlu terlibat langsung dalam praktik. Dengan cara ini, mereka bisa belajar melalui pengalaman, memahami tahapan pengolahan tanah, dan nantinya menerapkan pengetahuan tersebut bersama kelompok tani masing-masing,” ujar Annas Fitrah Akbar.
Menurut Annas, masyarakat Kampung Wanam memiliki pengalaman dan pengetahuan lokal yang menjadi modal penting dalam pengembangan pertanian. Karena itu, kegiatan pelatihan perlu memperkuat pengetahuan yang sudah dimiliki masyarakat sekaligus membuka kesempatan untuk mempelajari teknik baru yang sesuai dengan kondisi lahan setempat.
“Kami ingin peserta semakin percaya diri dalam mengelola lahan pertanian. Harapannya, keterampilan yang diperoleh tidak berhenti setelah pelatihan selesai, tetapi diterapkan secara berkelanjutan sehingga kebun kelompok bisa berkembang dan menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian ekonomi keluarga,” tambahnya.
Ia juga menekankan pentingnya kerja sama antarpeserta agar proses belajar dapat berlangsung secara berkelanjutan. Melalui kelompok tani, peserta diharapkan dapat berbagi pengalaman, saling membantu dalam pengolahan lahan, dan mengembangkan kegiatan pertanian secara bersama-sama.
MPSI mendorong pengembangan pertanian di Kampung Wanam dengan bertumpu pada peningkatan keterampilan masyarakat dan pemanfaatan potensi lahan yang tersedia. Pengolahan tanah menjadi salah satu tahapan penting yang perlu dikuasai sebelum memasuki proses penanaman dan pemeliharaan tanaman.
Peserta diharapkan mampu menerapkan pengetahuan yang diperoleh untuk mempersiapkan lahan secara tepat serta menyesuaikan praktik pertanian dengan kondisi lingkungan setempat.
Selain meningkatkan keterampilan individu, kegiatan ini juga diarahkan untuk mendukung pengembangan kebun kelompok sebagai sarana belajar bersama, berbagi pengalaman, dan memperkuat kerja sama antarpeserta.
Pengembangan pertanian berbasis kelompok diharapkan dapat membantu masyarakat saling mendukung dalam proses pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman, hingga pengembangan hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan membuka peluang usaha produktif.
Pelatihan pertanian tidak cukup hanya memberikan pengetahuan, tetapi perlu dilanjutkan dengan praktik dan pendampingan secara berkelanjutan. Oleh karena itu, kegiatan lapangan menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan masyarakat agar semakin terampil mengelola usaha pertanian.
MPSI berharap peserta dapat menerapkan keterampilan yang diperoleh di lahan masing-masing maupun dalam pengembangan kebun kelompok. Keberlanjutan program ini diharapkan turut membuka peluang bagi tumbuhnya usaha pertanian produktif yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Kampung Wanam.
“Ke depan, pendampingan diarahkan pada penguatan keterampilan peserta, persiapan lahan tanam, serta pengembangan kegiatan pertanian kelompok agar manfaat pelatihan dapat dirasakan secara nyata oleh masyarakat” Tutup Annas.






