KEBUMEN – BELA RAKYAT – Wakil Ketua Badan Aspirasi Masyarakat (BAM) DPR RI dari Fraksi PKB Taufiq R. Abdullah menegaskan penanganan bencana di Indonesia harus bergeser dari reaktif menjadi preventif.
Hal itu disampaikan Taufiq saat membuka Festival Aspirasi di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Senin (5/10/2026).
Menurutnya, kesiapsiagaan masyarakat jauh lebih penting daripada sekadar penanganan pasca kejadian.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjadi alarm. Sepanjang tahun 2025 tercatat 4.727 kejadian bencana nasional, dan 99,26 persennya adalah bencana hidrometeorologi. Korban meninggal mencapai 1.666 jiwa dengan lebih dari 12,1 juta warga harus mengungsi. Tren ini berlanjut, hingga 22 April 2026 saja sudah terjadi 806 bencana.
“Potensi risiko seperti megathrust di pesisir selatan harus disampaikan secara proporsional. Bukan untuk menakut-nakuti, tapi untuk membangun kewaspadaan,” kata Taufiq.
Ia menilai Kebumen memiliki kerentanan yang kompleks. Wilayahnya membentang dari pegunungan di utara hingga pesisir selatan Jawa, sehingga rawan banjir, longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, gempa, hingga tsunami.
Melalui Festival Aspirasi, BAM DPR RI hadir langsung untuk menyerap aspirasi warga dan pemangku kepentingan terkait kesiapsiagaan bencana, yang nantinya akan menjadi rekomendasi kebijakan legislatif.
Penegasan tersebut disampaikan dalam pembukaan “Festival Aspirasi” di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, pada Senin (5/10/2026). Kegiatan ini merupakan agenda BAM untuk menyerap langsung aspirasi masyarakat di daerah rawan bencana.
Taufiq merujuk pada tingginya angka kebencanaan nasional. Berdasarkan data BNPB, tahun 2025 terjadi 4.727 bencana, didominasi 99,26% bencana hidrometeorologi yang mengakibatkan 1.666 korban jiwa dan pengungsian 12,1 juta warga. Sementara awal tahun 2026 hingga 22 April, sudah tercatat 806 kejadian.
Kabupaten Kebumen, lanjut Taufiq, menjadi perhatian khusus karena karakteristik geografisnya yang unik, dari kawasan pegunungan hingga garis pantai selatan. Kondisi ini membuat Kebumen menghadapi multi-ancaman: banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, hingga potensi gempa bumi dan tsunami akibat megathrust.
“Festival Aspirasi ini adalah komitmen kami untuk hadir lebih dekat. Kami ingin mendengar langsung pengalaman warga, memahami kebutuhan lapangan, dan mengawal aspirasi itu menjadi laporan serta rekomendasi kebijakan di DPR,” terang Taufiq, yang juga Ketua Tim Kunjungan BAM di Kebumen.
Di hadapan warga dalam Festival Aspirasi, Senin (5/10/2026), Wakil Ketua BAM DPR RI Taufiq R. Abdullah mengingatkan bahwa Kebumen adalah potret lengkap kerawanan bencana Indonesia. Di utara ada ancaman longsor dari pegunungan, di selatan ada ancaman banjir hingga megathrust dan tsunami.
Bayang-bayang risiko itu nyata. BNPB mencatat sepanjang 2025 ada 4.727 bencana di Indonesia, hampir semuanya (99,26%) adalah bencana hidrometeorologi. Dampaknya masif: 1.666 nyawa hilang dan 12,1 juta orang mengungsi. Bahkan hingga April 2026, sudah 806 bencana terjadi.
Karena itu, Taufiq meminta informasi soal potensi megathrust di selatan Jawa tidak ditutupi, namun juga tidak dibesar-besarkan hingga menimbulkan panik.
“Pengetahuan risiko harus membangun kesiapan mandiri masyarakat. Bukan sekadar tanggap darurat,” ujarnya.
Festival Aspirasi sendiri digelar sebagai jembatan. BAM ingin mendengar langsung cerita warga Kebumen, agar kebijakan penanggulangan bencana yang dibuat di Senayan benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan.






