Oleh : Lilis Sulastri | Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN SGD Bandung
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi jargon pembangunan, pertumbuhan ekonomi, dan inovasi teknologi, ada satu nilai paling mendasar yang perlahan menghilang dari kesadaran kolektif manusia, adalah etika merawat.
Ketika dunia modern dibangun atas logika
Menaklukan alam, menaklukkan waktu, dan sering kali menaklukkan manusia itu sendiri. Bumi dieksploitasi tanpa jeda, sementara ibu sebagai simbol dan aktor utama perawatan kehidupan direduksi menjadi peran domestik yang kerap dianggap tidak produktif.
Dan jika peradaban manusia masih bertahan hingga hari ini, bukan semata karena kecanggihan teknologi atau kekuatan modal saja, melainkan karena ada kerja di ruang sunyi yang menjaga kehidupan tetap berlanjut. Kerja itu bernama keibuan.
Ibu dan Mother Earth
Hampir di semua peradaban besar dunia, bumi dipersonifikasikan sebagai Mother Earth yang melahirkan, memberi makan, menopang kehidupan, dan memulihkan diri, bahkan setelah dilukai berulang kali. Ibu melakukan hal yang sama yakni mengandung, melahirkan, merawat, mendidik, dan sering kali mengorbankan dirinya demi keberlangsungan generasi berikutnya.
Namun ironi peradaban modern terjadi saat ini, kita memuliakan metafora Mother Earth dalam pidato dan seremoni, tetapi mengeksploitasinya dalam kebijakan dan praktik pembangunan. Kita memuji ibu dalam perayaan Hari Ibu, tetapi mengabaikan nilai-nilai keibuan dalam sistem ekonomi, politik, dan tata kelola lingkungan.
Vandana Shiva, filsuf dan aktivis lingkungan, menyebut bahwa krisis ekologi modern lahir dari cara pandang yang memisahkan manusia dari alam dan mereduksi alam sebagai objek eksploitasi. Cara pandang ini sejalan dengan marginalisasi perempuan dan ibu dalam struktur kekuasaan global. Eksploitasi bumi dan pelemahan peran ibu berasal dari akar yang sama yaitu logika ekstraktif yang mengabaikan keberlanjutan.
Krisis Ekologi sebagai Krisis Etika
Era kehidupan modern yang ditandai dengan berbagai krisis seperti krisis iklim, krisis pangan, krisis air, dan bencana ekologis yang berulang bukan hanya kegagalan teknis atau administratif saja namun lebih dalam lagi dianggap sebagai kegagalan etika peradaban.
Dunia terlalu lama bergerak tanpa prinsip keibuan, kehati-hatian, empati, dan tanggung jawab lintas generasi. Al-Qur’an mengingatkan secara tegas: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia…” (QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini bukan hanya peringatan ekologis, tetapi juga kritik moral. Kerusakan alam menjadi cermin dari rusaknya relasi etis manusia dengan bumi. Dalam perspektif ekoteologi Islam, manusia bukan pemilik mutlak alam, melainkan khalifah sebagai penjaga dan perawat. “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)
Menjadi khalifah berarti merawat, bukan menjarah. Dan nilai keibuan menemukan relevansinya yakni merawat kehidupan dengan kesadaran spiritual dan tanggung jawab moral.
Ibu di Garis Depan Krisis Global
Dalam realitas sehari-hari, ibu adalah pihak yang paling awal dan paling nyata merasakan dampak krisis ekologis dan ekonomi. Ketika harga pangan melonjak, ibu yang pertama kali menyesuaikan dapur keluarga. Ketika air bersih sulit diakses, ibu yang mengatur ulang kebutuhan rumah tangga. Ketika bencana datang, ibu yang memastikan anak-anak selamat, dan sering kali mengorbankan keselamatannya sendiri.
Namun paradoksnya, meski berada di garis depan krisis, ibu justru sering absen dalam pengambilan keputusan strategis. Dunia berbicara tentang green economy, sustainable development, dan climate resilience, tetapi lupa bahwa nilai-nilai tersebut telah lama hidup dalam etika keibuan dengan prinsip hidup secukupnya, berpikir jangka panjang, dan mengutamakan keselamatan generasi mendatang.
Ekonomi yang Mengabaikan Peran
Salah satu kegagalan besar ekonomi modern adalah ketidakmampuan menghitung kerja perawatan (care economy). Pekerjaan ibu yang mengasuh, mendidik, menjaga kesehatan emosional keluarga, tidak tercatat dalam Produk Domestik Bruto (PDB).
Filsuf ekonomi Karl Polanyi pernah mengingatkan bahwa ketika ekonomi terlepas dari nilai sosial dan moral, fondasi ekonomi masyarakat menjadi rentan. Dalam konteks ini, Al-Qur’an kembali mengingatkan tentang keseimbangan: “Dan langit telah Dia tinggikan dan Dia letakkan neraca (keadilan), supaya kamu jangan melampaui batas dalam neraca itu.” (QS. Ar-Rahman: 7–8)
Melampaui batas bukan hanya soal moral individu, tetapi juga soal sistem ekonomi yang rakus dan tidak berimbang.
Ibu, dan Masa Depan Peradaban
Hannah Arendt menekankan bahwa krisis modern muncul ketika manusia kehilangan kemampuan berpikir jangka panjang dan terjebak dalam kepentingan sesaat. Peran ibu menawarkan perspektif bagaimana pembangunan modern dibangun atas dasar berpikir lintas generasi.
Ibu tidak bertanya, “Apa untungnya hari ini?” tetapi, “Apakah ini aman bagi anakku esok hari?” Tanpa perspektif keibuan, pembangunan berubah menjadi perampasan masa depan. Kemajuan yang tidak beretika hanyalah percepatan menuju krisis berikutnya.
Indonesia dan Etika Keibuan
Dalam konteks Indonesia, peran ibu sangat sentral, dari ketahanan keluarga, ekonomi informal, menjaga nilai sosial dan lingkungan. Namun kebijakan publik masih sering memposisikan ibu sebagai objek program, bukan subjek peradaban.
Jika Indonesia ingin sungguh-sungguh membangun masa depan berkelanjutan, maka ibu harus ditempatkan di pusat kebijakan ekonomi, ekologi, dan sosial. Bukan sekadar simbol Hari Ibu, tetapi sebagai aktor strategis penjaga peradaban.
Hari Ibu harus menjadi momentum refleksi peradaban, bukan sekadar seremoni. Menghormati ibu berarti menghormati bumi. Menghormati kehidupan itu sendiri. Al-Qur’an menutup dengan pengingat yang relevan bagi dunia hari ini, bahwa : “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Jika dunia ingin selamat dari krisis yang diciptakannya sendiri, maka kita harus belajar kembali pada etika paling manusiawi dan paling spiritual, juga paling purba, adalah etika seorang ibu.
Selamat Hari Ibu
Wallahu’a’lam bis showaab
Cambridge, 22 Desember 2025






