JAKARTA – Mantan Anggota DPR RI, Hafisz Tohir, memberikan apresiasi terhadap kinerja para menteri dalam kabinet pemerintahan Prabowo Subianto, khususnya dalam menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, ia juga mengingatkan bahwa kebijakan yang baik belum tentu selalu tepat sasaran di lapangan.
Menurut Hafisz, berbagai langkah yang diambil pemerintah menunjukkan adanya kerja keras dan keseriusan dalam menghadapi tantangan ekonomi global maupun domestik.
“Para menteri sudah bekerja cukup keras. Ibarat dokter, mereka sudah memberikan resep yang terbaik berdasarkan diagnosis yang ada,” ujarnya dalam keterangannya, Kamis (2/4/2026).
Ekonomi Tumbuh, Tapi Tantangan Masih Nyata
Secara makro, kinerja ekonomi Indonesia menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga, inflasi relatif terkendali, serta konsumsi domestik menjadi penopang utama di tengah ketidakpastian global.
Pemerintah juga dinilai aktif mendorong investasi, hilirisasi industri, serta penguatan sektor UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
Namun demikian, Hafisz menilai bahwa capaian tersebut belum sepenuhnya dirasakan merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Obat dari dokter, meskipun sudah bagus, belum tentu cocok dengan penyakit yang diderita pasien. Begitu juga kebijakan ekonomi. Secara konsep baik, tapi implementasinya harus benar-benar sesuai dengan kondisi riil masyarakat,” jelasnya.
Masalah Daya Beli dan Kesenjangan
Hafisz menyoroti masih adanya persoalan klasik seperti daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya, serta kesenjangan ekonomi antarwilayah.
Di beberapa daerah, pelaku usaha kecil masih menghadapi tekanan biaya produksi, akses pembiayaan, hingga fluktuasi harga bahan pokok.
Ia menilai, kebijakan makro perlu diiringi dengan pendekatan mikro yang lebih tajam dan adaptif.
“Jangan sampai angka pertumbuhan terlihat baik di atas kertas, tetapi di bawah masyarakat masih kesulitan,” tegasnya.
Investasi Asing Melambat, Alarm Baru Ekonomi
Selain itu, Hafisz juga menyoroti tren penurunan investasi asing sebagai tantangan serius yang perlu segera diantisipasi pemerintah.
Menurut Hafisz, melemahnya minat investor global dapat berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, serta pertumbuhan sektor industri.
“Penurunan investasi asing ini harus menjadi alarm. Kita tidak bisa hanya bergantung pada konsumsi domestik. Perlu strategi yang lebih agresif untuk menarik kembali kepercayaan investor,” ujarnya.
Ia menilai, faktor kepastian hukum, kemudahan berusaha, serta stabilitas kebijakan menjadi kunci utama dalam menarik investasi ke Indonesia.
“Investasi asing yang menurun menjadi tantangan yang cukup serius saat ini,” tegas Hafisz.
Evaluasi Kebijakan: Perlu Presisi dan Fleksibilitas
Dalam pandangannya, tantangan utama pemerintah saat ini bukan hanya merumuskan kebijakan, tetapi memastikan kebijakan tersebut tepat sasaran.
Hafisz mendorong agar evaluasi dilakukan secara berkala, termasuk membuka ruang koreksi terhadap program-program yang dinilai kurang efektif.
“Kalau resepnya belum cocok, jangan ragu untuk mengganti atau menyesuaikan. Itu hal yang wajar dalam pemerintahan,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antar kementerian agar kebijakan ekonomi tidak berjalan parsial.
Harapan ke Depan: Pertumbuhan Berkualitas
Lebih jauh, Hafisz berharap pemerintah tidak hanya fokus pada angka pertumbuhan, tetapi juga kualitas pertumbuhan itu sendiri—termasuk penciptaan lapangan kerja, pemerataan pembangunan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, keberhasilan ekonomi harus diukur dari dampaknya terhadap kehidupan rakyat sehari-hari.
“Yang paling penting adalah apakah masyarakat merasa lebih sejahtera. Itu indikator utama,” pungkasnya.
Antara Optimisme dan Realitas
Pernyataan Hafisz Tahir mencerminkan kombinasi antara apresiasi dan kritik konstruktif terhadap kinerja pemerintah. Di satu sisi, ada pengakuan atas kerja keras para menteri. Namun di sisi lain, ada dorongan kuat agar kebijakan lebih presisi dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, keseimbangan antara strategi makro dan realitas mikro—termasuk kemampuan menarik investasi asing—dinilai menjadi kunci bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi Indonesia.






