Oleh : Ridha Furqon Wahyu Ramdhani, S.Sos.
(Pengamat Politik)
Dengan beredarnya kabar mengenai pemecatan yang dialami oleh mantan bupati KSB Musyafirin. Peristiwa demikian memberikan peta politik baru dalam perpolitikan KSB. Pemecatan dilakukan oleh partainya, DPD PDIP NTB akibat daripada pilihan yang diambil musyafirin dalam mempertahankan jabatannya di kursi Komisaris Bank NTB.
Amar Nurmansyah sebagai Bupati KSB saat ini mendapatkan momentum strategis dalam mengambil sikap dan langkah politiknya kedepan, mengingat hubungan Patron dan Protégé yang terjalin antara Musyafirin dan Amar Nurmansyah sudah berjalin semenjak Musyafirin sebagai Bupati KSB dan Amar sebagai Sekdanya.
Dalam menganalisa peristiwa politik yang cukup strategis tersebut, maka paradigma yang penulis coba gunakan adalah Rational Choice Theory dan Patronage Theory. Kedua paradigma tersebut digunakan dalam rangka membaca pilihat startegis yang harus segera diambil Amar Nurmansyah demi menciptakan keuntungan politik yang besar dan meminimalisir kerugian politiknya. Mengingat bahwa dalam setiap hubungan Patronase, apabila sang Patron jatuh, maka secara logis akan memberikan konsekuensi kepada Protégénya.
Mengambil sikap untuk merapat ke gerbong politik dengan power yang besar sudah semestinya dilakukan, meskipun harus mengorbankan hubungan Patronase dan Protégé yang sudah terjalin. Kehatian-hatian dalam mengambil manuver politik memang pilihan yang bijaksana, namun melihat kesempatan secara pragmatis dan rasional turut memberikan posisi aman bagi politik Amar Nurmansyah kedepan.
Merapat ke partai dengan komposisi kursi yang besar dalam DPRD KSB adalah pilihan logis, melihat bahwa terujinya partai dalam hal elektoral hingga ke modal politik lainnya dibuktikan dengan perolehan kursi di DPRD KSB. Dua partai besar tersebut adalah Gerindra dengan 20 kursi dan Golkar dengan perolehan 4 kursi. Turut juga melihat bahwa koalisi besar dalam politik Nasional dipegang oleh Gerindra, serta Golkar termasuk di dalamnya. maka dapat dilihat bahwa kedua partai tersebut memiliki posisi strategis yang harus dipertimbangkan Bupati Amar Nurmansyah dalam memuluskan langkah politiknya di 2029.
Pada akhirnya, Amar Nurmansyah memiliki kesempatan untuk konsolidasi politik dengan merapat ke partai besar dan menjadi patron baru dalam kancah politik KSB apabila siap melepaskan hubungan Patronase sebelumnya dan memperkuat posisi politiknya dengan menjalin relasi politik dengan partai besar di KSB.
Jakarta, Kamis (22/10/2026).
(CP/red)






