Sibuk: Ketika Waktu Jadi Alasan dan Kepentingan Jadi Ukuran

Oleh: Munawir Kamaluddin, Ketua Umum IKA Darul Istiqamah

Sibuk adalah bagian dari kehidupan. Namun, di balik kesibukan, sering kali tersembunyi persoalan prioritas, bukan semata-mata kekurangan waktu, melainkan kepada siapa waktu itu diberikan dan untuk apa digunakan.

Kita mudah meluangkan waktu bagi mereka yang memiliki jabatan, kekuasaan, jaringan, atau keuntungan. Sebaliknya, orang yang dianggap tidak memberi manfaat duniawi perlahan dijauhkan. Silaturahim pun seolah hanya bernilai ketika mendatangkan keuntungan, bukan karena persaudaraan dan kemanusiaan.

Lebih ironis lagi, demi mengejar ambisi duniawi, manusia terkadang menomorduakan ibadah dan melupakan Allah SWT. Kita begitu sibuk mencari keuntungan, hingga lupa bahwa waktu, kesempatan, dan kehidupan adalah amanah dari Sang Pencipta.

Padahal, silaturahim tidak selalu menghasilkan materi, tetapi dapat menghadirkan ketenangan, nasihat, doa, dan kepedulian. Menjaga hubungan dengan sesama juga merupakan bagian dari penghambaan kepada Allah.

Kesuksesan duniawi penting, tetapi jangan sampai mengorbankan kemanusiaan, persaudaraan, dan tanggung jawab spiritual.

Kesibukan sejatinya bukan sekadar soal banyaknya pekerjaan, melainkan tentang apa yang kita prioritaskan.

Dari cara kita membagi waktu, terlihat nilai yang kita pegang; dari cara kita memperlakukan sesama, tercermin kualitas kemanusiaan; dan dari kesungguhan beribadah, tampak kesadaran kita akan Allah SWT.

Jangan terlalu sibuk mencari manusia yang menguntungkan, hingga melupakan mereka yang layak dihargai karena ketulusan. Jangan pula terlalu tekun mengejar dunia, hingga tak tersisa waktu untuk beribadah dan berbuat baik.

Sebab, waktu bukan sekadar angka yang terus berjalan, melainkan amanah yang kelak dipertanggungjawabkan. Jangan biarkan kesibukan menjauhkan hati dari sesama dan melalaikan kita dari Sang Pencipta.

Semoga Allah SWT membimbing kita agar bijak mengatur waktu, tulus menjaga silaturahim, dan senantiasa menempatkan dunia sebagai jalan menuju kebaikan, bukan alasan untuk melupakan-Nya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *