JAKARTA – BELA RAKYAT – Istana Kepresidenan kembali menjadi pusat perhatian setelah Presiden Prabowo Subianto melantik jajaran Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.
Komposisi Wantimpres kali ini mempertemukan tokoh dengan latar belakang yang beragam, mulai dari mantan pejabat pemerintahan, politisi, ulama, akademisi, pengusaha, purnawirawan TNI-Polri, hingga tokoh publik. ANTARA melaporkan Pratikno dilantik sebagai Ketua Wantimpres dan Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua bersama 24 anggota lainnya.
Dalam daftar yang beredar dan menjadi rujukan pemberitaan, nama Bambang Soesatyo atau yang akrab disapa Bamsoet menjadi salah satu figur yang menarik perhatian. Namanya berada di antara deretan tokoh yang kini mendapat penugasan dalam lembaga pertimbangan Presiden.
Bagi Bamsoet, masuknya nama tersebut dalam jajaran Wantimpres menjadi bagian terbaru dari perjalanan panjang yang telah dilaluinya selama lebih dari empat dekade, mulai dari dunia jurnalistik, bisnis, organisasi kemasyarakatan, Partai Golkar, DPR RI, hingga pernah memimpin DPR dan MPR RI.
26 Nama dalam Daftar Wantimpres
Berikut susunan nama berdasarkan urutan yang tercantum dalam daftar sumber:
1. Pratikno — Ketua
2. M. Hatta Rajasa — Wakil Ketua
3. M. Qodari — Sekretaris
4. Budi Gunawan
5. Agum Gumelar
6. Ida Bagus Purwalaksana
7. Philip Kuntjoro Widjaja
8. Jusuf Wanandi
9. Anwar Usman
10. Jusuf Hamka
11. Rocky Gerung
12. Chairul Tanjung
13. Anwar Iskandar
14. Dato’ Sri Tahir
15. Salim Segaf Al Jufri
16. Bambang Soesatyo
17. Margarito Kamis
18. Soekarwo
19. Yahya Cholil Staquf
20. Quraish Shihab
21. Said Aqil Siradj
22. Sinta Nuriyah Wahid
23. Mohammad Hatta
24. Budi Tanoe Wibowo
25. Ignasius Jonan
26. Zaki Manuputty
Bamsoet, Dari Dunia Jurnalistik hingga Ruang Parlemen
Nama Bambang Soesatyo (Bamsoet) memiliki perjalanan yang cukup panjang sebelum sampai pada posisi politik tingkat nasional.
Profil resmi MPR mencatat Bamsoet lahir di Jakarta pada 10 September 1962. Ia berasal dari keluarga tentara dan menjalani masa pendidikan awal di Jakarta. Data MPR mencatat pendidikan SMA ditempuh pada 1978–1981, kemudian Akademi Accounting Jayabaya hingga 1987, Sekolah Tinggi Ekonomi Indonesia hingga 1987, program MBA IM Newport Indonesia pada 1988–1991, serta pendidikan doktoral Ilmu Hukum di Universitas Padjadjaran yang diselesaikan pada 2023.
Perjalanan pendidikan tersebut memperlihatkan perubahan bidang yang cukup luas. Bamsoet memulai dari pendidikan ekonomi dan bisnis, kemudian memperdalam ilmu hukum hingga memperoleh gelar doktor.
Pada Januari 2023, ia menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran. Disertasinya membahas peranan dan bentuk hukum Pokok-Pokok Haluan Negara sebagai payung hukum pembangunan berkesinambungan dalam menghadapi Revolusi Industri 5.0 dan Indonesia Emas.
Pernah Ingin Jadi Dokter, Justru Masuk Dunia Pers
Salah satu bagian menarik dalam perjalanan hidup Bamsoet adalah pilihan profesinya pada masa muda.
Dalam wawancara yang dimuat MPR, Bamsoet menceritakan bahwa dirinya sempat bercita-cita melanjutkan pendidikan kedokteran di Universitas Indonesia. Namun, rencana tersebut tidak terwujud dan ia kemudian memilih jalur pendidikan ekonomi.
Ia juga pernah menceritakan bahwa keluarganya berasal dari latar belakang tentara dengan kondisi ekonomi yang sederhana. Setelah ayahnya meninggal ketika Bamsoet masih remaja, ia menggunakan sebagian peninggalan keluarga untuk membantu membiayai pendidikannya.
Alih-alih langsung memasuki dunia politik, Bamsoet justru mengawali perjalanan profesionalnya sebagai wartawan.
Pada 1985, ia tercatat bekerja sebagai wartawan Harian Umum Prioritas. Setelah itu ia berkiprah di Majalah Vista dan kemudian menjadi Pemimpin Redaksi Majalah Info Bisnis pada 1991. Perjalanan jurnalistiknya kemudian mencapai salah satu posisi penting ketika ia dipercaya menjadi Pemimpin Redaksi Harian Umum Suara Karya pada 2004.
Dari Pers Merambah ke Dunia Usaha
Pengalaman sebagai jurnalis kemudian berjalan beriringan dengan kiprah Bamsoet di dunia usaha.
Data resmi MPR mencatat sejumlah posisi profesional yang pernah dijalani, antara lain sebagai Direktur PT Info Jaya Abadi, pimpinan redaksi Majalah Info Bisnis, Direktur Harian Umum Suara Rakyat, serta Direktur Kodeco Timber. Ia juga pernah menduduki posisi sebagai komisaris dan direktur pada sejumlah perusahaan.
Dengan demikian, sebelum menjadi politisi nasional, Bamsoet telah melewati tiga dunia sekaligus: media, bisnis, dan organisasi.
Jejak tersebut kemudian menjadi modal pengalaman ketika ia mulai semakin aktif dalam organisasi kemasyarakatan dan politik.
Karier Organisasi dan Kedekatan dengan Golkar
Keterlibatan Bamsoet dalam organisasi telah dimulai sejak masa mahasiswa.
Ia tercatat pernah aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan, termasuk Himpunan Mahasiswa Islam dan organisasi pers mahasiswa. Data profil MPR juga mencatat kiprahnya di HIPMI, KADIN, KNPI, Kosgoro, AMPI, Pemuda Pancasila, serta berbagai organisasi lainnya.
Dalam lingkungan Partai Golkar, perjalanan Bamsoet juga berlangsung cukup panjang. Ia pernah menjadi Ketua Biro Majelis Dakwah Islamiyah Partai Golkar, masuk dalam Badan Pemenangan Pemilu, menjadi penasihat bidang informasi dan komunikasi, Wakil Bendahara Umum, hingga Bendahara Umum.
Profil MPR mencatat berbagai posisi organisasi tersebut berlangsung sejak dekade 1990-an hingga periode berikutnya.
Masuk DPR dan Memasuki Panggung Politik Nasional
Bamsoet kemudian memasuki parlemen. Ia menjadi anggota DPR RI dan menjalankan tugas di sejumlah alat kelengkapan dewan.
Dalam perjalanan di DPR, ia pernah duduk di Komisi III dan Badan Anggaran. Setelah itu, ia dipercaya memimpin Komisi III DPR RI yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan.
Kariernya kemudian mencapai titik penting ketika pada Januari 2018 ia dipercaya menjadi Ketua DPR RI. Ia menduduki posisi tersebut hingga September 2019.
Dari Ketua DPR ke Ketua MPR
Perjalanan Bamsoet berlanjut ke lembaga permusyawaratan negara.
Pada 2019, ia terpilih menjadi Ketua MPR RI untuk periode 2019–2024. ANTARA mencatat pemilihannya sebagai Ketua MPR dilakukan dalam Sidang Paripurna MPR pada Oktober 2019.
Sebagai Ketua MPR, Bamsoet menjalankan sejumlah tugas konstitusional, termasuk memimpin lembaga permusyawaratan dan menjalankan fungsi kelembagaan MPR sebagaimana diatur dalam konstitusi.
Data MPR juga mencatat Bamsoet sebagai Ketua MPR RI periode 2019–2024.
Keluarga Menjadi Bagian Penting Perjalanan Bamsoet
Di balik perjalanan politik dan profesionalnya, kehidupan keluarga juga menjadi bagian yang cukup menonjol dalam sejumlah dokumentasi publik Bamsoet.
Bamsoet diketahui memiliki delapan anak. Sejumlah momen pernikahan putra-putrinya juga pernah menjadi perhatian publik karena dihadiri sejumlah tokoh nasional.
Pada 2023, misalnya, putri ketujuhnya, Debby Pramestya Putri, menikah dengan Iptu Nurul Farouq Fadillah. Dalam kesempatan tersebut Bamsoet menyebut Debby sebagai putri ketujuh dari delapan bersaudara.
Sebelumnya, pada 2024, Bamsoet juga mengungkapkan bahwa enam dari delapan anaknya telah menikah ketika putrinya Saras Shintya Putri melangsungkan pernikahan.
Hubungan dengan keluarga besar juga beberapa kali ditunjukkan Bamsoet melalui kegiatan silaturahmi dan ziarah. Pada Februari 2024, misalnya, ia berziarah ke makam ayahnya, S.E. Prijono, di Salatiga. Sang ayah disebut wafat pada 6 Januari 1977 ketika Bamsoet masih berusia 15 tahun.
Pengalaman Politik, Ekonomi, Hukum hingga Kebangsaan
Jika dirangkum, perjalanan Bamsoet tidak hanya berada di satu ruang.
Ia pernah menjadi wartawan, kemudian masuk dunia usaha, aktif dalam organisasi, berkarier di Partai Golkar, menjadi anggota DPR, memimpin Komisi III, menjadi Ketua DPR RI, kemudian memimpin MPR RI.
Pengalaman tersebut juga diikuti dengan pendidikan lanjutan di bidang hukum. Gelar doktor yang diperoleh dari Universitas Padjadjaran pada 2023 melengkapi latar belakang akademiknya yang sebelumnya lebih banyak berada pada bidang ekonomi dan bisnis.
Bamsoet dan Perkembangan Politik Nasional hingga 2026
Dalam perkembangan terbaru, Bamsoet tetap tercatat sebagai anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar untuk periode 2024–2029 berdasarkan data riwayat hidup MPR.
Pada 2026, ia masih aktif menyampaikan pandangan mengenai berbagai agenda nasional. Dalam pernyataan yang dimuat MPR pada Agustus 2026, Bamsoet tercatat sebagai anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar sekaligus disebut sebagai Ketua MPR RI ke-15 dan Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan KADIN Indonesia.
Jejak tersebut kini berlanjut dengan masuknya nama Bamsoet dalam jajaran Wantimpres yang dilantik Presiden Prabowo pada 2 Oktober 2026.
Dari Aktivis Muda hingga Wantimpres
Perjalanan Bamsoet pada akhirnya memperlihatkan lintasan karier yang panjang: dimulai dari keluarga dengan latar belakang tentara, menjalani pendidikan ekonomi, mencoba jalur jurnalistik, memasuki dunia bisnis, aktif di organisasi, membangun karier di Partai Golkar, kemudian masuk DPR dan menduduki sejumlah posisi strategis di parlemen.
Dari perjalanan tersebut, penugasan di Wantimpres menjadi babak terbaru dalam kiprahnya di level nasional.
Sementara itu, susunan Wantimpres yang diumumkan hari ini mempertemukan Bamsoet dengan sejumlah nama dari latar belakang berbeda. Pratikno dan Hatta Rajasa berada di posisi pimpinan, sementara sejumlah tokoh lain seperti Budi Gunawan, Agum Gumelar, Chairul Tanjung, Rocky Gerung, Quraish Shihab, Yahya Cholil Staquf, Said Aqil Siradj, hingga Ignasius Jonan tercantum dalam daftar tersebut.
ANTARA kemudian melaporkan Presiden Prabowo melantik Pratikno sebagai Ketua Wantimpres, Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua, bersama 24 anggota lainnya di Istana Negara pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Dengan demikian, daftar Wantimpres kali ini bukan sekadar berisi nama-nama dengan latar belakang politik. Komposisinya mencakup pengalaman pemerintahan, militer, kepolisian, keagamaan, akademik, bisnis, hukum, media, serta organisasi kemasyarakatan.
Dan di antara nama tersebut, Bambang Soesatyo membawa perjalanan yang panjang dari dunia pers dan usaha menuju panggung parlemen nasional, hingga kini masuk dalam lingkaran lembaga pertimbangan Presiden.






