Bulukumba Harus Jadi Kabupaten Pengusaha

Oleh: Syafruddin Mualla, Ketua Umum Forum Komunikasi Pengusaha Bulukumba (FKPB), Wakil Ketua Umum KADIN Sulawesi Selatan

Bulukumba tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengubah potensi menjadi kekuatan ekonomi.

Bacaan Lainnya

Pertanian, perikanan, kelautan, pariwisata, perdagangan, industri, dan sumber daya manusia merupakan modal besar yang dimiliki Bulukumba. Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana menemukan potensi baru, tetapi bagaimana mengubah potensi tersebut menjadi usaha, investasi, industri, lapangan kerja, dan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.

Data BPS menunjukkan PDRB Bulukumba atas dasar harga berlaku pada 2025 mencapai sekitar Rp21,63 triliun. Dari jumlah tersebut, sektor primer mencapai sekitar Rp8,67 triliun, sektor sekunder Rp3,82 triliun, dan sektor tersier Rp9,13 triliun. Struktur ini menunjukkan aktivitas ekonomi Bulukumba sudah besar, sekaligus memperlihatkan ruang untuk memperkuat sektor pengolahan dan industri agar semakin banyak nilai tambah tercipta dan berputar di daerah.

Karena itu, Bulukumba perlu membangun paradigma baru: Bulukumba harus menjadi kabupaten pengusaha.

Kabupaten pengusaha bukan berarti semua orang harus menjadi pengusaha. Maksudnya adalah membangun ekosistem yang memungkinkan masyarakat yang ingin berusaha dapat memulai usaha, memperoleh pembiayaan, mendapatkan pasar, naik kelas, membangun perusahaan, dan pada akhirnya menciptakan lapangan kerja.

Ukuran keberhasilan ekonomi daerah karena itu tidak cukup hanya melihat pertumbuhan PDRB. Kita juga perlu bertanya: berapa banyak pengusaha baru yang lahir, berapa banyak perusahaan baru yang tumbuh, berapa banyak UMKM yang naik kelas, berapa besar investasi yang masuk, berapa banyak lapangan kerja tercipta, dan berapa besar nilai tambah yang tinggal di Bulukumba?

Saya membayangkan Bulukumba memiliki target 1.000 pengusaha baru dalam beberapa tahun ke depan, sekaligus mendorong lahirnya 100 perusahaan baru setiap tahun. Target ini bukan sekadar angka, melainkan simbol bahwa ekonomi Bulukumba harus terus melahirkan pelaku ekonomi baru.

Gerakan itu dapat dimulai dari gagasan Satu Keluarga Satu Pengusaha. Tidak semua harus membangun perusahaan besar. Sebuah keluarga dapat memulai dari usaha makanan, perdagangan, jasa, pertanian, perikanan, industri rumahan, ekonomi kreatif, maupun bisnis digital. Yang penting adalah membangun budaya produktif dan keberanian menciptakan nilai ekonomi.

Kita juga perlu mengubah cara pandang terhadap pedagang dan pelaku usaha kecil. Banyak usaha bermula dari aktivitas sederhana, tetapi harus memiliki jalan untuk berkembang dari pedagang menjadi pengusaha: memiliki pembukuan, legalitas, merek, tenaga kerja, pasar yang lebih luas, dan sistem bisnis yang sehat.

Karena itu, agenda UMKM naik kelas harus menjadi bagian penting pembangunan ekonomi. Pengusaha kecil membutuhkan lebih dari sekadar pelatihan. Mereka membutuhkan legalitas, sertifikasi, kemasan, akses pasar, teknologi, pembiayaan, dan pendampingan.

Di sinilah pentingnya inkubator bisnis. Calon pengusaha dan pengusaha pemula perlu didampingi sejak menemukan ide, menguji produk, menghitung biaya, membangun pasar, mengurus legalitas hingga mengembangkan usaha.

Akses pembiayaan juga harus diperkuat. Banyak usaha memiliki produk dan pasar, tetapi sulit berkembang karena keterbatasan modal. Pemerintah, dunia usaha dan lembaga keuangan dapat membangun ekosistem yang mempertemukan pengusaha dengan perbankan, koperasi, lembaga pembiayaan dan investor sesuai ketentuan.

Generasi muda harus menjadi bagian penting dari masa depan ekonomi Bulukumba. Kita membutuhkan pengusaha muda yang mampu membangun bisnis berbasis teknologi, pertanian modern, industri kreatif, pariwisata, maritim dan sektor-sektor baru. Demikian pula perempuan pengusaha perlu mendapat akses yang lebih luas terhadap modal, pasar, teknologi, pendampingan dan jaringan bisnis.

Era digital juga tidak boleh dilewatkan. Digitalisasi dan pemanfaatan artificial intelligence (AI) dapat membantu usaha kecil dalam pemasaran, pelayanan pelanggan, pencatatan keuangan, pembuatan konten, analisis pasar dan efisiensi operasional.

Namun, pengusaha tidak bisa tumbuh sendirian. Kita membutuhkan kemitraan perusahaan besar dengan UMKM. Setiap investasi besar yang masuk ke Bulukumba idealnya membuka peluang bagi pengusaha lokal menjadi pemasok, kontraktor, distributor, penyedia jasa maupun mitra produksi.

Karena itu, rantai pasok lokal harus diperkuat. Investasi dari luar daerah jangan hanya dihitung dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar peluang ekonomi yang tercipta bagi pengusaha lokal.

Hal yang sama berlaku pada pengadaan pemerintah. Pelaku usaha lokal yang memenuhi persyaratan perlu mendapatkan ruang untuk berpartisipasi sesuai ketentuan pengadaan barang dan jasa. Belanja pemerintah dapat menjadi salah satu penggerak ekonomi lokal dengan tetap menjaga transparansi dan persaingan sehat.

Lebih jauh, kita perlu membangun pengusaha lokal agar tidak hanya menjadi pelaku usaha, tetapi juga menjadi investor. Bulukumba membutuhkan pengusaha yang berani menanamkan modalnya kembali ke daerah: membangun hotel, kawasan perdagangan, industri pengolahan, pergudangan, pusat distribusi, agroindustri, industri maritim, dan berbagai sektor produktif lainnya.

Dari sini gagasan Satu Desa Satu Industri menjadi relevan. Setiap desa dapat didorong memiliki minimal satu industri atau produk unggulan berbasis potensi lokal yang dikembangkan secara serius. Bukan berarti setiap desa harus memiliki industri besar, tetapi setiap desa perlu menemukan potensi ekonominya, mengolahnya, meningkatkan nilai tambah, dan menghubungkannya dengan pasar.

Rumput laut jangan berhenti sebagai bahan mentah. Kelapa jangan hanya dijual sebagai komoditas. Hasil pertanian, perikanan, dan potensi lainnya harus semakin banyak diolah menjadi produk bernilai tambah.

Inilah inti hilirisasi: membawa ekonomi Bulukumba dari sekadar menghasilkan komoditas menjadi menghasilkan produk.

Untuk mendukung itu, Bulukumba membutuhkan kawasan perdagangan dan industri yang terintegrasi dengan produksi, pengolahan, pergudangan, logistik, pasar, dan infrastruktur pendukung. Dengan skala ekonomi yang lebih besar, investasi menjadi lebih menarik dan daya saing usaha dapat meningkat.

Di sisi pelayanan, pemerintah daerah perlu terus memperbaiki kemudahan berusaha. Saya melihat pentingnya Bulukumba Investment & Business Desk sebagai pintu koordinasi bagi investor dan dunia usaha. Fungsinya bukan mengambil alih kewenangan OPD, tetapi membantu menghubungkan, mengawal, dan mempercepat koordinasi sesuai aturan.

Gagasan ini dapat diperkuat melalui Bulukumba Investment & Business Forum yang diselenggarakan setiap tahun. Forum tersebut jangan berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi ruang mempertemukan pemerintah, investor, pengusaha lokal, perbankan, BUMD, dan UMKM untuk membahas peluang konkret, melakukan business matching, serta menghasilkan kerja sama yang dapat ditindaklanjuti.

Pada akhirnya, target kita bukan hanya agar pengusaha Bulukumba kuat di daerah sendiri. Kita harus mendorong Bulukumba Go National dan Go Export. Produk Bulukumba harus mampu keluar dari pasar lokal, masuk pasar nasional, dan bagi produk yang memenuhi standar, menembus pasar internasional.

Semua itu membutuhkan kolaborasi. Pemerintah menciptakan regulasi dan ekosistem. Dunia usaha menjadi motor aktivitas ekonomi. Perbankan menyediakan pembiayaan. Perguruan tinggi menghadirkan pengetahuan dan inovasi. Komunitas membangun jaringan. Masyarakat menjadi pelaku sekaligus penerima manfaat pembangunan.

Bulukumba tidak kekurangan potensi. Yang kita butuhkan adalah keberanian mengubah potensi menjadi skala ekonomi.

Kita ingin lebih banyak pengusaha lahir, perusahaan tumbuh, investasi masuk, industri berdiri, produk lokal menembus pasar nasional, dan lapangan kerja tercipta.

Bulukumba harus berani menjadi kabupaten pengusaha. Bukan karena semua orang harus menjadi pengusaha, tetapi karena daerah yang memiliki banyak pengusaha, perusahaan yang sehat, industri yang tumbuh, investasi yang masuk, dan pasar yang berkembang akan memiliki fondasi ekonomi yang semakin kuat.

Dari desa kita bangun usaha. Dari usaha kita lahir perusahaan. Dari perusahaan kita ciptakan lapangan kerja. Dari industri kita tingkatkan nilai tambah. Dari investasi kita bangun pertumbuhan.

Inilah saatnya Bulukumba tidak hanya dikenal sebagai daerah yang kaya potensi, tetapi sebagai daerah yang mampu mengubah potensi menjadi kemakmuran.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *