Kompak di Atas Kertas, Retak di Lapangan: Komunitas Jaga Jakarta Desak “Bersih-Bersih” Tim Pembantu Gubernur

JAKARTA – Komunitas Jaga Jakarta melontarkan kritik keras terhadap kinerja jajaran pembantu gubernur di lingkungan Pemprov DKI Jakarta. Ketua Umumnya, Bang Ulum, secara tegas mendesak gubernur untuk segera melakukan “bersih-bersih” terhadap staf gubernur dan tenaga ahli yang dinilai tidak produktif dan justru menjadi penghambat laju pemerintahan.

Menurut Bang Ulum, kondisi saat ini menunjukkan gejala stagnasi yang tidak bisa lagi ditoleransi. Alih-alih menjadi motor penggerak, sebagian pembantu gubernur justru dianggap kehilangan arah, minim terobosan, dan tidak memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Kalau hanya duduk di posisi strategis tanpa hasil konkret, itu bukan membantu, tapi membebani. Jakarta tidak punya waktu untuk orang-orang yang tidak produktif,” tegas Bang Ulum kepada wartawan, Jakarta, Kamis (16/4/2026) malam.

Tak berhenti di situ, ia juga membuka persoalan yang lebih serius: retaknya soliditas di internal tim pembantu gubernur. Bang Ulum menilai, ketidakakur-an antar sesama staf dan tenaga ahli sudah berada pada level yang mengkhawatirkan. Di lapangan, ego sektoral dan tarik-menarik kepentingan disebut semakin sering terjadi, hingga memicu tumpang tindih kebijakan.

“Ini bukan lagi sekadar tidak kompak, tapi sudah saling bertabrakan. Program bisa jalan di satu sisi, tapi dijegal di sisi lain. Kalau dibiarkan, ini bukan hanya memperlambat, tapi bisa merusak arah kebijakan gubernur,” ungkapnya tajam.

Ia menilai, kondisi tersebut mencerminkan lemahnya kepemimpinan di level pembantu gubernur dalam membangun koordinasi dan kesamaan visi. Akibatnya, banyak program berjalan tanpa sinergi, bahkan saling meniadakan satu sama lain.

Komunitas Jaga Jakarta pun mendesak agar gubernur tidak ragu mengambil langkah tegas. Evaluasi total, menurut Bang Ulum, harus segera dilakukan—bukan sekadar formalitas administratif, tetapi benar-benar menyasar individu yang tidak mampu bekerja secara profesional dan kolaboratif.

“Jakarta ini kota besar, problemnya kompleks. Kalau timnya tidak solid dan malah saling sikut, jangan harap ada percepatan. Yang ada justru kekacauan terselubung di balik meja birokrasi,” katanya.

Bang Ulum menegaskan, masyarakat membutuhkan tim yang tidak hanya pintar secara individu, tetapi juga mampu bekerja dalam satu irama. Ia mengingatkan, tanpa keberanian untuk melakukan penyegaran, gubernur berisiko terus disandera oleh tim yang tidak efektif.

“Ini soal keberanian. Mau mempertahankan kenyamanan segelintir orang, atau memilih kinerja untuk jutaan warga Jakarta,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *