Pesan Luhur Semar Menggema di Bekasi, Tanda Kebangkitan Nilai Adiluhung Nusantara

NUSANTARA — Dalam suasana penuh khidmat dan sarat makna kebudayaan, sebuah momentum simbolik terjadi pada Minggu, 15 Maret 2026. Tokoh budayawan Sumedang Larang, DR. Drs. Iwa Kuswaeri, M.M., menyerahkan sebuah wayang tokoh Semar kepada tokoh masyarakat Kabupaten Bekasi sekaligus Pinisepuh Komplek Percandian Batujaya, Abdul Halim. Penyerahan tersebut berlangsung di kediaman Abdul Halim di kawasan Perumahan Kota Legenda, Dukuh Bima, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, sebagai simbol amanah budaya dan tanggung jawab moral dalam merawat nilai-nilai kearifan Nusantara.

Wayang Semar bukan sekadar artefak seni pertunjukan, melainkan lambang kebijaksanaan rakyat, kerendahan hati, serta kepemimpinan yang berlandaskan kebajikan. Dalam tradisi pewayangan Nusantara, Semar digambarkan sebagai pengayom, penuntun, sekaligus penjaga keseimbangan antara kekuasaan dan kemanusiaan. Oleh sebab itu, penyerahan wayang ini dimaknai sebagai peneguhan nilai kepemimpinan moral yang berpijak pada kebudayaan bangsa, sejalan dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 32, yang menegaskan kewajiban negara untuk memajukan kebudayaan nasional di tengah peradaban dunia.

Tokoh budayawan Sunda selaku saksi hidup dalam penyerahan tersebut, R. Deni Gandasoebrata, dalam keterangannya menilai peristiwa ini sebagai simbol kesinambungan nilai-nilai adiluhung Nusantara. Menurutnya, Semar merupakan perlambang kebijaksanaan rakyat yang sederhana namun memiliki kedalaman spiritual dan moral.

“Wayang Semar adalah gambaran pemimpin yang tidak mengejar kemegahan, tetapi memikul amanah rakyat dengan kerendahan hati. Ketika simbol ini diserahkan kepada seorang tokoh masyarakat, sesungguhnya yang diserahkan bukan hanya benda budaya, tetapi pesan luhur agar pemimpin senantiasa berpihak pada kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan rakyat,” ujarnya kepada awak media, Minggu (15/3/2026).

Sementara itu, DR. Drs. Iwa Kuswaeri, M.M., menegaskan bahwa penyerahan wayang Semar kepada Abdul Halim yang dianggap sebagai salah satu Pinisepuh Komplek Percandian Batujaya, Karawang merupakan bentuk penghormatan sekaligus harapan agar nilai-nilai kebijaksanaan leluhur terus hidup di tengah masyarakat modern.

“Semar adalah lambang kesederhanaan yang sarat kebijaksanaan. Ia mengingatkan bahwa kekuatan sejati seorang pemimpin bukan terletak pada kekuasaan, melainkan pada kejujuran, kesetiaan kepada rakyat, serta keberanian menegakkan kebenaran. Saya berharap amanah budaya ini dapat dijaga dan diteruskan sebagai warisan moral bagi generasi mendatang,” ungkapnya.

Sebagai penerima amanah budaya tersebut, Abdul Halim menyampaikan rasa syukur dan tanggung jawab moral atas kepercayaan yang diberikan. Ia menegaskan bahwa simbol Semar menjadi pengingat agar setiap langkah kepemimpinan senantiasa berpijak pada nilai amanah, kejujuran, serta pengabdian kepada masyarakat.

“Amanah ini bukan sekadar kehormatan pribadi, tetapi tanggung jawab bersama untuk menjaga nilai-nilai budaya Nusantara. Semoga kehadiran simbol Semar ini menjadi pengingat bahwa seorang tokoh yang dituakan harus mampu menjadi penyejuk, penuntun, dan pelindung masyarakat,” tuturnya.

Secara hukum dan kebudayaan, upaya pelestarian nilai tradisi seperti ini juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang menekankan pentingnya pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, serta pembinaan kebudayaan sebagai fondasi jati diri bangsa. Dalam konteks tersebut, peristiwa penyerahan wayang Semar bukan sekadar seremoni simbolik, melainkan bagian dari ikhtiar merawat identitas kebangsaan yang berakar pada nilai-nilai luhur leluhur Nusantara. Imbuhnya.

Lebih jauh, peristiwa ini juga mengingatkan kembali pada jejak sejarah kejayaan peradaban di wilayah Bekasi dan Karawang yang dahulu menjadi bagian dari wilayah pengaruh Kerajaan Tarumanagara. Kerajaan kuno yang pernah berjaya di tatar Sunda ini dikenal sebagai salah satu tonggak awal peradaban Nusantara yang maju dalam bidang pemerintahan, budaya, dan spiritualitas. Oleh karena itu, semangat kebangkitan kejayaan Nusantara seringkali dimaknai sebagai upaya menghidupkan kembali nilai-nilai keadilan, kebijaksanaan, dan kemakmuran yang pernah menjadi ruh peradaban masa lampau. Pungkasnya.

Dengan demikian, penyerahan wayang Semar kepada Abdul Halim tidak hanya menjadi peristiwa budaya, tetapi juga pesan moral bagi masyarakat luas bahwa kebangkitan kejayaan Nusantara sejatinya dimulai dari kesadaran kolektif untuk merawat nilai-nilai kebijaksanaan leluhur. Dari tanah Bekasi yang pernah bersentuhan dengan kejayaan Tarumanagara, harapan akan kebangkitan peradaban Nusantara kembali menggema, bahwa bangsa besar adalah bangsa yang tidak melupakan akar budayanya, serta mampu menyalakan kembali cahaya kebijaksanaan dari masa lalu untuk menerangi masa depan.
(CP/red)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *