Silaturahmi Buka Puasa Ramadan, Bamsoet Soroti Ancaman Geopolitik dan Ajak Bangsa Perkuat Soliditas

JAKARTA — Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo, mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan momentum Ramadan sebagai sarana mempererat persatuan nasional. Dalam suasana buka puasa bersama lintas organisasi dan komunitas di Rumah Pergerakan Patiunus, Jakarta, Senin (2/3/2026), ia menekankan pentingnya soliditas bangsa di tengah tekanan global yang kian dinamis.

Menurut Bamsoet, eskalasi konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat berpotensi memicu gejolak ekonomi dunia. Indonesia, kata dia, harus bersiap menghadapi dampak lanjutan seperti kenaikan harga energi dan tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Konflik geopolitik di Timur Tengah bisa berimbas pada lonjakan harga minyak mentah dunia. Jika harga BBM meningkat, daya beli rakyat akan terpengaruh dan stabilitas ekonomi nasional ikut tertekan. Karena itu, persatuan dan ketahanan nasional harus kita perkuat,” ujar Bamsoet.

Ia juga mengingatkan agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang memanfaatkan situasi global untuk menyerang legitimasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, stabilitas politik domestik menjadi faktor kunci dalam menjaga kepercayaan pasar dan ketahanan ekonomi.

Dalam kesempatan tersebut, Bamsoet menyebut tradisi buka puasa bersama bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang dialog kebangsaan. Di bulan suci, berbagai kalangan—tokoh politik, pengusaha, aktivis, hingga komunitas kepemudaan—dapat duduk bersama tanpa sekat perbedaan.

“Ramadan mengajarkan empati dan pengendalian diri. Nilai ini penting dalam kehidupan berbangsa, terutama ketika kita menghadapi tekanan global. Dari silaturahmi, lahir komitmen untuk menjaga keutuhan NKRI,” katanya.

Ia menambahkan, dengan jumlah penduduk yang telah melampaui 284 juta jiwa pada 2025, mayoritas Muslim, Indonesia memiliki kekuatan sosial yang besar selama Ramadan. Aktivitas keagamaan dan ekonomi rakyat, khususnya sektor UMKM, meningkat signifikan dan menjadi penopang daya tahan ekonomi domestik.

Bamsoet mendorong agar kegiatan Ramadan diisi dengan dialog produktif, termasuk pembahasan penguatan ekonomi kerakyatan, peningkatan literasi digital, serta upaya memperkokoh toleransi. Menurutnya, konsolidasi nasional harus terus dijaga agar Indonesia mampu menghadapi ketidakpastian global dengan percaya diri.

“Jika energi kebersamaan ini kita rawat, Indonesia tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu bangkit lebih kuat menghadapi berbagai tantangan,” tutup Bamsoet. (Dwi)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *