Isra Mi’raj dan Kepemimpinan Nilai

Oleh : Lilis Sulastri | Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Isra Mi’raj tidak hanya diperingati sebagai peristiwa spiritual setiap tahun, namun sekaligus menjadi arsip sejarah kepemimpinan nilai dan narasi besar tentang bagaimana seorang pemimpin dibentuk, dikuatkan, dan diarahkan bukan oleh kemewahan kekuasaan, melainkan oleh kedalaman integritas. Dalam konteks bangsa hari ini, Isra Mi’raj relevan sebagai cermin etis bagi kepemimpinan publik yang sedang diuji oleh kompleksitas zaman. Peristiwa Isra Mi’raj terjadi setelah fase paling berat dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai ‘Aamul Huzn (tahun kesedihan). Wafatnya Khadijah dan Abu Thalib, penolakan keras di Thaif, serta tekanan sosial yang berlapis menempatkan Nabi pada situasi krisis total. Dalam perspektif kepemimpinan modern, inilah fase kehilangan dukungan, legitimasi, dan rasa aman. Namun yang menarik dari peristiwa ini adalah Allah tidak mengangkat Nabi dari penderitaan menuju kemegahan duniawi, melainkan menuju penguatan nilai. Pesannya sangat tegas, bagaimana kepemimpinan yang berkelanjutan tidak dibangun dari kemenangan instan, tetapi dari keteguhan moral.

Allah SWT berfirman: “Mahasuci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (QS. Al-Isra: 1). Menarik bahwa Al-Qur’an menyebut Nabi sebagai ‘abd yaitu hamba. Hal Ini menegaskan bahwa identitas tertinggi seorang pemimpin adalah pelayan nilai, bukan pemilik kekuasaan.

Isra Mi’raj dan Inti Kepemimpinan Nilai

Dalam kajian manajemen modern, dikenal konsep values-based leadership, yaitu kepemimpinan yang menjadikan nilai sebagai fondasi pengambilan keputusan, budaya organisasi, dan orientasi kebijakan. Isra Mi’raj telah mempraktikkan prinsip tersebut. Dalam peristiwa Mi’raj, Nabi tidak menerima mandat politik, tidak pula strategi dominasi. Yang diwajibkan adalah Salat, praktik keheningan, disiplin batin, dan kesadaran akan batas. Serta pesan simbolik yang sangat kuat, bahwa kepemimpinan publik hanya akan sehat jika ditopang oleh kepemimpinan diri. Allah SWT menegaskan: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45). Salat dalam konteks kepemimpinan adalah mekanisme pembentukan integritas, pengendali ego, penjernih niat, dan pengingat akuntabilitas. Tanpa integritas, kekuasaan mudah tergelincir menjadi alat kepentingan sesaat.

Dalam filsafat politik dan etika kepemimpinan, kekuasaan tidak pernah netral. Dan selalu bergerak ke dua arah, yakni membangun peradaban atau sebaliknya. Karena itu, kepemimpinan sejati tidak selalu diukur dari kemampuan mengendalikan orang lain, tetapi dari kemampuan mengendalikan diri dan orientasi nilai. Isra Mi’raj menegaskan pentingnya kesadaran transenden dalam kepemimpinan, suatu kesadaran bahwa kekuasaan memiliki batas, bahwa manusia bukan pusat segalanya, dan bahwa setiap keputusan publik harus dapat dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada publik, tetapi juga kepada nurani dan Tuhan. Rasulullah SAW mempraktikkan kepemimpinan nilai melalui tiga pilar utama: amanah, keadilan, dan kemaslahatan. Ketiganya bukan sekadar konsep normatif, tetapi prinsip operasional dalam pengambilan keputusan. Inilah sebabnya kepemimpinan beliau tidak hanya efektif secara sosial, tetapi juga bertahan secara moral.

Teladan Rasulullah: Kepemimpinan Nilai yang Membumi

Keteladanan Rasulullah SAW sebagai pemimpin tidak berhenti pada kesalehan personal, tetapi terwujud nyata dalam praktik sosial dan kenegaraan. Pertama, kepemimpinan berbasis amanah. Rasulullah dikenal sebagai Al-Amin jauh sebelum memimpin umat. Kepercayaan publik dibangun melalui konsistensi moral, bukan pencitraan, dan menjadi pelajaran penting bagi pemimpin modern dimana legitimasi sejati lahir dari rekam jejak etis. Kedua, kepemimpinan yang adil dan inklusif. Melalui Piagam Madinah, Nabi membangun tata kelola masyarakat majemuk dengan prinsip keadilan, perlindungan hak, dan tanggung jawab bersama. Contoh teladan strategis bagi bangsa plural seperti Indonesia dimana persatuan hanya kokoh jika keadilan dijadikan fondasi. Allah SWT mengingatkan: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, sekalipun terhadap dirimu sendiri.” (QS. An-Nisa: 135). Ketiga, kepemimpinan yang empatik dan visioner. Rasulullah memimpin dengan mendengar, memaafkan, dan merangkul, bahkan kepada mereka yang pernah menyakitinya. Ini menunjukkan bahwa kepemimpinan nilai bukan kelemahan, melainkan kekuatan jangka panjang.

Refleksi pada Kebijakan Nasional yang Berbasis Nilai

Dalam konteks kebangsaan hari ini, kepemimpinan nilai dapat kita lihat dan tercermin dalam berbagai kebijakan nasional yang menekankan keadilan sosial, keberlanjutan, dan pelayanan publik, terlepas dari berbagai dinamika politiknya. Misalnya, kebijakan pembangunan sumber daya manusia melalui penguatan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial. Pendekatan ini menunjukkan kesadaran bahwa kemajuan bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari kualitas manusia dan keadilan akses. Ini sejalan dengan prinsip kepemimpinan Rasulullah yang memuliakan manusia sebagai pusat peradaban.

Demikian pula kebijakan reformasi birokrasi dan penguatan tata kelola pemerintahan yang menekankan transparansi, akuntabilitas, dan pelayanan. Upaya membangun sistem yang lebih bersih dan melayani mencerminkan semangat Amanah menjadi nilai utama dalam kepemimpinan Islam. Dalam menghadapi krisis global seperti pandemi, ketidakpastian ekonomi, atau perubahan iklim maka pendekatan kebijakan yang menekankan gotong royong, perlindungan kelompok rentan, dan keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan menunjukkan praktik kepemimpinan nilai yang relevan dengan pesan Isra Mi’raj. Tentu Nilai-nilai tersebut tidak selalu sempurna dalam implementasi, namun arah kebijakan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama adalah cerminan penting bahwa kepemimpinan bangsa terus berusaha dan berupaya bertumpu pada etika dan tanggung jawab moral.

Kepemimpinan Nilai di Tengah Tantangan Zaman

Tugas kepemimpinan hari ini tidak lah mudah karena menghadapi tekanan yang berlapis, era disrupsi teknologi, tuntutan transparansi publik, krisis global, serta polarisasi sosial. Publik tidak hanya membutuhkan pemimpin yang cakap secara teknokratis, tetapi pemimpin yang stabil secara moral. Isra Mi’raj memberi pesan optimistis bahwa krisis bukan alasan untuk menanggalkan nilai, sebaliknya dapat menjadi momen untuk meneguhkan dan menguatkan. Nabi kembali dari Mi’raj bukan sebagai sosok yang membalas luka, tetapi sebagai pemimpin yang semakin matang, sabar, dan berorientasi pada kemanusiaan. Bangsa yang dipimpin oleh figur-figur berintegritas akan memiliki daya tarik, kepercayaan, dan legitimasi di mata dunia. Isra Mi’raj mengajarkan bahwa hubungan vertikal yang sehat akan memperbaiki hubungan horizontal. Pemimpin yang jujur pada Tuhan dan nuraninya akan lebih adil pada rakyatnya. Dan pemimpin yang terbiasa reflektif akan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Allah SWT mengingatkan: “Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang wasath (adil dan seimbang).” (QS. Al-Baqarah: 143) Keseimbangan yang menjadi inti kepemimpinan nilai antara kekuatan dan kebijaksanaan, antara visi dan empati, antara target dan etika, antara kecepatan dan kehati-hatian

Penutup: Mi’raj Nilai untuk Kepemimpinan Bangsa

Isra Mi’raj adalah narasi penguatan, bukan pelarian. Nabi dinaikkan ke langit agar mampu kembali membenahi bumi. Inilah metafora kepemimpinan yang sangat relevan hari ini, bahwa pemimpin perlu naik secara moral agar mampu bekerja lebih membumi. Bangsa kita memiliki kekuatan sumber daya manusia, kecerdasan, dan potensi besar. Namun ada hal yang harus terus dirawat , yaitu kepemimpinan nilai, kepemimpinan yang berpijak pada integritas, etika, dan spiritualitas.

Teladan Rasulullah SAW menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat tidak harus keras, tidak harus eksklusif, dan tidak harus dominan. Pilihan untuk kuat karena jujur, adil, empatik, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama menjadi alternatif pilihan etis ditengah krisis kepercayaan yang melanda saat ini. Dan di tengah tantangan zaman, pesan Isra Mi’raj tetap relevan dan inspiratif, mengajarkan bahwa sejarah besar selalu ditopang oleh nilai besar. Bahwa kepemimpinan yang bertahan adalah yang setia pada amanah. Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan bahwa kekuatan sejati pemimpin terletak pada keberanian memegang nilai, bahkan ketika jalan semakin berat.

Bagi kepemimpinan bangsa hari ini, Isra Mi’raj adalah panggilan optimistis dan pesan harapan. Selama nilai dijaga, arah akan tetap jelas, selama etika menjadi penunjuk arah, kekuasaan akan tetap manusiawi. Dan sebagai bangsa besar yang sedang terus belajar menumbuhkan kepemimpinan nilai, kepemimpinan yang menguatkan, menyatukan, dan menumbuhkan harapan. Isra Mi’raj adalah undangan untuk melakukan mi’raj nilai, dengan menaikkan kualitas etika, integritas, dan kepekaan sosial dalam setiap keputusan publik. pada akhirnya Isra Mi’raj menemukan maknanya yang paling hidup, sebagai jalan yang menuntun bangsa untuk naik kelas secara moral, agar mampu melangkah lebih jauh secara peradaban.

Wallahu’a’lam bis showaab
Glasgow, Januari 2026

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *