Potensi Nasabah Haji Jadi Ceruk Besar bagi Perbankan Syariah

BOGOR – BELA RAKYAT – Industri perbankan syariah dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan yang sangat luas di Indonesia. Salah satu ceruk pasar yang dinilai potensial adalah layanan keuangan bagi masyarakat yang tengah mempersiapkan ibadah haji.

Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Ermarini, mengatakan besarnya jumlah penduduk muslim di Indonesia menjadi modal penting bagi pengembangan industri keuangan syariah. Kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan untuk keperluan ibadah haji juga dinilai menjadi peluang yang tidak boleh dilewatkan.

Bacaan Lainnya

Menurut Anggia, karakteristik ibadah haji yang erat dengan aspek spiritual membuat masyarakat memiliki pertimbangan tersendiri ketika memilih produk keuangan. Kondisi tersebut turut mendorong tingginya minat masyarakat menggunakan layanan perbankan syariah untuk tabungan haji.

“Nasabah haji itu besar sekali. Pilihannya memang karena haji sangat spesifik dengan spiritual, sangat spesifik dengan masalah ibadah. Masyarakat Indonesia lebih memilih untuk masuk ke tabungan hajinya melalui BSI,” ujar Anggia dalam Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VI DPR RI di Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (2/10/2026).

Politisi Fraksi PKB itu melihat potensi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah tidak hanya terbatas pada produk tabungan haji. Menurutnya, masih banyak ruang yang dapat dimanfaatkan pelaku industri untuk memperluas akses masyarakat terhadap layanan finansial berbasis syariah.

“Potensi perbankan syariah atau finansial syariah di Indonesia sebenarnya besar sekali. Masih ada peluang yang terbuka lebar yang bisa diambil oleh BSI dan BSN,” kata Anggia.

Ia menilai pertumbuhan layanan perbankan syariah perlu diikuti dengan inovasi produk dan peningkatan akses. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memiliki pilihan produk yang sesuai dengan kebutuhan keagamaannya, tetapi juga memperoleh layanan keuangan yang kompetitif dan mudah dijangkau.

Anggia juga melihat perkembangan perbankan syariah dalam konteks yang lebih luas. Menurut dia, pilihan antara layanan keuangan konvensional dan syariah kini semakin terbuka, bukan hanya di Indonesia tetapi juga secara global.

“Saya pikir perbankan syariah itu menjadi masa depan karena secara global pun pilihan bagi masyarakat untuk memilih konvensional atau syariah merupakan pilihan yang menarik, khususnya bagi masyarakat muslim,” ujarnya.

Karena itu, Anggia mendorong pelaku industri perbankan syariah, termasuk BSI dan BSN, terus membaca kebutuhan masyarakat. Pengembangan produk yang relevan dengan kebutuhan umat dinilai dapat memperkuat posisi industri syariah sekaligus memperluas inklusi keuangan.

Besarnya pasar muslim Indonesia, ditambah kebutuhan pembiayaan dan layanan keuangan untuk aktivitas keagamaan, menurut Anggia merupakan peluang strategis yang harus dikelola secara serius. Perbankan syariah diharapkan tidak hanya tumbuh dari sisi jumlah nasabah, tetapi juga mampu memberikan layanan yang semakin berkualitas.

Dengan potensi tersebut, sektor perbankan syariah dinilai memiliki prospek jangka panjang. Segmen tabungan haji menjadi salah satu pintu masuk yang kuat untuk memperluas penggunaan layanan keuangan syariah di tengah mayoritas penduduk Indonesia yang beragama Islam.

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *