JAKARTA – Eks Komandan Koordinator Pengurus Pusat Brigade Gerakan Pemuda Islam (Korpus Brigade PP GPI), […]
KARAWANG — Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah, tokoh masyarakat Bekasi yang juga Ketua MPC Pemuda […]
Berita Terkait
Suara Rakyat
Bela Rakyat
Cerpen: Akhirnya Engkau Tak Menjelma
Aku positif. Berbaik sangka. Dan, dari jendela di balik kaca ini, aku membaca buku sambil menulis untukmu saat kulihat kau masih berdiri. Tidak berlari. Sebab di situ, saat kubayangkan tanganku mengkepang rambutmu yang terurai syahdu. Hujan tak menghentikan lambaian tanganmu dan akhirnya membuat diriku, lara bin paria. Sisa hidup ini tumpukan dua itu tak bosan–bosan menghampiri, menggumuli diriku. Purwokerto. Kediri. Jogjakarta. Jakarta. Adalah kota–kota yang mengada. Di semua terbitlah bayang–bayang jiwa. Antara ada dan tiada. Senyum manismu membelenggu. Tipis–tipis kudengar suara tangis. Rasa bertambah resah. Tegar–tegar kumaki diriku. Bila ingat akan cintamu hanya untukku lewat sumpah serapahmu. Sampai kini. Bukan kamu tak cinta padaku. Tapi jiwamu seakan ilusi yang mendebu di buku-buku. Detik ini. Bukan kamu tak sayang diriku. Tapi harummu habis terbawa ombak setinggi ketakutan–ketakutan. Maka engkau tak menjelma kesungguhan dan kenyataan. Kasih. Jika di negaramu sudah dikirim virus, bencana, kehancuran moral dan kenajisan elite tetapi tidak ada tobat nasional; tidak ada revolusi; tidak ada kudeta dan rakyat tak anarkhis karena KKN jadi tradisi maka kiyamatlah yang akan menghentikannya. Kasih yang tak menjelma. Apa iya Indonesia masih tanah air beta? Negeri yang dulu menjadi pusaka abadi nan jaya. Apa iya Indonesia sejak dulu kala masih tetap dipuja–puja bangsa lain? Bukankah menjadi produsen budaknya budak bangsa–bangsa imperial dunia? Apa iya di sana tempat lahir beta? Negeri di mana kami dibuai dibesarkan bunda. Apa iya negeri itu masih tempat berlindung di hari tua? Rasanya kok makin gelap–gulita bersama penjajah lokal yang kencing di istana. Apa iya masih tempat akhir menutup mata kami yang dipalak elite setiap masa? Bukankah jargon saya indonesia saya pancasila hanya bualan saja? Aku rindu yang sebaliknya. Kasih yang entah di mana. Tanpamu aku berzina dengan buku. Tanpamu aku menyetubuhi perpustakaan. Menangis berbantalkan skripsi, tesis dan disertasi. Tanpamu aku memeluk jurnal–jurnal. Ya. Ini soal perasaan. Soal keberpihakan. Bersama para begundal, kamu ceria. Jalan berdampingan. Mesra mengutil dana rakyat; memalak warganegara. Indonesia kini terpuruk tak pernah ada tujuan kecuali menternak kebiadaban kaum kaya. Senyumku untukmu ini berisi analisa dan cara menikam mereka. Yang bukan hanya membelah malam; menguliti cara mereka mencuri; mengungkap cara mereka menipu kita semua. Tentu agar mendung yang selalu datang tak membuat banjir kepedihan; memelihara penghianatan dan keculasan. Oleh: Prof Yudhie Haryono, PhD, […]
‘Pengajian Rutin Gabungan Kaum Disabilitas akan Digelar di Masjid Umar bin Al Khattab’
Ketua DKM Masjid Umar bin Al Khattab menyampaikan Ust Ajad Sudrajat akan menggelar pengajian rutin […]
Istri Kedua, Berapa Bagian Waris dari Suami Meninggal Dunia?
Seorang laki-laki memiliki dua orang istri, namun telah bercerai dengan istri keduanya. Tetapi belum habis […]
Kiai 212 Terseret Kasus Predator Seks, Ketua FKUB Sumenep: Ya Jabbar Ya Qohhar
SURABAYA – Luar biasa godaan setan tak melihat siap orangnya baik ulama atau kiai kadang […]
Habib Aboe Minta Berhati-hati Susun Program Prioritas untuk Pemuda Indonesia
JAKARTA – Sekretaris Jenderal (Sekjen)DPP PKS Habib Aboe Bakar Al-Habsyi menyampaikan perlu menyusun sejumlah kegiatan […]
Amin Desak Pemerintah Perbaiki Sistem Rekrutmen Pegawai BUMN
JAKARTA – Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak meminta pemerintah mengevaluasi […]
PT Adhi Karya Berkontribusi Bagi Pembangunan Ibu Kota Negara
BALI – Komisi VI DPR RI Putu Supadama Rudana menuturkan PT Adhi Karya memiliki kontribusi […]
Sistem Pemilu Wilayah Legislasi, Bukan Wilayah Kekuasaan Kehakiman
Judicial Review terkait system pemilu yang saat ini berlangsung di Mahkamah Konstitusi melahirkan pertanyaan mendasar […]
Aktivis 98 Syukri Rahmatullah Himbau Milenial Sambut Perubahan Bonus Demografi
JAKARTA – Aktivis 98 Syukri Rahmatullah, menjadi pemateri dalam diskusi yang diadakan DPP KNPI yang […]










