Type to search

Pemerintahan Umum

HUT ke-74 TNI: Tentara Kuat karena Bersama Rakyat

Share
Dirgahayu TNI Indonesia

Hari ini (Sabtu, 5/10/2019) bertepatan HUT ke-74 TNI. Upacara dan parade defile pun digelar di sejumlah tempat sebagai bentuk dalam rangka peringatan hari lahir tentara.

Di Jakarta HUT ke-74 TNI digelar di Lanud Halim Perdanakuma. Kegiatan itu sangat meriah. Di mana pada kegiatan itu ada atraksi kemampuan bela diri untukbela rakyat dari prajurit dengan menampilkan kejanggihan alutista TNI yang dimiliki.

Bercerita soal TNI tak jauh dari rakyat. TNI dibuat untuk bela rakyat. Di mana saat mempertahankan kemerdekaan Indonesia, banyak rakyat membentuk laskar-laskar perjuangan sendiri atau badan perjuangan rakyat secara spontan.

Upaya rakyat itu untuk menjaga kemerdekaan dan kedaulatan rakyat. Kemudian oleg pemerintah Indonesia terus melakukan penyempurnaan tentara kebangsaan, itu terus berjalan.

Sejarahnya, ambil bertempur dan berjuang untuk menegakkan kedaulatan dan kemerdekaan bangsa Indonesia, pemerintah mempersatukan dua kekuatan bersenjata yaitu TRI sebagai tentara regular dan badan perjuangan rakyat. Sehingga tepatnya tanggal 3 Juni 1947 oleh Presiden Soekarno mengesahkan berdirinya Tentara Nasional Indonesia (TNI) secara resmi di republik ini. Semua itu karena cinta NKRI.

Seiring usai Konferensi Meja Bundar (KMB) Desember 1949, Indonesia diubah menjadi negara federasi dengan nama yang baru Republik Indonesia Serikat atau dikenal RIS. Usai itu dibentuk Angkatan Perang RIS (APRIS) dari gabungan TNI dan KNIL.

Tepatnya 17 Agustus 1950, RIS dibubarkan dan Indonesia kembali menjadi negera kesatuan, sehingga APRIS berganti menjadi Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI).

Namun, di tahun 1962, ada upaya penyatuan angkatan perang dengan kepolisian negara dalam organisasi  Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau ABRI. Penyatuan satu komando ini dilakukan untuk mencapai tingkat efektivitas dan efisiensi.

Di tahun 1998 terjadi perubahan kembali dengan situasi politik di Indonesia saat itu. Tepatnya 1 April 1999 TNI dan Polri secara resmi dipisah menjadi institusi yang berdiri sendiri. Di manaABRI sebagai tentara dikembalikan menjadi TNI, sehingga Panglima ABRI berubah menjadiPanglima TNI.

Kembali pada peringatan HUT ke-74 TNI, ada pesan hari ini dari Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) yang baru dilantik.

Bagi Ketua MPR itu bahwa, “TNI dan Rakyat Harus Bersatu Jadi Benteng Kedaulatan Bangsa”. Begitu pesannya.

Menurut Bamsoet, NKRI masih mendapatkan ancaman dari gerakan radikalisme, terorisme dan intoleransi yang bisa meruntuhkan Pancasila sebagai ideologi bangsa. Untuk itu TNI dengan melibatkan seluruh rakyat Indonesia untuk bersatu menjadi benteng kedaulatan bangsa yang terakhir.

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo menegaskan, Indonesia masih mendapat ancaman serius berupa gerakan radikalisme, terorisme dan intoleransi yang berupaya meruntuhkan Pancasila. Karena itu TNI dan seluruh rakyat Indonesia harus bersatu padu menjadi benteng kedaulatan bangsa.

“Kita sebagai bangsa perlu waspada pada kegiatan yang bisa meruntuhkan Pancasila sebagai ideologi negara. Itu bisa mengganggu keutuhan NKRI. TNI dan seluruh rakyat Indonesia harus bersatu menjadi benteng kedaulatan bangsa Indonesia,” kata Bamsoet pada peringatan HUT ke-74 TNI di Jakarta, Sabtu (5/10/2019) kepada wartawan.

Mantan Ketua DPR RI ini, dunia saat ini tidak semata sedang berubah, tapi sedang terdisrupsi. Di masa disrupsi inilah kemapanan bisa runtuh dan ketidakmungkinan bisa terjadi, dan arus komunikasi serta interaksi harus dimanfaatkan sekaligus diwaspadai.

“Kita sebagai bangsa tidak boleh takut terhadap keterbukaan ini. Tetapi, pada saat yang sama kita harus meningkatkan kewaspadaan. Kemudahan arus komunikasi dan interaksi bisa menjadi ancaman terhadap ideologi bangsa, Pancasila. Banyak ancaman terhadap tradisi dan seni budaya kita, ada ancaman pada warisan kearifan-kearifan lokal bangsa kita,” ungkap Bamsoet.

Politisi senior Golkar ini juga mengingatkan, saat ini masih ada gerakan radikalisme, terorisme dan intoleransi yang mengancam Pancasila dan keutuhan NKRI. Ia menggambarkan, sejak Indonesia merdeka, ideologi Pancasila selalu dirongrongan dari dan luar.

“Berbagai bauran ancaman militer dan nonmiliter mendorong terciptanya dilema geopolitik dan geostrategis global yang sulit diprediksi dan diantisipasi oleh kita. Untuk itu TNI perlu membenahi diri dan berubah agar lebih baik menuju TNI yang profesional untuk menjaga Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” kata Bamsoet.

Tak hanya itu, Bamsoet juga mengajak generasi muda mengamalkan nilai-nilai Pancasila dengan semangat gotong royong demi keutuhan NKRI kita semua.

Pesan Bamsoet, Tak boleh ada satu golongan mana pun yang mengganggu Empat Pilar MPR RI: Pancasila, UUD Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

“Saat ini tidak ada lagi pilihan kecuali memperkuat benteng ideologi Pancasila kita. Itu bentuk dari implementasi dari nilai Empat Pilar MPR RI telah terbukti bisa mereduksi potensi pemecah persatuan yang diakibatkan oleh radikalisme, terorisme, inteloransi, dan sikap individualisme,” ujar Bamsoet.

Senada dengan Ketua MPR, Presiden Jokowi sekaligus bertindak sebagai inspektur upacara. Isi sambutan Jokowi, mengajak semua elemen bangsa Indonesia, untuk memberikan penghargaan khusus, kepada para prajurit TNI yang gugur saat menjalankan tugasnya di tengah rakyat. Semua itu untuk tegaknya kedaulatan rakyat di negara NKRI ini.

Kata Jokowi, TNI selalu ada di baris paling depan menjaga rakyat. TNI dikenal tidak pernah menyerah menjaga kepentingan nasional. TNI hanya mengedepankan kepentingan rakyat khususnya bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi juga keluarga. Termasuk Kelompok dan golongan. Semoga.

“Kami (selaku Presiden RI) juga menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran TNI selalu sigap membantu rakyat di wilayah yang terkena bencana alam. Termasuk kebakaran hutan beberapa waktu lalu,” kata Jokowi dalam sambutannya Sabtu (5/10/2019) tadi pagi.

Tak sampai di situ, Jokowi juga memuji setinggi-tingginya peran TNI menjaga dan membela kedaulatan rakyat saat pemilu serentak 2019 lalu. Serta apresiasi kepada TNI, yang aktif menjaga kelancaran dan keamanan pemilu serentak tahun 2019. Termasuk TNI sangat membanggakan ada tiap tugasnya kePBB di penjuru dunia.

“TNI selalu memastikan diri hadir membela negara di daerah-daerah terpencil, termasuk di perbatasan dan di pulau terdepan dan terluar Indonesia,” kata Jokowi.

Tak lupa juga Jokowi menyampaikan bangga dengan ucapan selamat atas keberhasilan prajurit TNI juara pada lomba menembak Asean. Di mana pada lomba menembak di Australia TNI berhasil menjadi juara 12 kali berturut-turut. Luar biasa.

“Atas nama bangsa Indonesia, izinkan saya menyampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada institusi TNI dan seluruh prajurit dan purnawirawan TNI,” terang Jokowi bangga.

Tak hanya Jokowi bangga, rakyat Indonesia juga ikut bangga. Seperti pantauan di lokasi acara peringatan HUT TNI tadi, banyak masyarakat yang turut menyaksikan dan memeriahkan acara tersebut.

Di acara itu ada 6.806 personel turut serta dalam parade HUT TNI itu. Ada alutsista (Alat Utama Sistem Persenjataan) dikerahkan untuk memeriahkan parade HUT ke-74 TNI itu.  Sementara ada 157 unit pesawat udara yang berpartisipasi apdaperayaan kali ini.

Bagaimana pendapat mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo terkait HUT TNI tahun ini? Bagi Gatot,  TNI dan Polri itu satu dalam kesatuan. Karenanya, jangan mudah dibenturkan dengan konflik apa pun.

Menurut Gatot, keduanya TNI Polri memiliki peran penting bagi rakyat: bangsa dan negara. 

Alasan itu, kedua pihak, baik TNI maupun Polri tak boleh terprovokasi dengan mudah dari masalah apa pun. Keduanya, harus menjaga daya persatuan TNI Polri dalam melindungi negara.

“Jangan (TNI Polri) mau dibenturkan,” terang Gatot usai peringatan HUT TNI di Taxy Way Echo Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Sabtu (5/10/2019).

Pada kesempatan itu, Gatot mengibaratkan Polri sebagai tangan kanan Presiden. Adapun, tangan kiri Presiden yaitu TNI.

“Tapi pada kondisi tertentu yang sangat darurat, TNI itu tangan kanan Presiden dan begitu sebaliknyaPolri tangan kiri Presiden. Jika dibenturkan keduanya maka Presiden kita akan kehilangan kedua tangannya untuk bekerja untuk rakyat,” jelas Gatot. 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *