DPR Minta Standar Keselamatan Karhutla Dievaluasi Total

JAKARTA – BELA RAKYAT – Rentetan korban jiwa akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mendapat sorotan keras dari DPR RI. Anggota Komisi IV DPR RI Daniel Johan mempertanyakan komitmen pemerintah dalam menjamin keselamatan petugas lapangan dan warga.

Sorotan ini mencuat setelah tragedi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. Empat orang gugur saat upaya pemadaman, terdiri dari dua relawan Manggala Agni dan dua petugas Balai Besar TNBTS. Selain itu, satu warga Samarinda, Kalimantan Timur juga meninggal dunia.

Bacaan Lainnya

“Kami sangat berduka. Kehilangan nyawa petugas dan relawan di Bromo adalah pukulan berat. Ini tidak boleh dianggap sebagai risiko biasa dalam tugas,” ujar Daniel di Jakarta, Rabu (21/10/2026).

Berdasarkan laporan, api bermula dari lahan pertanian warga di Blok Pusung Dawa, Desa Ngadirejo, Probolinggo, yang berbatasan langsung dengan kawasan taman nasional. Karena lokasi sulit dijangkau dan minim sumber air, pemadaman terpaksa dilakukan manual dengan gebyok.

Situasi memburuk ketika angin kencang mengubah arah api secara tiba-tiba. Sejumlah personel terjebak di tengah kobaran. Tiga orang ditemukan meninggal di lokasi, satu orang lainnya meninggal di rumah sakit. Dua relawan lain mengalami luka bakar berat.

Daniel meminta Kementerian Kehutanan melakukan audit menyeluruh terhadap SOP penugasan di wilayah berisiko tinggi.

“Jangan asal kirim tim. Harus ada kepastian soal jalur evakuasi, prediksi angin, kepadatan asap, dan alat komunikasi. Komandan lapangan harus punya wewenang penuh untuk menarik pasukan jika kondisi sudah tidak aman. Nyawa adalah prioritas,” tegas Legislator Dapil Kalimantan Barat I dari Fraksi PKB itu.

Tragedi serupa juga terjadi di Samarinda. Seorang warga berusia 60 tahun berinisial LJ meninggal setelah mengalami luka bakar 60 persen saat mencoba memadamkan api bersama warga lain pada Selasa (13/10). Ia sempat dirawat di RSUD Abdoel Wahab Sjahranie sebelum menghembuskan napas terakhir.

Daniel menilai kejadian ini menunjukkan warga dipaksa melawan api tanpa peralatan dan pelatihan yang layak.

Di lokasi berbeda, di Palaran, Samarinda, seorang balita berusia satu tahun meninggal dunia pada Kamis (15/10) setelah mengalami sesak napas. Keluarga menduga balita tersebut terpapar asap karhutla yang pekat, meski penyebab pastinya masih menunggu hasil pemeriksaan medis.

“Pertanyaannya, sampai kapan nyawa warga dipertaruhkan karena hutan dan lahan terus dibakar untuk kepentingan ekonomi segelintir orang? Hampir setiap hari kita dengar kabar buruk karhutla,” ujarnya.

Ia juga menyoroti kualitas udara yang sudah masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya di Palangka Raya dan beberapa daerah Kalimantan berdasarkan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Dampaknya bahkan sudah memicu protes dari negara tetangga yang terdampak kabut asap lintas batas.

Selain itu, Daniel mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai fenomena cuaca ekstrem ganda. Mengutip peringatan BRIN, Indonesia berpotensi menghadapi kekeringan dan hujan ekstrem secara bersamaan akibat El Nino Godzilla, diperparah dengan kondisi hutan penyangga yang habis terbakar dan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS).

“Kalau hutan habis terbakar, begitu hujan ekstrem datang, yang terjadi adalah banjir bandang dan longsor seperti di Sumatera. Ini harus diantisipasi dari sekarang,” tutupnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *