Di Balik “Marwah Bali”: Antara Ketulusan Krama, Tekanan Zaman, dan Ujian Kepemimpinan

DENPASAR – Narasi tentang “menjaga marwah Bali” kerap digaungkan dalam berbagai forum resmi. Namun di balik itu, tersimpan dinamika yang lebih kompleks: antara ketulusan krama Bali merawat warisan leluhur dan tantangan nyata yang kian menguat akibat modernisasi serta tekanan ekonomi.

Anggota DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta, mengungkap bahwa kekuatan utama Bali selama ini justru terletak pada masyarakat adatnya yang masih setia menjalankan tradisi, bahkan di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.

“Bali itu tetap berdiri karena ketulusan krama-nya. Mereka tidak dibayar untuk ngayah, tidak diminta secara formal, tapi ada rasa jengah kalau tidak ikut menjaga tradisi,” ujar Parta.

Ketulusan yang Tak Selalu Terlihat

Dalam praktiknya, kehidupan budaya Bali berjalan hampir tanpa jeda. Upacara adat, ritual keagamaan, hingga kegiatan banjar terus berlangsung sepanjang tahun. Namun, di balik itu, terdapat konsekuensi waktu, tenaga, bahkan biaya yang tidak kecil bagi masyarakat.

Banyak krama harus membagi waktu antara pekerjaan utama dan kewajiban adat. Tidak sedikit pula yang harus mengeluarkan biaya pribadi demi menjaga kesinambungan tradisi.

“Mengatur jadwal, mencari waktu untuk tetap terlibat dalam kegiatan adat, itu adalah perjuangan nyata. Ini bukan romantisme budaya, ini realitas yang dijalani setiap hari,” tegasnya.

Tekanan Modernisasi dan Pariwisata

Di sisi lain, geliat pariwisata dan pembangunan ekonomi menghadirkan dilema tersendiri. Bali dihadapkan pada arus investasi, pembangunan infrastruktur, hingga perubahan fungsi lahan yang berpotensi menggerus ruang hidup budaya.

Fenomena ini, menurut Parta, tidak bisa diabaikan. Ia menilai ada kecenderungan sebagian kebijakan lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tanpa mempertimbangkan daya dukung budaya.

“Kalau tidak hati-hati, kita bisa kehilangan keseimbangan. Budaya hanya jadi tontonan, bukan lagi tuntunan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pergeseran pola hidup generasi muda yang mulai terpengaruh gaya hidup global. Meski tidak sepenuhnya negatif, kondisi ini berpotensi menjauhkan mereka dari akar tradisi jika tidak diimbangi dengan penguatan nilai-nilai lokal.

Peran Pemimpin Dipertanyakan

Dalam konteks ini, Parta secara terbuka menekankan pentingnya keberanian pemimpin dalam menjaga arah pembangunan Bali. Menurutnya, menjaga marwah Bali tidak cukup hanya dengan retorika, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan nyata.

“Ada dua hal yang menentukan: ketulusan krama dan keberanian pemimpin. Kalau krama sudah menjaga dengan sepenuh hati, tapi pemimpinnya tidak tegas, maka keseimbangan itu akan goyah,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa kebijakan yang tidak berpihak pada pelestarian budaya bisa berdampak jangka panjang terhadap identitas Bali. Oleh karena itu, diperlukan keberanian untuk menetapkan batas dalam pembangunan.

Marwah Bali di Persimpangan

Konsep living culture yang selama ini menjadi kebanggaan Bali kini berada di persimpangan. Di satu sisi, budaya masih hidup dan dijalankan secara autentik oleh masyarakat. Di sisi lain, tekanan eksternal terus meningkat.

Parta menilai, menjaga marwah Bali ke depan membutuhkan pendekatan yang lebih serius dan terukur, bukan sekadar simbolik.

“Ini bukan hanya soal menjaga tradisi, tapi menjaga jati diri. Kalau marwah Bali hilang, maka Bali akan kehilangan maknanya,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh elemen, mulai dari pemerintah, tokoh adat, hingga generasi muda untuk kembali memperkuat komitmen bersama.

“Menjaga Bali itu kerja kolektif. Antara ketulusan masyarakat dan keberanian pemimpin harus berjalan seimbang. Kalau itu bisa dijaga, Bali akan tetap berdiri kuat di tengah perubahan zaman,” pungkas I Nyoman Parta.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *