Inilah kesempatan Pak Jokowi menyempurnakan membangun bangsa dengan mengembalikan Indonesia berbudaya nusantara. Hal tersebut merupakan […]
SUMENEP - Warga di Desa Karang Tengah, Kecamatan Gayam, Kabupaten Sumenep, Pulau Madura, Jawa Timur turun tangan […]
Berita Terkait
Suara Rakyat
Kategori: Suara Rakyat
Harga yang Tak Berharga
Renungan. Tesis dari keadaan. Saat negara absen, warga berlari ke tribus dan berlindung ke doa […]
Sejatinya Negara Jadi Penjaga Keadilan dan Kesejahteraan di NKRI
Bangsa ini ke depan perlu membangun masyarakat Indonesia yang memiliki akhlak, kemandirian politik dan ekonomi. […]
Kebiasaan Baik yang Harus Dibiasakan!
Sekitar lima menit sebelum ashar seorang teman sering menyengaja datang ke lantai 19 tempat kami […]
Founding Fathers Indonesia Sedih Melihat NKRI Hari Ini!?
Kalau saja para Founding fathers kita masih hidup, mungkin akan menangis melihat negara yang beliau-beliau […]
Revolusi Kita Berdasarkan Pancasila: Sejatinya Parpol Disederhanakan 3 Saja!
Cuplikan Amanat Presiden Soekarno (Bung Karno; Presiden Pertama RI) pada penutupan seminar Pancasila di Gedung […]
Lupakan Pemilu 2024, Kita Kembali ke UUD 1945 dan Pancasila
Mengganti UUD 1945 dengan UUD 2002 bukan amandemen ternyata bukan hanya merubah pasal-demi pasal, tetapi […]
Adat Istiadat dalam Catatan Kaum Eksistensialis
Dalam masyarakat Jawa ada kepercayaan yang mengatakan SAJATINE KANG ANA IKU DUDU. Yang tampak ada […]
Makna Ketuahan dan Keadilan dalam Pancasila
Belajar dari bagaimana bung karno melahirkan nasakom, maka dengan menempatkan pancasila sebagai philosofische groondslag, manusia indonesia ( apapun agama serta keyakinannya ) dituntut menghormati segala perbedaan sebagai sunatullah, bahkan pada ide dan gagasan yang anti pancasila itu sendiri. Tulisan lawas ini akan menanggapi gerombolan ‘muallaf pancasila‘ yang mengklaim diri paling pancasilais dan selalu berupaya meniadakan kelompok lainnya yang berbeda, melalui hukum laplace dalam ilmu aljabar Sebagai filsafat yang lahir dari budaya semak belukar pancasila merupakan upaya sebuah bangsa memahami akar keragaman pada ruang konkret dan menjadi suatu pola berpikir yang bergerak mengikuti hukum – hukum kesemestaan ( sunatullah ), cara hidup serta pandangan dunia yang filantrofis. Dengan demikian Pancasila membangun kesadaran manusia pentingnya keharmonisan dalam interaksi sosial, keselarasan dalam keragaman tradisi, persaudaraan ditengah perbedaan, sehingga membuat Ikatan – ikatan primodial yang ada terjalin sebagai konstiitutif dari keberadaan sebuah bangsa. Karakteristik tersebut pada gilirannya nanti akan membentuk pola berpikir yang mendekatkan kebenaran relatif pada kebenaran absolut. Agar bisa mendapatkan kebenaran yang pasti, tetap dan bisa diterima semua pihak dibalik yang tersembunyi pada pancasila, tak ada pilihan kecuali memahami pancasila melalui ilmu yang pasti bukan dengan logika miring ‘ilmu kira – kira‘. Dengan sifatnya yang maha adil maka sesungguhnya Tuhan merupakan dzat yang memberikan keseimbangan alam semesta. Oleh karena itu sila pertama pancasila menempatkan Tuhan pada titik keseimbangan 0,0 sehingga bila membentuk tangen 45 derajat kita menyebutnya sebagai Maha Sempurna. Posisinya pada titik 0,0 tersebut membangun pengertian mahaesa pada sila pertama bukan berarti satu, melainkan ” WAL AWALUN WAL AKHIRUN, tiada berawal dan tiada berakhir. Sifat mahaesa tersebut barulah bermakna satu ketika mengurangi 100 nama Tuhan menjadi 99 ( Asmaul Husna ) seperti yang umumnya orang ketahui. Dan kita mengucapkannya sifat Tuhan tersebut dengan lafaz ” Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ” : Tuhan adalah attitude waktu. Pemahaman sila pertama tersebut dapat menjawab pertanyaan tentang apa yang menjadi pengikat bangsa Indonesia ditengah begitu banyak perbedaan : Keyakinan pada Tuhan yang sama, yaitu Tuhan yang tidak berawal dan tidak berakhir serta kesadaran yang sama akan adanya keterlibatan Tuhan disetiap waktu kehidupan. Keyakinan dan kesadaran tersebutlah yang mengikat kita sebagai sebuah bangsa. Inilah makna Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Oleh: Habib Jansen Boediantono, Sebuah Tanggapan Untuk Gerombolan Muallaf Pancasila
Di balik Pesan Terselubung Soeharto Menjadikan 17 Agustus Sebagai HUT RI
Alkisah, bung Karno tak bersepakat sistem ketatanegaraan melibatkan partai apalagi diwarnai hura – hura pemilu. […]
Tidak Ada Pos Lagi.
Tidak ada laman yang di load.









