JAKARTA — Terbitnya buku “Inilah Prabowo, Apa Adanya” karya Arief Martha Rahadyan menandai hadirnya sebuah ikhtiar intelektual yang serius dalam memperkaya khazanah literasi politik nasional. Buku yang diluncurkan pada 2024 lalu di kawasan Matraman, Jakarta Timur ini diposisikan bukan sekadar sebagai narasi tokoh, melainkan sebagai ruang refleksi kritis untuk memahami kepemimpinan nasional secara lebih utuh, jujur, dan berimbang.
Arief Martha Rahadyan memandang buku ini sebagai kontribusi penting dalam membangun tradisi membaca politik yang sehat dan beradab. Menurutnya, diskursus tentang kepemimpinan kerap terjebak pada opini dangkal dan penilaian sesaat, sehingga publik kehilangan kesempatan untuk memahami latar historis, proses pembentukan karakter, serta nilai-nilai yang membentuk seorang pemimpin negara.
“Buku ini saya tulis untuk menghadirkan perspektif alternatif dalam melihat Prabowo Subianto sebagai Presiden ke-8 Republik Indonesia, tidak dalam bingkai glorifikasi, tetapi dalam kejujuran sejarah dan pengalaman hidupnya,” ujar Arief. Ia menekankan bahwa kepemimpinan tidak lahir dari ruang hampa, melainkan ditempa oleh disiplin, pengabdian, dan dinamika sosial yang panjang.
Dalam narasinya, Prabowo digambarkan sebagai seorang demokrat yang tumbuh dari kultur disiplin militer, sekaligus pemikir strategis yang kerap melampaui arus utama politik pragmatis. Dimensi ini, menurut Arief, jarang diungkap secara utuh dalam percakapan politik sehari-hari yang cenderung simplifikatif dan emosional.
Arief menegaskan bahwa Prabowo dipresentasikan sebagai figur yang tegas dalam nilai dan komitmen, namun memiliki perhatian serius terhadap nasib rakyat kecil. “Representasi yang berimbang ini penting agar publik tidak terus terjebak pada penilaian parsial, apalagi prasangka politik yang diwariskan tanpa proses berpikir kritis,” katanya kepada awak media, Jumat (30/1/2026).
Lebih jauh, Arief menyebut buku ini memiliki signifikansi edukatif yang kuat, khususnya bagi generasi muda. Ia berharap pembaca muda dapat menjadikan buku ini sebagai pintu masuk untuk memahami politik secara rasional, historis, dan etis, bukan sekadar sebagai arena konflik atau pertarungan kekuasaan semata.
Dalam kesempatan yang sama, Arief Martha Rahadyan juga mengajak masyarakat luas untuk menumbuhkan budaya membaca sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, literasi bukan hanya sarana transfer pengetahuan, tetapi instrumen pembentukan karakter, penguatan nalar kritis, serta pendalaman etika publik.
“Dari literasi lahir pemahaman, dari pemahaman tumbuh kebijaksanaan, dan dari kebijaksanaan terbentuk arah masa depan bangsa yang berdaulat dan bermartabat.” Pungkas Arief. Ia menilai, kemajuan bangsa mustahil terwujud tanpa tradisi membaca yang kuat dan berkelanjutan.
Buku “Inilah Prabowo, Apa Adanya” pun dinilai layak menjadi salah satu rujukan penting dalam memahami kepemimpinan nasional secara lebih mendalam dan objektif. Kehadirannya menjadi pengingat bahwa literasi adalah jalan strategis (meski kerap sunyi) dalam membangun Indonesia yang maju, berpengetahuan, dan beradab.
(CP/red)






